Strategi Dompet Digital OVO di Tengah Persaingan Pasar Yang Ketat

13 Oktober 2021 17:32 WIB

Penulis: Ismail Pohan

Editor: Ismail Pohan

Keluarga pasien melakukan pembayaran melalui pemindaian QRIS platform dompet digital OVO di kasir Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Depok, Jawa Barat, Rabu, 13 Oktober 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

Peta persaingan di pasar dompet digital Indonesia semakin ketat di tengah transaksi digital yang menjadi pilihan utama saat pandemi Covid-19. Beberapa strategi pun dilakukan pemain dompet digital untuk merebut pasar yang ada.

Seperti OVO yang baru saja kepemilikan saham mayoritasnya sebanyak 90% dibeli Grab dari Tokopedia dan Lippo Group pada awal pekan ini. Selama ini, OVO mengadopsi strategi ekosistem terbuka sehingga membuat perusahaan berkolaborasi dengan lini industri manapun untuk memperluas penggunanya.

Oleh karenanya, meskipun saat ini OVO tidak mendapat tempat yang eksklusif di Tokopedia, kolaborasi-kolaborasi lain dari OVO dengan beberapa e-commerce yang selama ini sudah terbangun dinilai masih dapat menumbuhkan transaksinya.

Untuk diketahui, saat ini OVO menjadi salah satu ekosistem digital terbuka yang besar di Indonesia dengan banyak menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan e-commerce seperti Blibli, Lazada, Zalora, Tokopedia dan juga Bukalapak.

Dengan 71% pengguna aktif dan tingkat brand awareness hingga 96%, OVO menjadi platform pembayaran digital terpopuler di Indonesia. Di paruh pertama 2021, OVO mencatatkan jumlah transaksi online merchant naik 76%, diikuti naiknya transaksi pembayaran kebutuhan logistik di OVO selama masa pembatasan sosial di pertengahan 2021 hingga hampir 40%. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Berita Terkait