Taliban Klaim Perempuan Bisa Belajar di Perguruan Tinggi dengan Kelas yang Harus Dipisahkan

14 September 2021 06:33 WIB

Penulis: Fadel Surur

Editor: Rizky C. Septania

Kabul - Perempuan di Afghanistan akan diizinkan untuk belajar di perguruan tinggi setelah negara itu sedang berusaha bangkit kembali akibat peperangan yang berlangsung selama beberapa dekade. Meski begitu, pemisahan gender dan aturan berpakaian Islami akan menjadi kewajiban, kata Menteri Pendidikan Tinggi Taliban yang baru pada hari Minggu.

Menteri Abdul Baqi Haqqani mengatakan pemerintahan Taliban yang baru diberi nama minggu lalu, akan mulai membangun dari apa yang ada saat ini dan tidak akan memutar waktu ke 20 tahun lalu ketika gerakan itu kali terakhir berkuasa.

Ia mengatakan siswi-siswi akan diusahakan diajar oleh perempuan dan ruang kelas akan tetap dipisahkan, sesuai dengan hukum syariah Islam. 

“Syukurlah kami memiliki banyak pengajar perempuan. Tidak akan ada masalah mengenai ini. Segala upaya akan kami lakukan untuk menemukan dan menyediakan pengajar perempuan bagi siswi-siswi kami,” katanya dalam konferensi pers di Kabul.

Masalah pendidikan perempuan telah menjadi pertanyaan besar yang dihadapi Taliban ketika mereka berusaha untuk meyakinkan dunia bahwa mereka sudah berubah dari aturan fundamentalis keras yang diterapkan pada 1990-an ketika sebagian besar perempuan dilarang menuntut ilmu atau bekerja di luar rumah.

Pejabat Taliban mengatakan perempuan akan diperbolehkan belajar dan bekerja sesuai dengan hukum syariah dan tradisi kebudayaan lokal, tetapi ketentuan berpakaian akan tetap berlaku. Menurut Haqqani, jilbab bercadar akan menjadi sebuah kewajiban untuk semua pelajar perempuan tetapi tidak jelas apakah ini berarti jilbab atau penutup wajah wajib.

Pada hari Sabtu, sebuah kelompok yang tampaknya terdiri dari pelajar perempuan berjubah hitam yang sepenuhnya tertutup dari kepala hingga kaki, berdemonstrasi di Kabul untuk mendukung aturan tentang pakaian dan ruang kelas yang terpisah. 

Haqqani mengatakan jika tidak ada pengajar perempuan yang tersedia, maka langkah lain akan diambil untuk tetapi memastikan pemisahan ruang kelas.

“Jika kebutuhan  mendesak, laki-laki juga bisa mengajar perempuan. Tetapi sesuai syariah, perempuan tetap harus menjaga jilbab,” katanya. Ruang-ruang kelas akan ditutup tirai untuk memisahkan laki-laki dan perempuan jika diperlukan dan pengajaran dapat dilakukan melalui siaran langsung atau TV dengan sirkuit tertutup.  

Ruang kelas yang terpisah tirai sudah dilakukan di banyak tempat sejak pemerintahan yang di dukung negara Barat runtuh dan penguasaan kembali ke tangan Taliban bulan lalu.

Haqqani mengatakan pada wartawan bahwa pemisahan gender akan diberlakukan di seluruh Afghanistan dan semua mata pelajaran yang diajarkan di perguruan tinggi akan ditinjau dalam beberapa bulan mendatang.

Berita Terkait