Suku Bunga KPR Masih Tinggi, Orang Tetap Sulit Beli Rumah

31 Agustus 2021 19:42 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Laila Ramdhini

Suasana perumahan cluster di kawasan Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 2 Januari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Pemerintah telah mengeluarkan berbagai stimulus untuk membangkitkan sektor properti. Namun, masyarakat masih kesulitan membeli rumah karena suku bunga yang tinggi.

Bank Indonesia (BI) pada 18-19 Agustus 2021 telah mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%. Selain itu, BI juga melonggarkan rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) Kredit/Pembiayaan Properti menjadi paling tinggi 100% untuk semua jenis properti.

Stimulus terakhir adalah perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas pembelian rumah tapak dan rumah susun.

Sayangnya, langkah BI menurunkan suku bunga acuan tidak langsung diikuti oleh kalangan perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR). Alhasil, meski suku bunga BI sudah turun, tetapi industri properti tidak bisa segera langsung merasakan dampaknya.

Hal ini terbukti dari hasil survei Rumah.com Consumer Sentiment Study H2 2021 yang dirilis Rabu, 31 Agustus 2021. Sebanyak 88% responden berharap pemerintah bertindak untuk menurunkan suku bunga KPR. Presentase tersebut mengalami kenaikan dari semester sebelumnya yang sebesar 85%.

“Tingkat suku bunga KPR menurut persepsi masyarakat makin dianggap sebagai hambatan untuk membeli rumah,” ujar Country Manager Rumah.com Marine Novita.

Sebanyak 60% responden menganggap suku bunga KPR saat ini berada pada level yang tinggi. Angka ini pun naik tipis dari semester sebelumnya yang dinyatakan oleh 59% responden. Tingginya suku bunga KPR menghambat 34% masyarakat untuk mengangsur setiap bulan.

Hal ini lantas mendatangkan penurunan kepuasan masyarakat terhadap iklim properti di Tanah Air. Setelah mengalami kenaikan pada semester sebelumnya, Sentiment Index pada semester I-2021 ini turun sebanyak 4 poin ke angka 69. 

Penurunan Sentiment Index ini didorong tiga hal, yaitu mahalnya harga properti, sulitnya mencari properti di lokasi yang diinginkan sesuai dengan anggaran, tingginnya tingkat suku bunga KPR.

“Indeks Sentimen Konsumen ini adalah data longitudinal yang diambil Rumah.com. Ia menggambarkan indikasi optimisme, kepuasan, dan minat terhadap properti,” ujarnya dalam hasil riset tersebut.

Meskipun demikian, jumlah pencari rumah yang menunda transaksi properti mengalami penurunan, dari sebelumnya 52% menjadi 41%.

Menurut Marine, hal ini menjadi angin segar di tengah perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1-4. “Walaupun pandemi masih berlangsung, tetapi masyarakat mulai sadar bahwa papan atau hunian adalah kebutuhan pokok yang harus dibeli jika secara finansial sudah memadai,” ungkapnya.

Apalagi saat ini, lanjutnya, para pengembang juga agresif menawarkan berbagai jenis hunian dan didukung berbagai kebijakan pemerintah.

Berita Terkait