Start Up Wajib Perhatikan Hal Ini untuk Dapat Modal dari Investor

19 Februari 2021 18:01 WIB

Penulis: Dewi Aminatuz Zuhriyah

Ilustrasi startup pendidikan yang makin moncer / Sujith Sukumar-The Passage

JAKARTA – Bertumbuhnya perusahaan rintisan (start up) di Indonesia menjadi peluang bagi Perusahaan Modal Ventura (PMV) untuk mencari peluang investasi. Di sisi lain, start up akan berlomba untuk mendapatkan pendanaan dari investor.

Wakil Sekreris Jenderal Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (AMVESINDO) Andreas Surya mengatakan  setiap start up memiliki potensi risiko dan reward masing-masing. Namun, tidak semua bisnis yang tergolong investable pasti menjadi tujuan investasi PMV.

“Investor cenderung sudah punya target yang spesifik. Kini semakin mencari inovasi yang mampu berdampak bahkan mengubah selera dan perilaku masyarakat.” kata Andreas dalam keterangan resmi, Jumat 19 Februari 2021.

Menurutnya, perusahaan ventura umumnya memiliki prinsip untuk mencari start up dengan model bisnis yang bisa ditingkatkan secara baik tanpa harus memakan biaya yang besar (scalable).

Kemudian, start up juga harus memiliki bisnis yang tidak hanya berjalan dalam satu siklus tertentu (repeatable). Terakhir, start up harus mampu menunjukkan pertumbuhan yang super cepat (hyper-growth),

Dari mindset tersebut, investor kemudian merumuskan aspek penilaian dan uji kelayakan terhadap start up dengan komprehensif. Pertama, menilai pendiri dan kapabilitasnya serta passion mereka dalam menjalankan perusahaan rintisan ini.

Biasanya PMV akan melakukan background check dari founders terkait kinerja dan pengalaman mereka. Aspek ini sangat krusial dalam menilai start up tahap awal. Sebab, pendiri menjadi risiko sekaligus faktor pendukung terbesar bagi suksesnya start up melaju ke depannya. 

Kedua, menilai pasar atau market sizing, menimbang potensi pasarnya mampu berkembang atau tidak, serta memperhitungkan waktu pasar yang tepat.

“Untuk menggali penilaian dengan lebih objektif, PMV akan berbicara dengan pemain di pasar tersebut untuk mengetahui persepsi, tingkat kepuasan, dan minat mereka terhadap startup ini,” kata Andreas.

Ketiga, PMV akan menilai produk dari start up tersebut. Dalam hal ini, produk yang ditawarkan harus memiliki unique value proposition (USP) yang jelas serta diferensiasi dengan kompetitor.

Menurutnya, saat menilai start up tahap awal, biasanya investor tidak punya cukup data terkait biaya dan profitabilitas. Penilaian akan mengandalkan aspek-aspek kualitatif, atau hanya bisa membandingkan dengan proxy data (misalnya umlah unduhan) dan benchmark dengan bisnis serupa.

“Ini menjadi tantangan tersendiri bagi investor saat harus menilai start up dengan data kuantitatif yang minim,” kata dia.

Terakhir, investor akan menilai performa operasional dan finansial. Di tahap ini, PMV semakin kritis terhadap kemampuan eksekusi start up, mulai dari laporan keuangan historis, proyeksi, unit ekonomi atau struktur biaya, dan potensi profitabilitas.

“Potensi startup untuk exit juga menjadi faktor pertimbangan investasi,” ujarnya.

Berita Terkait