Situasi Memburuk, Indonesia akan Evakuasi WNI di Afghanistan

16 Agustus 2021 19:27 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Laila Ramdhini

Pasukan Amerika di Afghanistan/

JAKARTA -- Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri segera mengevakuasi warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Afghanistan setelah Taliban mengkudeta pemerintahan Ashraf Ghani dan menguasai ibukota Kabul yang membuat situasi politik di negara itu mencekam.

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi mengatakan Indonesia memantau secara dekat perkembangan yang sangat cepat yang terjadi di Afghanistan.

"Keselamatan WNI, termasuk staf KBRI Kabul, merupakan prioritas pemerintah Indonesia. Persiapan evakuasi terus dimatangkan, antara lain melalui komunikasi dengan berbagai pihak terkait di lapangan," ujarnya dalam keterangan pers, Senin, 16 Agustus 2021.

Dia menyebut pemerintah Indonesia melalui KBRI Kabul akan tetap dijalankan dengan tim esensial terbatas, sambil terus dilakukan pemantauan situasi keamanan di Afghanistan. Dia berharap penyelesaian politik tetap dapat dilakukan, baik melalui Afghan-owned maupun Afghan-led.

"Perdamaian dan stabilitas tentunya sangat diharapkan oleh masyarakat Afghanistan  dan dunia internasional," katanya.

Dia mengatakan, Indonesia saat ini terus melakukan komunikasi dengan semua pihak di Afghanistan dan juga dengan Perwakilan PBB dan Perwakilan Asing di Afghanistan.

Sementara itu, Juru Bicara Kemlu Teuku Faizasyah mengatakan, pemerintah terus memantau situasi di Afghanistan dan telah berkoordinasi dengan pihak KBRI di Kabul.

Pemerintah, kata Faiza, telah siap mengevakuasi warga maupun staf KBRI jika memang situasinya memburuk.

Selain itu, pemerintah pun telah mengimbau kepada WNI di sana untuk tetap berhati-hati dalam menjalankan aktivitas mereka.

"Pada intinya kita telah lakukan persiapan, kita siap melakukan evakuasi jika kondisnya betul-betul memungkinkan," ujarnya.

Dia mengatakan, ada enam WNI di Afghanistan. Sementara, staf KBRI di Kabul ada 18 orang, termasuk Dubes Arif Rahman.

Kudeta militer Taliban terjadi pada Minggu, 15 Agustus 2021. President Ashraf Ghani juga dilaporkan telah meninggalkan Afghanistan.

Ghani disebut melarikan diri di tengah upaya negosiasi peralihan kekuasaan secara damai. Ia kabur menyusul telah dikepungnya Kabul oleh pasukan Taliban dari segala arah.

Taliban sendiri merupakan kelompok yang lahir setelah perang sipil selepas invasi Uni Soviet ke Afghanistan pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an. Kelompok ini menerapkan tafsir ekstrem terhadap agama Islam sehingga disebut kelompok garis keras.

Taliban sempat menguasai Afghanistan hingga dikalahkan pasukan Amerika Serikat pada 2001. Saat itu, AS menginvasi Afghanistan dan menyerang Taliban karena diduga melindungi Osama bin Laden yang dituduh sebagai otak serangan teror 11 September 2001 di World Trade Center, AS.

Selama dua dekade keberadaan pasukan AS di Afghanistan, Taliban tak juga berhasil dienyahkan. Pada 2020, AS kemudian melakukan perjanjian damai dengan Taliban dengan syarat penarikan seluruh pasukan NATO dan AS dari Afghanistan.

Saat agenda penarikan pasukan itu dijalankan, Taliban memulai agresi. Tentara Afghanistan yang didanai dan dilatih bertahun-tahun oleh AS belum bisa membendung pergerakan pasukan Taliban.

Sejauh ini, ribuan pasukan Taliban dan militer Afghanistan telah gugur dalam agresi selama empat bulan belakangan. Sekitar seribu warga sipil juga meninggal dan seperempat juta warga Afghanistan mengungsi.

Dari beberapa potongan video yang beredar di media sosial, tampak ribuan warga Afghanistan yang meninggalkan tanah air mereka menggunakan pesawat.

Tagar #Taliban bergema di media sosial, dimana sudah sekitar 4 juta percakapan mengenai isu Taliban pada Senin sore.

Kota-kota di negara itu terlihat mulai lengang dan kini rakyatnya tak lagi memiliki harapan untuk kembali setelah menemukan suaka di negara lain.*

Berita Terkait