Sri Mulyani: COVID-19 akan Wira-wiri, Semua Negara Harus Mendapat Vaksin COVID-19

June 11, 2021, 02:26 PM UTC

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Petugas nakes mengambil dosis vaksin saat pembukaan vaksinasasi untuk mitra driver Gojek di Kemayoran, Jakarta, Kamis, 29 April 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan akses vaksin COVID-19 masih belum merata. Menghadapi kondisi ini, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mendorong negara produsen vaksin COVID-19 untuk memberikan suplai ke negara-negara yang masih belum bisa melakukan vaksinasi.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengatakan COVID-19 tidak akan pernah selesai bila masih ada negara yang belum mencapai herd immunity. Bila kondisi itu terus berlanjut, Sri Mulyani mengatakan sulit bagi seluruh negara untuk pulih secara ekonomi, termasuk negara-negara maju.

“COVID-19 ini tidak akan pernah selesai, mereka akan wara wiri terus sampai seluruh negara itu bisa menyelesaikan vaksinasi COVID-19, ini yang perlu kita kawal,” kata Sri Mulyani dalam webinar yang diselenggarakan Universitas Indonesia (UI), Jumat, 11 Juni 2021.

Distribusi vaksin gratis saat ini dimoderasi oleh COVAX facility yang dibantu WHO dan Aliansi Global untuk Vaksin dan Imunisasi (GAVI). Terbaru, Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk memberi 500 juta dosis vaksin COVID-19 merek Pfizer ke hampir 100 negara.

Bendahara Negara itu mengungkap Indonesia pun berpotensi menolong negara-negara lain menerima vaksin COVID-19. Hal itu datang dari pengembangan vaksin merah putih yang tengah digodok oleh enam lembaga.

Enam lembaga tersebut antara lain, Eijkman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyatakan vaksin merah putih kemungkinan bisa mulai diproduksi massal pada akhir 2021. Usai mendapat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) hingga WHO, Budi menyebut vaksin buatan Indonesia itu bisa didistribusikan ke 130 negara.

“Pemerintah memutuskan untuk tetap mengembangkan vaksin merah putih karena tidak hanya menyelesaikan akses vaksin di tingkat nasional, tetapi global. Mengingat ada 130 negara yang belum terakses vaksin sama sekali,” kata Menkes Budi beberapa waktu lalu.

Vaksin merah putih yang menelan biaya Rp400 miliar ini tengah memasuki tahap pra uji klinis. Hingga saat ini, vaksin tersebut tengah menjalani uji praklinik tahap ke dua.