Startup Telemedis Laris Manis, Siap Susul Gojek Jadi Unicorn Gres

JAKARTA – Yessa, ibu muda yang tinggal di Kota Batam, Kepulauan Riau, ini merasakan manfaat dari layanan e-health. Sekitar dua bulan lalu, ia memerlukan obat untuk mengobati demam anak sulungnya yang berumur 3 tahun. Sedangkan, suaminya sedang tidak ada di rumah.

Obat itu biasa dibelinya di apotek dekat rumah. Namun karena pada saat itu daerah rumahnya merupakan zona merah COVID-19, ia ragu untuk keluar, apalagi Yessa juga memiliki bayi yang baru berumur 1 tahun. Memang, bayi dan lansia sangat rentan dengan virus jahat ini.

Lantas, Yessa memilih menggunakan fitur GrabHealth yang merupakan hasil kolaborasi Grab dengan Good Doctor. Ia pun memilih obat yang dicarinya di mesin pencarian pada aplikasi tersebut. Lalu, ia menentukan tempat pembelian obat (apotek) yang paling dekat dengan tempat tinggalnya.

Setelah satu obat demam dan tiga bungkus plester kompres anak dipilih, Yessa langsung melakukan pembayaran ditambah dengan ongkos kirim. Tidak sampai 30 menit, pesanannya pun sampai di rumahnya diantar oleh seorang pengemudi ojek online dari Grab.

Selang beberapa hari, demam anaknya pun mulai reda setelah rutin mengonsumsi obat dan kompres yang dibelinya. Yessa dan anak-anaknya pun tetap menjalankan imbauan untuk tetap di rumah.

“Aplikasi seperti ini benar-benar memudahkan saya. Dua hal yang saya dapat, pengobatan untuk anak saya terpenuhi dan saya tidak perlu keluar rumah sehingga meminimalisir risiko terkena virus corona,” ujarnya kepada TrenAsia.com, Rabu 30 September 2020.

Aplikasi telemedicine GrabHealth kerja sama antara Grab dan Good Doctor / Grab.com

Konsultasi Online

Saya, juga pernah memiliki pengalaman memanfaatkan aplikasi serupa. Beberapa waktu lalu, saya memiliki keluhan gatal pada kulit. Anehnya, keluhan itu terjadi semenjak saya tidak pernah beraktivitas di luar rumah karena adanya anjuran tetap dirumah (stay at home) dan kerja dari rumah (work from home).

Karena penasaran, akhirnya saya melakukan konsultasi dengan dokter spesialis kulit di aplikasi Halodoc. Melalui fitur chat dengan dokter, penulis melakukan konsultasi terkait keluhan yang dirasakan.

Beruntungnya, saat itu penulis mendapatkan promosi konsultasi dokter gratis sebagai pengguna baru di platform Halodoc. Meskipun harus membayar, biaya yang dikutip pun terbilang jauh lebih murah dibandingkan dengan konsultasi secara langsung.

Untuk dokter spesialis kulit, dikenakan tarif sebesar Rp30.000 tiap sesi yang berlangsung 30 menit. Untuk dokter umum lebih murah lagi, pengguna hanya perlu membayar Rp10.000 saja tiap satu sesinya.

Setelah memilih dokter yang dirasa cocok, saya akhirnya melakukan proses konsultasi gratis ini. Sang dokter mulai menanyakan keluhan saya, dan saya pun menjawab pertanyaan dokter secara detail.

Pada fitur chat ini, saya juga bisa mengunggah foto sehingga dokter memungkinkan untuk melihat keluhan yang ada di permukaan kulit tersebut. Setelah 10 menit konsultasi, saya didiagnosa mengalami dermatitis atau alergi pada kulit.

Lalu, dokter menyarankan saya agar berjemur pagi hari dan mengurangi intensitas berada di ruangan ber-AC serta mengatur tingkat stres. Dokter juga memberikan sebuah resep digital yang dapat ditebus langsung di apotek terdekat atau menggunakan layanan antar yang terintegrasi dengan ojek online.

