Tak Cuma Telegram, Aplikasi Signal Raup Berkah dari Kontroversi Privasi WhatsApp

January 14, 2021, 10:04 AM UTC

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Ilustrasi media sosial Facebook, Google, Twitter dan layanan digital asing dikenakan pajak / Pixabay

JAKARTA – Aplikasi pesan singkat Signal mencatat lonjakan pengguna baru sebanyak 8,8 juta kali selama sepekan terakhir. Padahal, seminggu sebelumnya jumlah unduhan Signal hanya mencapai 246.000 kali.

Berdasarkan data Sensor Tower, Rabu 13 Januari 2021, lonjakan terbesar terjadi di India, dari 12.000 kali unduhan, menjadi 2,7 juta kali. Selanjutnya di Inggris dari 7.400 menjadi 191.000, disusul Amerika Serikat dari 63.000 menjadi 1,1 juta.

Lonjakan pengguna baru ini bahkan membuat aplikasi Signal mengalami gangguan seperti kendala dalam membuat grup dan kode verifikasi yang terlambat muncul. Namun, manajemen Signal mengaku telah menyelesaikan permasalahan tersebut.

Fenomena tersebut menyusul pemberitaan WhatsApp yang akan memperbarui kebijakan privasi mereka pada 8 Februari 2021 mendatang. WhatsApp diketahui akan membagi data penggunanya dengan perusahaan induk mereka, Facebook Inc.

Kebijakan itu pun dianggap merugikan pengguna. Apalagi, Facebook dikenal lalai dalam menjaga data privasi para penggunanya.

Setelah ramai penolakan kebijakan privasi baru yang akan ditetapkan WhatsApp, muncul banyak ajakan untuk beralih ke aplikasi chatting lain, seperti Telegram dan Signal. Bahkan ajakan tersebut dilontarkan oleh orang terkaya di dunia, Elon Musk.

Pendiri perusahaan mobil listrik Tesla tersebut mengajak orang-orang untuk menggunakan aplikasi Signal. “Gunakan Signal,” tulis Musk melalui akun Twitter pribadinya, Kamis 7 Januari 2021 lalu.

Ilustrasi aplikasi pesan WhatsApp, Facebook, Telegram / Pixabay
Mantan Bos WhatsApp

Berdasarkan informasi yang dihimpun TrenAsia.com, ternyata pendiri Signal merupakan mantan bos WhatsApp. Ialah Brian Acton, salah satu pendiri WhatsApp bersama Jan Koum pada 2009 lalu.

Signal sendiri didirikan oleh Acton bersama rekan-rekannya pada 2013 lalu. Sedangkan, aplikasi tersebut dirilis pada Februari 2018, setahun setelah ia hengkang dari Facebook, induk perusahaan WhatsApp dengan dana awal sebesar US$50 juta.

Ia dan Koum keluar dari perusahaan milik konglomerat Mark Zuckerberg itu lantaran tidak setuju dengan rencana Facebook yang hendak memonetisasi WhatsApp dengan iklan. Keduanya lantas menggaungkan tagar #DeleteFacebook di Twitter beberapa tahun silam.

Akibat kekecewaannya dengan pihak Facebook itulah, Acton mengembangkan Signal dengan fokus pada keamanan data privasi penggunanya.

Bahkan, aplikasi ini dinilai sangat privat sampai-sampai tidak menyimpan data penggunanya sama sekali. Sehingga, Signal kerap digunakan oleh para aktivis hingga komunitas rahasia lainnya.

Selain itu, Signal dikembangkan dengan skema swadaya yang menghimpun donasi melalui lembaga non-profit bernama Signal Foundation. Lembaga ini berdiri dengan tujuan untuk mengembangkan layanan komunikasi yang mengutamakan privasi. (SKO)

Berita Terkait