Sri Mulyani Anggarkan Subsidi Energi Naik 4,3 Persen jadi Rp134 Triliun

17 Agustus 2021 17:41 WIB

Penulis: Fachrizal

Editor: Sukirno

Warga melakukan pengisian bahan bakar kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), di kawasan Kuningan, Jakarta, Senin, 10 Agustus 2020. Dalam rangka menyambut HUT Ke-75 RI Pertamina memberikan program “promo merdeka” pengembalian dana atau cashback sebesar 30 persen dengan pengembalian maksimal Rp 15.000, untuk pembelian BBM jenis Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex kepada masyarakat yang melakukan pembelian melalui aplikasi MyPertamina. Cashback bisa didapatkan diseluruh SPBU Pertamina yang sudah tersedia pembayaran dengan aplikasi MyPertamina selama periode 1-31 Agustus 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menganggarkan subsidi energi pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2022 sebesar Rp134 triliun.  Angka ini naik 4,3% year-on-year (yoy) dari tahun 2021, sebesar Rp128,47 triliun.

"Subsidi energi 2022 diarahkan untuk lebih tepat sasaran. Subsidi energi tahun depan naik jadi Rp134 triliun dari outlook tahun ini Rp128,5 triliun," ujarnya saat konferensi pers Nota Keuangan dan RUU APBN 2022, Senin, 16 Agustus 2021.

Ani, sapaan karib Sri Mulyani menjelaskan, kenaikan subsidi energi ini juga seiring dengan kenaikan asumsi harga minyak mentah (Indonesian Crude Price/ICP) dan perubahan nilai tukar. 

ICP pada RAPBN 2022 diasumsikan US$63 per barel, sedangkan kurs Rp14.350 per dolar Amerika Serikat (AS). Asumsi ini berbeda dibandingkan dengan proyeksi ICP 2021, yakni US$55-US$65 per barel dan kurs Rp14.200 - Rp14.600 per dolar AS.

Selain itu, pada 2020 pemerintah akan melanjutkan pemberian subsidi tetap solar Rp500 per liter. Lalu, mengarahkan pelaksanaan kebijakan subsidi LPG tabung 3 kg dan subsidi listrik menjadi subsidi berbasis Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) secara bertahap. 

"Pelaksanaan transformasi subsidi energi dilakukan secara bertahap sesuai dengan kesiapan data penerima berbasis DTKS dan kondisi ekonomi dan sosial masyarakat," imbuhnya.

Lebih lanjut, Sri Mulyani mengatakan, fokus Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 adalah pemulihan ekonomi dan reformasi struktural. Pandemi COVID-19 pun masih akan menjadi faktor yang memengaruhi APBN untuk tahun depan.

"APBN 2022 fokusnya sangat jelas adalah pemulihan ekonomi dan reformasi struktural. Tentu Covid-19 masih akan menjadi faktor yang mempengaruhi dan sangat dipertimbangkan dalam desain 2022," tegasnya.

Berita Terkait