Tak Cuma Bank BUMN, Duit Negara Juga Bakal Disimpan di BPD Hingga BCA dan CIMB Niaga

JAKARTA – Penempatan dana pemerintah dalam rangka program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tidak terbatas pada bank pelat merah.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan penempatan dana yang saat ini baru mencapai Rp30 triliun di empat bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu juga bakal melibatkan Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan bank swasta.

“Di dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tidak harus dari bank pemerintah saja, bisa dilihat dari tingkat kesehatan dan tata kelola,” ujarnya di Jakarta beberapa waktu lalu.

Diketahui, pemerintah telah menempatkan dana sebesar Rp30 triliun kepada empat bank yang tergabung dalam himpunan bank-bank milik negara (Himbara) untuk mempercepat PEN. Anggota Himbara yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.

Bank Himbara masing-masing memperoleh dana terdiri dari Bank Mandiri Rp10 triliun, BRI Rp10 triliun, BNI Rp5 triliun, dan BTN Rp5 triliun. Di samping itu, total anggaran pemerintah kepada perbankan yang mencapai Rp78,8 triliun ini akan disalurkan pula ke BPD dan bank swasta.

Emiten Perbankan

Mencuat kabar, terdapat dua BPD yang akan mendapatkan suntikan dana PEN, yakni PT BPD Jawa Timur Tbk. (BJTM) dan PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk. (BJBR). Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk., (BBCA) dan PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) disebut-sebut sebagai bank swasta yang juga mendapatkan dana.

Kendati demikian, Sri Mulyani belum menjabarkan lebih lanjut mengenai skema dan detail penempatan dana.

“Bulan-bulan ini kami lakukan review dulu, mengenai berapa banyaknya dan di mana,” ujarnya.

Sementara itu, apabila dilihat dari kondisi keuangan bank, BCA pada kuartal I-2020 berhasil melaporkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp6,6 triliun atau meningkat 8,6% dibandingkan dengan periode sebelumnya. Pendapatan operasional perusahaan juga tumbuh 17,3% year-on-year (yoy) menjadi Rp19,6 triliun.

Selanjutnya, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) di level 22,5%, serta rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) berada di level 1,6% pada akhir Maret 2020.

Per Maret 2020, portofolio kredit BCA tumbuh 12,3% yoy menjadi Rp612,2 triliun. Adapun kredit korporasi yang dimaksud meningkat 25,4% yoy menjadi Rp260,4 triliun, serta kredit komersial dan usaha kecil dan menengah (UKM) naik 5% yoy menjadi Rp191,2 triliun. BCA juga melaporkan dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh 16,8% yoy menjadi Rp741,0 triliun dengan rasio LDR 77,6%.

CIMB Niaga

Adapun untuk CIMB Niaga, bank swasta satu ini berhasil membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp1,1 triliun pada kuartal I-2020, naik sebesar 11,8% yoy.

Pertumbuhan laba bersih terutama didukung oleh pendapatan non-bunga sebesar 11,5% yoy dan penurunan pada biaya operasional sebesar 2,7% yoy sehingga rasio cost to income turun menjadi di bawah 48%.

Selanjutnya, loan loss coverage (LLC) meningkat menjadi 191,13%, dan biaya provisi naik menjadi 8,7% yoy. Total penghimpunan DPK tercatat sebesar Rp202,6 triliun dengan rasio CASA sebesar 60,1%. Adapun, rasio kecukupan modal (CAR) tercatat sebesar 19,39% per akhir Maret 2020.

Dengan total aset mencapai Rp274,5 triliun per akhir kuartal I-2020, emiten bank berkode saham BNGA ini disebut mampu mempertahankan posisinya sebagai bank swasta nasional terbesar kedua di Indonesia dari sisi aset. (SKO)

Tags:
Bank BCABCABNIBRIBTNBUMNPemulihan Ekonomi NasionalPENPMKPT Bank CIMB Niaga TbkSri Mulyani Indrawati
Aprilia Ciptaning

Aprilia Ciptaning

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: