Tancap Gas! Holding BUMN Ultra Mikro Langsung Bidik 18 Juta Nasabah Baru

20 Agustus 2021 17:34 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

JAKARTA – Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Ultra Mikro membidik sebanyak 18 juta pelaku usaha menjadi nasabah baru. 18 juta pelaku usaha mikro tersebut sebelumnya tidak pernah tersentuh layanan keuangan formal.

Staf Ahli Bidang Keuangan dan Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kementerian BUMN Loto Srinaita Ginting mengatakan Holding ini memiliki tantangan besar. Pasalnya, pelaku usaha mikro dan kecil masih sulit mendapatkan akses pinjaman untuk pengembangann usahanya.

“Pelaku usaha ini ragu karena sudah banyak adanya perlakuan-perlakuan yang tidak memanusiakan yang sempat dilakukan oleh lembaga keuangan tidak terakreditasi. Mereka juga terkendala adanya biaya pinjaman yang tinggi,” ucap Loto dalam Webinar, Jumat, 20 Agustus 2021.

Dengan karakteristik yang ada, Loto menyebut Holding BUMN Ultra Mikro punya potensi besar dalam menggarap para pelaku usaha yang sebelumnya tidak mendapatkan akses keuangan tersebut. Biaya pinjaman yang selama ini menjadi batu sandungan bisa diselesaikan melalui PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).

BRI sendiri tercatat memiliki cost of fund yang lebih terjangkau dibandingkan bank lain, yakni hanya 3,5%. Tidak hanya itu, pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro di BRI memiliki batas bawah yang rendah sebesar Rp5 juta tanpa harus menyertakan agunan.

“Dengan waktu pinjaman yang bervariasi ini, BRI bisa memotori akses kredit para pelaku usaha mikro dan kecil agar bisa naik kelas,” ucap Loto.

Ada pula PT Pegadaian (Persero) yang diklaim Loto bisa menjadi solusi pembiayaan jangka pendek. Apalagi, Pegadaian sudah memiliki sebanyak 4.900 cabang dan 2.100 agen sehingga akses pembiayaan lebih mudah dijangkau pelaku usaha di berbagai daerah.

Sementara itu, PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM bakal difokuskan pada pinjaman kelompok (group lending). Meski begitu, Loto tidak menampik biaya operasional dari PNM masih lebih tinggi dibandingkan dua entitas Holding lainnya.

“Karena ini fokusnya di group lending  maka biaya operasionalnya masih cukup tinggi. PNM juga hadir di pendanaan dari perbankan dan obligasi, jadi memungkinkan adanya biaya yang tinggi tergantung dari rating penerbit obligasi tersebut,” jelas Loto.

12 Juta Pelaku Usaha Mikro

Holding ini selanjutnya bakal menyasar 12 juta pelaku usaha mikro dan kecil lain yang masih menerima akses layanan keuangan non-formal. Lebih rinci, sebanyak 5 juta pelaku usaha masih meminjam dana dari rentenir dan 7 juta lainnya mendapat pembiayaan dari kerabat.

Untuk diketahui, Holding BUMN Ultra Mikro ini telah mengantongi restu dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Izin Jokowi atas pendirian Holding ini termaktub dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor nomor 73 tahun 2021.

PP tersebut menjadi produk hukum yang memberikan izin Penyertaan Modal Negara (PMN) ke saham BRI melalui skema rights issue.

Negara akan menginbrengkan 99,99% saham seri B di Pegadaian sebanyak 6,24 juta lembar. Sementara itu, BRI juga berhak atas pengalihan seluruh saham seri B di PNM.

Adapun pelaksanaan inbreng saham ini bakal digelar pada September 2021. Dengan adanya entitas ini, BRI menargetkan bisa kredit UMKM bisa menguasai 85% dari total penyaluran kredit.

Adapun porsi kredit UMKM di BRI per semester I-2021 masih sebesar 80,26%. Lebih makro lagi, Holding BUMN Ultra Mikro menjadi alat utama menggenjot rasio kredit UMKM di seluruh bank menjadi 30% pada 2024.

Berita Terkait