Subsidi ke Sektor Perumahan Meningkat, Permintaan KPR BTN Ditaksir Tetap Kuat Tahun Depan

22 November 2022 09:02 WIB

Penulis: Idham Nur Indrajaya

Editor: Ananda Astri Dianka

Suasana rumah subsidi di kawasan Citereup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin, 23 Agustus 2021. (TrenAsia/Ismail Pohan. )

JAKARTA – PT Bahana Sekuritas memprediksi permintaan kredit pemilikan rumah (KPR) PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (kode saham: BBTN) akan tetap kuat pada tahun 2023 seiring dengan penyaluran subsidi ke sektor perumahan yang meningkat. 

Analis Bahana Sekuritas Yusuf Ade Winoto memprediksi permintaan KPR masih akan tetap solid karena fokus pemerintah dalam penyaluran subsidi perumahan.

Dalam kurun waktu 2016-2021, subsidi pemerintah ke sektor perumahan terus mengalami peningkatan dengan pertumbuhan tahunan majemuk (compounded annual growth rate/CAGR) sebesar 41,2%.

Per tahun 2022, anggaran subsidi meningkat 13,1% secara tahunan atau year-on-year (yoy) menjadi Rp25,53 triliun, sedangkan pada 2023, indikatif anggaran subsidi perumahan meningkat 16,8% menjadi 29,53%.

“BBTN menjadi penerima manfaat utama dari pertumbuhan anggaran perumahan subsidi karena porsi KPR subsidi mencapai 48% dari total KPR BBTN,” ujar Yusuf dikutip dari riset Bahana Sekuritas, Senin, 21 November 2022.

Yusuf mengatakan, BTN bisa mengamankan porsi terbesar dari KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) karena memiliki hubungan yang kuat dengan pengembang perumahan murah.

Kemudian, faktor lain yang mendukung kuatnya permintaan KPR BTN adalah pengalaman panjang BTN di bisnis kredit perumahan, skala ekonomi yang tinggi, serta nasabah yang setia.

Sebagai informasi, Sepanjang periode Januari-September 2022, Bank BTN berhasil menyalurkan kredit mencapai Rp289,6 triliun meningkat 7,18% dari posisi yang sama tahun lalu senilai Rp270,27 triliun. Penyaluran kredit perumahan masih mendominasi total kredit perseroan pada kuartal III-2022.

Adapun kredit perumahan yang disalurkan Bank BTN hingga akhir September 2022 mencapai Rp256,48 triliun. Dari jumlah tersebut KPR subsidi pada kuartal III-2022 masih mendominasi dengan nilai sebesar Rp140,97 triliun tumbuh 8,46% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp129,97 triliun. 

Sementara itu, KPR nonsubsidi tumbuh 6,4% menjadi Rp87,11 triliun pada kuartal III-2022 dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp81,87 triliun.

Kenaikan kredit berdampak pada pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang tumbuh 31,84% pada kuartal III-2022 menjadi Rp11,54 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp8,75 triliun. 

Lonjakan NII tersebut membuat rasio net interest margin (NIM) Bank BTN juga mengalami kenaikan dari 3,52% pada akhir September 2021 menjadi 4,51% di kuartal III-2022.      

Dari sisi dana pihak ketiga (DPK), Haru mengungkapkan pada kuartal III/2022 perolehan DPK Bank BTN mencapai Rp312,84 triliun naik 7,41% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp291,26 triliun.

Dari jumlah tersebut, perolehan dana murah atau current account saving account (CASA) mencapai Rp143,59 triliun naik sebesar 18,7% dibandingkan akhir September 2021 sebesar Rp120,96 triliun. 

Dengan perkembangan-perkembangan tersebut, BTN membukukan laba bersih sebesar Rp2,28 triliun atau melonjak 50,11% dibanding periode yang sama tahun lalu. 

Berita Terkait