Sojitz Jepang Siap Tanam Investasi Pabrik Metanol dan Amoniak di Bintuni Rp71,95 Triliun

March 13, 2021, 02:24 PM UTC

Penulis: Reza Pahlevi

Pabrik petrokimia milik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. / Chandra-asri.com

JAKARTA – Dalam kunjungan kerja ke Tokyo, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita didampingi Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh (LBBP) RI-Jepang, Heri Akhmadi bertemu dengan perusahaan industri kimia Sojitz Corporation untuk membahas pengembangan industri metanol di Indonesia.

“Dalam pertemuan tadi, Sojitz menyatakan ketertarikan untuk mengembangkan industri metanol dan amonia di Kawasan Industri Teluk Bintuni yang akan menyerap investasi sekitar US$5 miliar (Rp71,95 triliun dengan kurs Rp14.391 per dolar AS),” ujar Menperin dalam keterangan resmi di Tokyo, dikutip Sabtu, 13 Maret 2021.

Pada pertemuan dengan Presiden dan CEO Sojitz Corporation Fujimoto Masayoshi, Menperin menyampaikan bahwa proyek Bintuni masuk sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), sehingga akan memperoleh kemudahan serta berbagai insentif dari pemerintah.

“Proyek petrokimia di Teluk Bintuni akan menjadi yang terbesar dengan luas sekitar 2.000 hektare. Kami akan membahasnya lebih lanjut pada kunjungan selanjutnya di bulan Mei mendatang,” jelasnya.

Bisnis Sojitz Corporation di Indonesia meliputi perusahaan Kaltim Methanol Industri (KMI) di Bontang, Kalimantan Timur yang merupakan satu-satunya produsen metanol di Indonesia. Perusahaan tersebut berkapasitas produksi 660.000 metrik ton per tahun.

Kemenperin menyebut bahan baku metanol dibutuhkan, antara dalam industri tekstil, plastik, resin sintetis, farmasi, insektisida, plywood. Metanol juga sangat berperan sebagai antifreeze dan inhibitor dalam kegiatan migas. Selain itu, metanol juga merupakan salah satu bahan baku untuk pembuatan biodiesel.

Kawasan Industri Teluk Bintuni dikembangkan secara multiyear dengan menggunakan Kerja sama Pemerintah Badan Usaha (KPBU). Pembangunan infrastruktur di kawasan tersebut ditargetkan dimulai tahun ini dan dilanjutkan pembangunan pabrik-pabrik pada 2022, sehingga penyewa bisa mulai berproduksi pada 2024. (SKO)