Studi Terbaru Menemukan Kekebalan Manusia Dapat Dilatih untuk Melawan Infeksi

14 Juli 2021 19:15 WIB

Penulis: Justina Nur Landhiani

Hati-hati, risiko dirawat di rumah sakit akibat penularan COVID-19 varian delta meningkat dua kali lipat/freepik.com

JAKARTA – Sistem kekebalan manusia memiliki dua jenis yang berbeda, yaitu bawaan dan adaptif.

Mengutip dari laman Nature, sistem kekebalan bawaan meliputi sel monosit dan makrofag yang bertugas untuk mengenali zat asing yang masuk ke tubuh melalui reseptor pengenalan pola dan memicu serangkaian fenomena seluler, termasuk fagositosis, motilitas sel, pembunuhan dan eliminasi patogen, dan produksi sitokin proinflamasi. Sedangan sistem kekebalan tubuh adaptif dimediasi oleh sel darah putih (limfosit) yaitu sel B dan sel T.

Setelah invasi patogen, sistem imun bawaan dan adaptif diaktifkan secara bersamaan. Namun, tidak seperti kekebalan bawaan, kekebalan adaptif berkembang perlahan dan memberikan perlindungan yang sangat spesifik dan tahan lama terhadap patogen.

Sedangkan kekebalan yang terlatih mengacu pada kemampuan sistem imun bawaan untuk mengembangkan fitur adaptif dan memberikan perlindungan jangka panjang terhadap infeksi ulang patogen disebut sebagai imunitas terlatih. Modifikasi epigenetik dari berbagai jalur transkripsi, serta pemrograman ulang metabolik sel imun bawaan oleh rangsangan endogen dan eksogen, adalah kekuatan pendorong utama untuk kekebalan terlatih.

Sama seperti respons imun adaptif, imunitas terlatih dikaitkan dengan reaksi imun yang meningkat sebagai respons terhadap infeksi ulang. Secara umum, kekebalan terlatih diketahui memberikan perlindungan jangka pendek mulai dari sekitar 3 bulan hingga 1 tahun.

Sistem kekebalan terlatih dapat dipicu dari berbagai macam rangsangan, seperti beta-glukan (ligan jamur) dan BCG (bacillus Calmette-Guérin).

Pada manusia, perlindungan non-spesifik yang dimediasi vaksinasi BCG terhadap infeksi sekunder diyakini disebabkan oleh kekebalan yang terlatih.

Selain itu, efek imunomodulasi dari vaksinasi BCG terhadap beberapa jenis kanker, seperti limfoma, leukemia, kanker kandung kemih, dan melanoma, dikaitkan dengan induksi kekebalan terlatih dalam makrofag dan monosit.

Induksi kekebalan terlatih dianggap sebagai strategi terapi potensial untuk mengelola berbagai kondisi kesehatan yang terkait dengan gangguan fungsi sistem kekebalan, seperti kanker. Selain itu, memicu kekebalan terlatih melalui vaksin hidup, seperti vaksin BCG, campak, dan polio oral, dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam merawat pasien dengan penyakit menular yang parah, seperti penyakit COVID-19.

Induksi imunitas terlatih juga dapat menjadi pendekatan yang baik untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian pada anak dengan berat badan lahir rendah.

Meskipun memberikan manfaat jangka panjang dalam memerangi patogen berbahaya, kekebalan yang terlatih dapat memiliki efek yang merugikan dalam kondisi tertentu. Misalnya, hiperaktivasi sistem kekebalan bawaan untuk waktu yang lama serta reaksi kekebalan yang meningkat sebagai respons terhadap rangsangan sekunder dapat menghubungkan kekebalan yang terlatih dengan risiko pengembangan penyakit inflamasi kronis, seperti aterosklerosis.

Berita Terkait