Tak Berdaya Hadapi Pandemi, Pembangunan Jaya Ancol Rugi Rp392,84 Miliar Sepanjang 2020

02 Juni 2021 11:47 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Wisatawan menikmati waktu berlibur di Pantai Lagoon, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Pandemi COVID-19 tahun lalu sempat membuat Ancol ditutup sejak 14 Maret hingga 19 Juni 2020. PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) pun harus menderita anjloknya pendapatan serta mencatatkan rugi sepanjang tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan tahunan di Bursa Efek Indonesia, PJAA harus menderita rugi bersih sebesar Rp392,84 miliar sepanjang tahun lalu. Padahal, perusahaan justru berhasil mencatatkan laba bersih Rp230,24 miliar pada tahun sebelumnya.

Ruginya objek pariwisata milik Pemprov DKI Jakarta ini dapat terlihat dari pendapatan yang anjlok 69,51% sepanjang 2020. Pendapatan PJAA menjadi Rp414,18 miliar pada 2020, turun dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,36 triliun.

Pendapatan ini terutama didapat dari tiket sebesar Rp239,8 miliar. Meski begitu, pendapatan tiket ini terperosok 75,4% dari pendapatan tiket tahun sebelumnya yang sebesar Rp976,28 miliar.

Turunnya pendapatan tiket ini besar disebabkan oleh Ancol yang harus ditutup Maret-Juni tahun lalu. Selain itu, kinerja pendapatan tidak bisa langsung kembali normal karena masih ada pembatasan-pembatasan yang membuat Ancol tidak bisa berkapasitas penuh.

Selain pendapatan tiket, pendapatan hotel dan restoran menyumbang Rp35,6 miliar, real estat Rp6,39 miliar, dan pendapatan usaha lainnya Rp133,3 miliar.

Setelah dikurangi beban pokok pendapatan dan beban langsung, PJAA mencatat laba kotor Rp50,01 miliar. Laba kotor ini merosot 92,87% dari laba kotor tahun sebelumnya yang mencapai Rp701,38 miliar.

PJAA pun berbalik mencatat rugi usaha Rp276,18 miliar setelah menghitung berbagai beban. Pada tahun sebelumnya, perusahaan justru mencatat laba sebesar Rp438,7 miliar.

Tercatat ada penurunan kas dan setara kas sebesar Rp144,7 miliar sepanjang 2020. Ini membuat posisi kas akhir tahun tercatat Rp333,15 miliar, turun dari awal tahun yang sebesar Rp477,86 miliar.

Dari sisi liabilitas, tercatat ada pembengkakan 17,2% yang membuat liabilitas PJAA menjadi Rp2,28 triliun pada 2020. Liabilitas jangka pendek perusahaan mendominasi sebesar Rp1,57 triliun sementara liabilitas jangka panjang sebesar Rp710,4 miliar.

Sementara itu, ekuitas perusahaan tercatat tergelincir 18,1% menjadi Rp1,76 triliun pada 2020. Tahun sebelumnya, ekuitas PJAA masih tercatat Rp2,13 triliun.

Aset perusahaan pun tercatat hanya turun tipis menjadi Rp4,04 triliun dari sebelumnya Rp4,09 triliun. Aset tidak lancar tercatat sebesar Rp3,58 triliun dan aset lancar tercatat Rp464,73 miliar.

Berita Terkait