Yessa dan saya merupakan bagian dari belasan juta orang di Indonesia yang telah memanfaatkan layanan kesehatan daring atau healthtech seperti yang diharapkan oleh pemerintah.

“Berdasarkan laporan menteri kesehatan, ada 15 juta orang mengakses telemedicine sehingga membantu berkurangnya jumlah pasien yang datang ke rumah sakit,” terang Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo, Senin 6 April 2020 lalu.

Rapid test dapat dilakukan lewat telemedicine Halodoc. / Facebook @HalodocID

Digandeng Pemerintah

Karena dianggap bermanfaat, pemerintah juga sempat menggandeng penyedia layanan telemedis untuk membantu pasien yang dinyatakan positif terinfeksi virus corona dalam melakukan isolasi mandiri.

Sebanyak 20 penyedia layanan telemedis yang bekerja sama dengan pemerintah dalam penanganan COVID-19 yaitu Gojek, Grab, Halodoc, SehatQ, GrabHealth, DokterSehat, Link dan Link Sehat, Klikdokter, MouDok dan Mau Periksa, Sociomile dan Ripple10, YesDok, Prosehat, Perawatku, KlinikGO, Alodokter, Docquity, Qlue, Iykra, Jovee dan Lifepack, dan Eureka AI.

“Semua platform yang selama ini melakukan metode telemedis kita gabungkan untuk membantu pasien yang melakukan isolasi mandiri,” kata Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga dalam konferensi pers Gugus Tugas di BNPB di Jakarta, Jumat 27 Maret 2020 silam.

Arya menilai kerja sama ini diperlukan agar tidak semua orang yang terinfeksi COVID-19 segera menuju dan dirawat di rumah sakit.

Sementara, pada September 2020, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga turut berkolaborasi dengan Good Doctor. Keduanya meluncurkan sebuah program untuk mendukung penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tahap kedua di Ibu kota.

Melalui program PSBB OK! (Promo Spesial BeBas Ongkos Kirim!) Pemprov beserta perusahaan telemedicine itu berharap dapat memudahkan masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan terpadu dengan tetap berada di rumah.

Deputi Gubernur Bidang Pengendalian Kependudukan dan Permukiman DKI Jakarta, Suharti menyatakan bahwa kasus-kasus baru COVID-19 tidak akan menurun tanpa penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Menurutnya layanan telemedis memiliki andil dalam mengatasi masalah jarak dan akses untuk mendapatkan layanan kesehatan di masa pandemi

“Partisipasi dari setiap pihak yang mendukung strategi pentahelix Pemprov DKI Jakarta diharapkan dapat menekan penyebaran COVID-19 di Jakarta,” ujarnya melalui konferensi virtual yang dilaksanakan di Balai Kota, Jakarta, Rabu 23 September 2020.

Aplikasi telemedicine GrabHealth kerja sama antara Grab dan Good Doctor / Dok. Pemprov DKI Jakarta

Lonjakan Pengguna

Managing Director Good Doctor Technology Indonesia Danu Wicaksana menyatakan, kunjungan layanan pada fitur Grab Health tercatat naik 12 kali lipat dibandingkan dengan sebelum adanya pandemi. Sementara, fitur konsultasi chat dokter melejit hingga 17 kali lipat.

Sementara, Co-Founder sekaligus CEO Halodoc Jonathan Budi Sudharta mengatakan, per Maret 2020, jumlah pengunduhan aplikasi Halodoc naik rata-rata tiga kali lipat. Sedangkan jumlah pengguna aktif mengalami peningkatan sebanyak empat kali lipat.

Tidak ingin kalah dari para rivalnya, Alodokter juga mencatatkan peningkatan kunjungan sekitar 40% pada masa pandemi. Jumlah obrolan di platform Alodokter juga tembus 600.000 per bulan dan rata-rata 20.000 per hari.

