Sinyal Ekonomi Pulih, Fitch Ratings Tahan Peringkat Utang RI di Level Investment Grade BBB

24 November 2021 10:31 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Sukirno

Sinyal Ekonomi Pulih, Fitch Ratings Tahan Peringkat Utang RI di Level BBB. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (TrenAsia.com)

JAKARTA -- Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings kembali mempertahankan Sovereign Credit Rating atau peringkat utang Indonesia pada peringkat BBB (investment grade) dengan outlook stabil pada 22 November 2021.

Fitch sebelumnya mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada BBB dengan outlook stabil pada 22 Maret 2021.

Peringkat kredit terbaru ini mempertimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah yang baik serta rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) yang rendah.

Meski ada sinyal ekonomi RI pulih, Fitch Ratings melihat masih ada beberapa tantangan yang membayangi Indonesia ke depan.

Misalnya, ketergantungan terhadap pembiayaan eksternal yang tinggi, penerimaan pemerintah yang rendah, serta fitur-fitur struktural, seperti PDB per kapita dan indikator tata kelola, yang relatif tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain pada peringkat yang sama.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan afirmasi peringkat utang Indonesia dengan outlook stabil merupakan bentuk pengakuan Fitch Rating atas stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan Indonesia yang tetap terjaga serta prospek ekonomi jangka menengah yang tetap kuat di tengah perbaikan ekonomi global yang tidak merata dan ketidakpastian pasar keuangan global.

Dia menyebut, positifnya rasio kredit tersebut didukung oleh kredibilitas kebijakan dan sinergi bauran kebijakan yang kuat antara Bank Indonesia dan pemerintah.

"Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik, mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta terus bersinergi dengan pemerintah untuk mempercepat proses pemulihan ekonomi nasional," katanya dalam keterangan pers, Selasa, 23 November 2021.

Pertumbuhan Ekonomi

Setelah meredanya kasus COVID-19 yang sempat meningkat tajam selama Juni hingga Agustus 2021, Fitch Ratings melihat ada potensi ekonomi Indonesia pada 2021 tumbuh lebih tinggi daripada proyeksi mereka sebesar 3,2%, sejalan dengan perbaikan mobilitas masyarakat dan harga komoditas ekspor yang tinggi.

Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan meningkat menjadi 6,8% pada 2022 dan dalam beberapa tahun berikutnya tetap tumbuh pada kisaran 6%, antara lain didukung oleh dampak positif dari implementasi Undang-undang (UU) Cipta Kerja terhadap kenaikan investasi.

Dari sisi fiskal, penerapan UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) diharapkan dapat mendukung upaya mengembalikan defisit fiskal ke bawah 3% dari PDB pada 2023.

Sejalan dengan itu, Fitch Ratings memperkirakan defisit fiskal mencapai 5,4% pada 2021 dan turun menjadi 4,5% pada 2022, lebih rendah dari target pemerintah sebesar 5,8% pada 2021 dan 4,9% pada 2022 yang belum memasukkan dampak penerapan UU HPP.

Perry mengatakan, meski demikian, tantangan dalam meningkatkan rasio penerimaan negara diperkirakan masih ada, termasuk dari sisi perluasan basis pajak dan peningkatan kepatuhan wajib pajak.

Dia mengatakan, terkait pembiayaan fiskal, inisiatif Bank Indonesia dalam mendukung pembiayaan kesehatan dan kemanusiaan akibat pandemi telah menurunkan biaya bunga utang Pemerintah dan memberikan tambahan ruang fiskal bagi pemerintah.

"Untuk menjaga agar respon pelaku pasar terhadap kebijakan ini tetap positif, Fitch mengharapkan kebijakan ini tidak diterapkan berkepanjangan," katanya.

Dia menerangkan, Fitch menilai ketahanan eksternal Indonesia membaik, antara lain terlihat dari kenaikan cadangan devisa dan arus masuk Penanaman Modal Asing (PMA) serta dukungan kerja sama swap line dengan bank sentral lain.

Di sisi lain, laju inflasi yang diperkirakan tetap berada dalam kisaran target 3%±1%, sejalan dengan tekanan permintaan domestik yang masih belum kuat dan dampak dari kenaikan harga minyak internasional terhadap harga jual bahan bakar di dalam negeri yang terbatas.

Namun, Indonesia dipandang masih rentan terhadap perubahan sentimen investor mengingat ketergantungan yang tinggi pada arus masuk portofolio dan ekspor komoditas.*

Berita Terkait