Tak Biasa, Inflasi Jelang Puasa Justru Rendah 0,08% Akibat COVID-19

May 04, 2020, 01:55 PM UTC

Penulis: Ananda Astri Dianka

Pedagang menunggu pembeli di Pasar Pesanggrahan, Jakarta, Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Di luar kewajaran, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka inflasi menjelang bulan puasa pada April 2020 hanya 0,08% yang biasanya tinggi hingga menjelang Lebaran.

Kepala BPS Suhariyanto mengakui angka inflasi April terbilang lebih rendah dari bulan sebelumnya 0,10%. Angka inflasi kalender (year-to-date/ytd) mencapai 0,84% dengan angka inflasi tahunan 2,67%.

“Pada April 2020 terjadi inflasi sebesar 0,08% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 104,80,” kata Suhariyanto dalam konferensi pers virtual di Kantor BPS, Jakarta, Senin, 4 Mei 2020.

Dari 90 kota IHK, 39 kota mengalami inflasi dan 51 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Baubau sebesar 0,88% dengan IHK sebesar 103,16 dan terendah terjadi di Cirebon, Depok, dan Balikpapan masing-masing sebesar 0,02% dengan IHK masing-masing sebesar 102,74; 105,84; dan 103,27.

Sementara deflasi tertinggi terjadi di Pangkalpinang sebesar 0,92% dengan IHK sebesar 102,31 dan terendah terjadi di Bogor dan Semarang masing-masing sebesar 0,02% dengan IHK masing-masing sebesar 105,93 dan 104,86.

Dia menjelaskan, inflasi dipengaruhi oleh kenaikan harga tiga komoditas yaitu bawang merah, emas perhiasan dan gula pasir.

“Inflasi April, penyebabnya kenaikan harga bawang merah, emas perhiasan dan gula pasir,” kata dia.

Suhariyanto mengatakan bawang merah menyumbang andil inflasi dalam periode ini sebesar 0,08%, diikuti emas perhiasan 0,06% dan gula pasir 0,02%.

“Kenaikan harga emas perhiasan menyumbang andil 0,06%. Harga emas mengalami kenaikan di 87 kota IHK, seperti di Semarang naik 16%,” katanya.

Komoditas lainnya yang masih mengalami kenaikan harga dan menyumbang andil inflasi adalah minyak goreng, rokok kretek, rokok kretek filter, beras dan bahan bakar rumah tangga masing-masing 0,01%.

Namun, ada komoditas yang menyumbang andil deflasi yaitu cabai merah 0,08%, daging ayam ras dan tarif angkutan udara masing-masing 0,05% serta bawang putih dan tarif pulsa masing-masing 0,02%.

“Tarif angkutan udara memberikan andil deflasi 0,05%, karena permintaan jasa angkutan udara mengalami penurunan akibat adanya PSBB,” ujar Suhariyanto.

Dari 11 kelompok pengeluaran, sebanyak delapan kelompok menyumbang inflasi pada periode ini, dengan inflasi tinggi berasal dari tiga kelompok besar yang masing-masing mengalami inflasi 0,09%.

Kelompok itu adalah makanan, minuman dan tembakau, kemudian, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga, serta perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga.

“Meski mengalami inflasi, dua kelompok tidak menyumbang andil terhadap inflasi, karena tidak ada yang belanja, yaitu pakaian dan alas kaki, serta rekreasi, olahraga dan budaya,” katanya.

Dua kelompok menjadi penekan inflasi dan penyumbang deflasi yaitu transportasi yang tercatat deflasi 0,42% serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,34%.

“Hanya satu kelompok pengeluaran yang stabil dan tidak mengalami perubahan harga yaitu pendidikan,” kata Suhariyanto.

Dalam kesempatan terpisah, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan inflasi pada periode Ramadan dan Idulfitri pada 2020 diperkirakan akan lebih rendah dari rata-rata historis.

Salah satu penyebabnya adalah permintaan yang diproyeksikan lebih rendah, karena pandemi COVID-19 menyebabkan rendahnya aktivitas manusia, terkait pembatasan mobilitas, PSBB dan lain sebagainya.

Pola Inflasi Berbeda

BPS menyatakan pergerakan laju inflasi menjelang perayaan Idulfitri 2020 merupakan hal yang tidak biasa karena melambat dibandingkan rata-rata pola historis.

“Pergerakan inflasi ini tidak biasa kalau dibandingkan pola sebelumnya,” kata Suhariyanto.

Suhariyanto mengatakan pergerakan inflasi yang melambat ini terlihat dari inflasi April 2020 yang hanya tercatat 0,88% atau melambat dibandingkan periode sebelumnya.

Padahal, pada periode sama 2019 menjelang dan sesudah Lebaran, inflasi justru meningkat yaitu pada Mei 0,68% dan Juni 0,55% karena adanya kenaikan permintaan.

Menurut dia, salah satu penyebab anomali ini adalah situasi pandemi COVID-19 yang ikut mempengaruhi pola inflasi.

“Pola ini tidak biasa, karena biasanya ada kenaikan inflasi, akibat permintaan meningkat, tapi tahun ini situasinya tidak biasa karena COVID-19,” ujarnya.

Ia memastikan pandemi sudah menurunkan permintaan barang dan jasa dari masyarakat seiring dengan berkurangnya aktivitas sosial.

Selain itu, inflasi yang melambat, terutama dari inflasi inti, juga patut dicermati karena telah menunjukkan adanya tanda-tanda pelemahan daya beli rumah tangga.

“Pola inflasi inti biasanya naik karena banyak permintaan, tapi malah melemah 0,17%, Maret kemarin masih 0,29%, sehingga inflasi inti tahunan 2,85%,” ujarnya.

Namun, tambah dia, inflasi yang tercatat rendah juga berarti pemerintah mampu menjaga pasokan pangan, sehingga harga bahan makanan terkendali pada Ramadhan dan Idulfitri. (SKO)