Sri Mulyani Tunjuk Bali Jadi Tujuan Wisata Kesehatan, Targetkan Masyarakat Doyan Berobat Plesir

April 08, 2021, 07:44 PM UTC

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Menteri Keuangan Sri Mulyani . Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkap Bali tengah melakukan revitalisasi pariwisata bidang wisata kesehatan agar masyarakat Indonesia tidak lagi hobi berpelesir kesehatan ke negara tetangga.

Usai pandemi, Sri Mulyani menyebut Bali dapat menjadi destinasi health tourism andalan Indonesia. Selain itu, revitalisasi ini dilakukan sambil menunggu dibukanya travel bubble bagi wisatawan mancanegara.

“Agar bangkit dan berkembang pesat setelah pandemi COVID-19, Bali harus merevitalisasi sektor pariwisata,” kata Sri Mulyani dalam Bali Economic and Investment Forum 2021, Kamis 8 April 2021.

Bali menjadi wilayah yang paling terdampak pandemi COVID-19 akibat melambatnya sektor pariwisata sepanjang 2020. Sri Mulyani menyebut sektor pariwisata Bali terkontraksi hingga 0,3% pada 2020.

Revitalisasi yang diusung bertujuan meningkatkan standar Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability atau CHSE. Pemerintah juga memiliki 18 Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi mencapai Rp33,2 triliun di Bali.

Upaya Kembalikan Gairah Ekonomi Bali

Adanya Pandemi berdampak serius pada pertumbuhan ekonomi Bali. Terlebih lagi, selama ini Bali ditempatkan sebagai ujung tombak sektor pariwisata negara.

Sejumlah upaya dilakukan pemerintah untuk mengembalikan gairah ekonomi Bali. Saat ini Bali masih tengah menggenjot diversifikasi ekonomi agar ceruk pendapatan provinsi ini menjadi lebih beragam

Asisten Deputi Investasi Strategis, Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Investasi dan Kemaritiman Bimo Wijayanto memaparkan, ada sub lima sub sektor diversifikasi Bali yang tengah ditingkatkan. 

Hal itu antara lain, industri kreatif dan ekonomi digital, pendidikan tinggi, wellness and health tourism, pertanian. Dan Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE).

“Sektor-sektor yang resiliensi ini menjadi opportunity bagi Bali dalam jangka menengah hingga panjang nantinya,” kata Bimo dalam kesempatan yang sama.

Bimo melihat terbatasnya mobilitas masyarakat Indonesia ke luar negeri membawa berkah tersendiri bagi health tourism atau wisata kesehatan dalam negeri.

Indonesia tercatat sebagai negara yang paling rajin mengunjungi negara tetangga untuk wisata kesehatan. Masyarakat Indonesia menguasai 65% kunjungan health tourism di Malaysia dan 45% di Singapura

“Banyaknya medical tourist di Malaysia dan Singapura ini coba kita alihkan dan kami melihat peluang bagus dari provinsi Bali,” terang Bimo.

Hal ini sejalan dengan riset Roland Berger Research yang mengungkap tiga wilayah dengan potensi health tourism terbesar di Indonesia. Tiga provinsi itu termasuk Bali, Jakarta, dan Medan.

Kendati demikian, rencana Indonesia dalam mengembangkan health tourism terkendala pasokan dan distribusi Active Pharmaceutical Ingredient (API) atau bahan farmasi aktif. Menurut Bimo, sebanyak 90% kebutuhan API masih bergantung pada impor.

Berdasarkan neraca perdagangan Indonesia pada 2019, nilai impor bahan kimia anorganik, termasuk API, mencapai US$1,9 miliar. Sementara nilai ekspor komoditas ini hanya sebesar US$1,1 miliar. (RCS)

Berita Terkait