Sumbang 15,6 Persen Ekspor Non-Migas , Industri Sawit Bakal Jadi 'Anak Emas'

18 November 2021 17:30 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Rizky C. Septania

Kebun kelapa sawit PT Perkebunan Nusantara (PTPN). (Indonesia.go.id)

JAKARTA - Industri kelapa sawit nasional terus berkontribusi untuk pendapatan negara. Pada kuartal ketiga tahun 2021, ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) mencapai 15,6% terhadap total ekspor non-minyak dan gas (migas).

Menurut rilis Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini, ekspor sawit tumbuh 76,54% year on year (yoy) dan berkontribusi 18,54% terhadap ekspor industri pengolahan, serta menjadi yang tertinggi di sektor tersebut.

Secara month to month (mtm), BPS menyebut, ekspor sawit juga yang paling besar, yakni tumbuh 22,54% dibandingkan dengan bulan September 2021.

Tingginya ekspor komoditas unggulan Indonesia tersebut turut mengerek surplus neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2021 menjadi US$5,73 miliar setara Rp81,37 triliun (asumsi kurs Rp14.200 per dolar Amerika Serikat).

Jadi Fokus Perhatian

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, industri sawit bakal menjadi perhatian pemerintah di masa depan. Industri ini mampu menyerap 16,2 juta tenaga kerja sehingga berpotensi mengurangi angka kemiskinan.

Dia menyebut, fokus pemerintah untuk mendorong industri sawit salah satunya dengan pengembangan riset yang kuat.

Riset tersebut diharapkan mampu meningkatkan pemberdayaan perkebunan dan industri sawit yang bersinergi baik dari hulu maupun hilir. Selain itu, juga meningkatkan produktivitas dan kapasitas industri melalui teknologi berdaya saing.

“Riset ini harus terus dilakukan agar produk sawit bisa terus memberikan nilai tambah, dan hilirnya juga perlu ditingkatkan," katanya dalam acara Pekan Riset Sawit Indonesia yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) secara virtual, Rabu, 17 November 2021.

Dia mengungkapkan industri sawit mampu mendorong kemandirian energi dan mengurangi emisi gas, serta mengurangi impor solar atau diesel sebesar Rp38 triliun pada tahun 2020. Tahun ini dengan adanya program B30 diperkirakan terjadi penghematan devisa sebesar Rp56 triliun.

Penelitian yang dilakukan beberapa asosiasi menunjukkan bahwa dengan menggunakan Life Cycle Analysis penggantian bahan bakar diesel dengan biodiesel sawit akan mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dari mesin diesel hingga 50-60%.

European Commission bahkan menyebut biodiesel sawit yang dihasilkan dari Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dengan methane capture dapat mengurangi 62% emisi GRK.

Ini berarti bahwa penggunaan biodiesel sawit sebagai pengganti diesel dapat menurunkan emisi GRK yang lebih besar ketimbang biodiesel berbahan baku kacang kedelai, rapeseed maupun minyak bunga matahari seperti di Eropa.

Airlangga mengeklaim, program mandatori Biodiesel B30 juga telah mendorong stabilitas harga sawit dan membuat sawit masuk dalam supercycle dengan harga sebesar US$1,283 per ton. Pada awal November harga sawit tembus US$1.435 setara Rp20,37 juta per ton.

Selain itu, sawit juga memberikan nilai tukar kepada petani dengan harga Tandan Buah Segar (TBS) yang juga relatif paling tinggi selama periode ini, yaitu antara Rp2.800 sampai Rp3.000 rupiah per TBS.

Dia berharap adanya proses perbaikan yang terus-menerus terutama dari hulu mulai dari perbaikan benih/varietas, pupuk, alat mesin, kultur budidaya, cara-cara teknik panen, sampai dengan hilir berupa pengembangan produk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, memperluas pasar, serta memperhatikan isu lingkungan hidup.

"Riset dan pengembangan harus terus dilakukan guna mewujudkan sawit Indonesia yang berkelanjutan dan fokus pada isu-isu yang impactful dan juga berkesinambungan," ungkap Ketua Umum Partai Golkar.*

Berita Terkait