“Hingga saat ini, aplikasi kami telah diunduh lebih dari 5,6 juta kali,” kata Vice President of Operations Alodokter Tantia Dian pada Mei 2020 lalu.

Pada waktu terpisah, Asosiasi Modal Ventura Untuk Startup Indonesia (Amvesindo) juga mencatat bahwa kunjungan aplikasi kesehatan di Indonesia melonjak hingga 15 kali lipat.

Sejalan dengan hal tersebut, Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) dalam sebuah rilis menyampaikan bahwa layanan startup di sektor kesehatan akan semakin sering digunakan di tengah wabah COVID-19. Asosiasi memperkirakan, transaksi pada platform e-health akan terus meningkat. 

Ilustrasi startup telemedis (telemedicine) / Shutterstock

Lampu Hijau Dari Kemenkes

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Oscar Primadi menilai penerapan aplikasi telemedis merupakan jawaban atas tingginya disparitas fasilitas pelayanan kesehatan di berbagai wilayah Indonesia akibat faktor geografis.

Oleh sebab itu, pihaknya telah membangun kerja sama dengan berbagai pihak yang telah mengembangkan platform layanan kesehatan digital. Salah satunya dengan meneken nota kesepahaman dengan Asosiasi Telemedicine Indonesia (Atensi).

Atensi sendiri merupakan sebuah organisasi yang menaungi sejumlah perusahaan startup di bidang kesehatan untuk memudahkan askesibilitas masyarakat tehadap layanan kesehatan.

Selain dengan Atensi, pihaknya juga menjalin kerja sama dengan kementerian/lembaga terkait. Hal ini dimaksudkan untuk percepatan aspek regulasi dan keterjangkauan dalam program telemedis tersebut. Bahkan, ia menegaskan bahwa sejumlah fasilitas layanan kesehatan juga telah ditunjuk untuk mendukung telemedicine.

“Kami berkomitmen untuk mengembangkan program telemedicine di Indonesia dengan memasukkan program ini sebagai salah satu indikator dalam rencana strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 kemarin. Dan untuk ke depannya tahun 2020-2024 dengan penekanan-penekanan yang lebih kuat lagi,” ujarnya dalam sebuah konferensi virtual di Jakarta, 22 Agustus 2020.

Ilustrasi pengobatan digital alias telemedis (telemedicine) / Shutterstock

Transformasi Digital

Karena melibatkan sisi teknologi, maka startup telemedis juga menjadi perhatian Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menganggap inovasi telemedis sudah seharusnya terus dikembangkan. Baginya, telemedis menjadi terobosan untuk mempercepat tranformasi digital di Indonesia, apalagi di tengah pandemi COVID-19 seperti sekarang ini.

Mengutip data McKinsey 2000, Menteri Johnny menyatakan 44% responden menyatakan beralih dari konsultasi tatap muka ke konsultasi daring. Dia juga menyebutkan lonjakan kunjungan ke aplikasi telemedis sebesar 600% selama pandemi.

“Percepatan transformasi digital selayaknya membuat layanan telemedis semakin baik dan pandemi ini menjadi katalis untuk mempercepat transformasi digital. Ini momentum yang harus segera dimanfaatkan,” tukasnya pada sebuah webinar dengan tema ‘Telemedis Untuk Peningkatan Kualitas Layanan Kesehatan’ di Jakarta, Sabtu 22 Agustus 2020.

Startup telemedis Halodoc hasil kerja sama Kementerian Kesehatan dan Gojek menyediakan tes COVID-19 / Dok. Halodoc

Solutif dan Kompetitif

Pesatnya perkembangan teknologi informasi memberikan dampak yang besar terhadap seluruh aspek kehidupan. Di era serba digital ini, manusia semakin mengedepankan kecepatan, kepraktisan, serta efektivitas, tak terkecuali pada bidang kesehatan.

