Suku Bunga The Fed Diperkirakan Akan Terus Naik 125 Bps Dua Putaran ke Depan

23 September 2022 07:00 WIB

Penulis: Rizky C. Septania

Editor: Ananda Astri Dianka

Nilai tukar rupiah pagi ini, Jumat, 6 November 2020 berada di level Rp14.380 per dolar AS, menguat 185 bps sebesar 1,27% dibandingkan penutupan kemarin, Kamis, 5 November 2020 di level Rp14.565 per dolar AS. / Foto: Ismail Pohan – Tren Asia

JAKARTA- Investor  memperkirakan bahwa The Fed akan terus menaikkan suku bunga hingga 125 poin dalam dua putaran terakhir 2022. Langkah ini terjadi setelah pembuat kebijakan memberikan kenaikan suku bunga ketiga berturut-turut sebesar 75 basis poin untuk melawan inflasi.

Berdasarkan pengitungan FedWatch CME, probabilitas kenaikan suku bunga hingga 75 basis poin pada putaran 1-2 November adalah 68,5%, menurut alat FedWatch CME . Kemungkinan naik 8,5 poin dari sebelumnya hanya 60%.

Untuk pertemuan 13-14 Desember, peluang kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin tercatat naik menjadi 66,7% dari sebelumnya kisaran 43,8%.

Kenaikan suku bunga tersebut diprediksi akan meninggalkan suku bunga target dana fed pada kisaran antara 4,25%-4,5% pada  penghujung bulan Desember.

Menurut ringkasan proyeksi Ekonomi yang dikutip TrenAsia.com dari Insider Jumat, 23 September 2022, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memperkirakan suku bunga akan terus naik hingga 4,6% pada tahun 2023.

FOMC sejauh tahun ini telah menaikkan suku bunga acuannya ke kisaran 3% -3,25% dari awalnya nol persen. Kebijakan ini dilakukan karena mencoba menurunkan inflasi dari level tertinggi sekitar empat dekade.

Seperti diketahui,  Inflasi AS diprediksi akan mendingin ke 8,3%. Namun, nyatanya, inflasi berhasil ditekan hingga 8,1%. 

"Kami ingin bertindak agresif sekarang, dan menyelesaikan pekerjaan ini, dan terus melakukannya sampai selesai," kata Ketua Federal Reserve Jerome Powell seperti dikutip TrenAsia.com.

Sejumlah ekonom berpendapat, pembuat kebijakan aka. memangkas ekspektasi pertumbuhan mereka untuk 2022 menjadi 0,2% dari proyeksi awal 1,7% pada Juni lalu. 

Mereka juga memperkirakan inflasi Indeks Harga Belanja Personal AS (PCD), turun  menjadi 2,8% pada 2023, dari nilai awal 5,4% tahun ini. Tingkat pengangguran juga diperkiraka  naik menjadi 4,4% tahun depan dari awalnya 3,8%.

"Menurut perkiraan kami, inflasi mungkin cukup rendah bagi The Fed untuk menghentikan siklus kenaikan suku bunga setelah pertemuan Desember. Namun, jika inflasi tidak turun secepat yang kami harapkan dan The Fed menaikkan suku bunga mendekati 5%, itu akan menjadi sulit untuk menghindari resesi," tulis Direktur Investasi di UBS Global Wealth Management, Mark Haefele dalam sebuah catatan. 

Berita Terkait