Studi: Terpapar Polusi Udara Tingkatkan Risiko Rawat Inap Akibat COVID-19

11 September 2021 19:48 WIB

Penulis: Justina Nur Landhiani

Editor: Sukirno

Studi: Terpapar Polusi Udara Tingkatkan Risiko Rawat Inap Akibat COVID-19 (Freepik.com/Prostooleh)

JAKARTA - Studi menemukan bahwa seseorang yang terpapar polusi udara sebelumnya memiliki kemungkinan lebih besar membutuhkan perawatan di rumah sakit jika terkena COVID-19.

Mengutip dari laman The Independent, para peneliti yang berasal dari Imperial College London menemukan hubungan antara orang yang terpapar udara tercemar dan seberapa parah gejala mereka jika tertular COVID-19.

Laporan ini ditugaskan oleh Wali Kota London dan dipimpin oleh Imperial's Environmental Research Group, melihat parat para ilmuwan mengevaluasi studi dari seluruh dunia.

Para ilmuwan menemukan bahwa paparan polusi udara sebelum pandemi tidak hanya meningkatkan risiko seseorang memerlukan rawat inap di rumah sakit jika tertular virus, tetapi juga meningkatkan kemungkinan mereka jadi jatuh sakit.

Temuan ini berasal dari sejumlah kecil penelitian yang menemukan bahwa jika hewan menghirup suatu polutan, maka jumlah protein yang menempel pada virus COVID-19 di paru-paru mereka jadi meningkat. Hal ini juga mengacu pada bukti yang berkembang untuk menghubungkan polusi udara dan penderita penyakit jantung dan paru-paru, di mana penderitanya lebih mungkin mengembangkan gejala yang parah jika tertular COVID-19.

Wali Kota London, Sadiq Khan mengatakan tinjauan tersebut dapat memperjelas bahwa mengatasi polusi udara sangat penting untuk membantu membangun kekebalan masyarakat terhadap COVID-19.

"Kita sudah tahu bahwa polusi udara terkait dengan penyakit yang mengubah hidup, seperti kanker, paru-paru, dan asma. Akan tetapi, sampai sekarang penelitian yang sebelumnya telah meremehkan peran polusi udara dalam penyakit menular seperti pneumonia, bronkitis, dan yang terbaru ini yaitu COVID-19," kata Sadiq Khan seperti yang dikutip dari laman The Independent pada 11 September 2021.

"Tinjauan baru yang dipimpin oleh para peneliti Imperial ini memperjelas bahwa mengatasi polusi udara adalah bagian penting dalam membangun ketahanan kita terhadap COVID-19, dan infeksi lain seperti itu. Keputusan yang kita buat sekarang untuk mengatasi polusi udara benar-benar masalah hidup dan mati," tambahnya.

Baik polusi udara maupun wabah COVID-19 diketahui memperparah adanya ketidaksetaraan yang terjadi di masyarakat. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa mereka yang terpapar polusi udara terburuk di ibu kota cenderung berdampak pada warga London yang memiliki latar belakang penghasilan rendah.

Profesor Paul Plant, wakil direktur Kesehatan Masyarakat Inggris untuk London menyebutkan bahwa kualitas udara yang buruk terutama memengaruhi orang-orang yang lebih rentan terhadap gangguan pernapasan, apalagi bagi mereka yang memiliki penyakit jantung dan paru-paru, anak-anak dan orang tua, serta memperburuk ketidaksetaraan kesehatan.

Oleh karena itu menurutnya, meningkatkan kualitas udara sangat penting untuk mengurangi dampak kesehatan dari polusi udara di seluruh London, dan akan membantu orang-orang untuk hidup lebih lama, hidup lebih sehat di luar pandemi.

Berita Terkait