Pandemi COVID-19 membatasi seluruh aktivitas masyarakat, termasuk dalam mengakses layanan kesehatan. Masyarakat dipaksa mengurangi kontak langsung antar individu jika tidak perlu, termasuk dengan tenaga medis.

Apalagi, tenaga medislah yang paling terancam paparan virus corona jenis baru ini. Sedangkan, ada pandemi atau tidak, kesehatan merupakan kebutuhan utama masyarakat yang mesti dipenuhi, entah sekadar konsultasi ataupun demi pengobatan.

Fenomena ini justru menjadi kabar baik bagi bisnis perusahaan rintisan alias startup bidang kesehatan yang biasa disebut telemedicine. Keterbatasan fasilitas dan tenaga medis seperti sekarang membuat layanan kesehatan virtual laris manis.

Adanya kemajuan teknologi dan pandemi membuat masyarakat tersadar ternyata platform telemedis merupakan sebuah solusi bagi manusia modern untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan.

Dari segi bisnis, jika diperhatikan, biasanya startup yang sukses adalah yang paling sanggup memberikan solusi di tengah kebutuhan masyarakat. Lantas apakah bisnis startup telemedis akan ‘meledak’ layaknya startup ride-hailing pada saat itu seperti Gojek dan Grab yang telah lebih dulu mendulang kesuksesan?

Ilustrasi perusahaan rintisan alias stratup Indonesia yang menyandang gelar unicorn dan decacorn pada 2020. / Foto: Mime.asia

Peluang Unicorn Anyar

Pandemi menjadi berkah tersendiri bagi platform layanan kesehatan virtual. Di era new normal, penggunaan telemedicine semakin pesat. Bahkan pandemi digadang-gadang menjadi akselerator revolusi di dunia kesehatan melalui layanan kesehatan online ini.

Dalam sebuah riset berjudul 30 Consumer Behavior Shifts, Inventure Indonesia menyebut perubahan perilaku masyarakat saat ini berpotensi membuat startup telemedicine berstatus unicorn.

Perusahaan startup bergelar unicorn adalah perusahaan yang nilai valuasi sahamnya sudah mencapai US$1 miliar atau setara dengan Rp14,7 triliun (kurs Rp14.700 per dolar Amerika Serikat).

Startup Decacorn mempunyai valuasi 10 kali lipat dari unicorn, yaitu sebesar US$10 miliar atau setara Rp147 triliun. Terakhir, prestasi paling tinggi yang pernah disematkan kepada perusahaan startup adalah hectocorn, dengan valuasi US$100 miliar atau sekitar Rp1,47 kuadriliun.

Jika benar, siapapun pemainnya, dia akan menjadi perusahaan rintisan bidang kesehatan pertama di Indonesia yang menjadi startup dengan valuasi US$1 miliar tersebut. Selama ini, startup lokal yang telah berhasil mendapatkan predikat unicorn hanya dari sektor transportasi, e-commerce, layanan pembayaran digital, serta travel agent.

Sedangkan, tiga platform telemedicine dalam negeri yang tengah naik daun yakni Halodoc, Alodokter dan Good Doctor Technology Indonesia. (SKO)

Tags:
AlodokterDocquityDokterSehate-healthEureka AIGojek IndonesiaGood Doctor Technology IndonesiaGrabGrabHealthGugus tugas percepatan penanganan covid-19halodocHeadlineHealthTechIykraJovee dan LifepackKementerian BUMNKlikdokterKlinikGOKominfoLink dan Link SehatMouDok dan Mau PeriksaPandemi Covid-19Pemerintah Provinsi DKI JakartaPerawatkuperusahaan rintisanProsehatQlueSehatQSociomile dan Ripple10start upStartupStartup Bidang KesehatanStartup TelemedicineStartup TelemedistelehealthTelemedicineUnicorn
Drean Muhyil Ihsan

Drean Muhyil Ihsan

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: