Singapura Jiplak Karya UGM Ihwal Basmi Nyamuk DBD?

JAKARTA – Seorang vlogger terkenal Nas Daily baru-baru ini merilis video singkat soal pembasmian nyamuk demam berdarah dengue (DBD) atau aedes aegypti. Ia mengungkapkan bahwa ide tersebut diiniasiasi oleh para ilmuwan yang berbasis di Singapura.

Pria bernama asli Nuseir Yassin ini menunjukkan bagaimana para ilmuwan tersebut mengembangbiakan jutaan nyamuk di sebuah laboratorium. Nyamuk ini bukanlah nyamuk biasa, pasalnya serangga tersebut yang justru dapat menghentikan penyebarkan wabah DBD.

Caranya pun terbilang unik, nyamuk-nyamuk yang dikembangbiakan ini nantinya akan disebar ke seantero Negeri Jiran itu untuk melakukan perkawinan dengan nyamuk DBD. Nyamuk-nyamuk tersebut ternyata dapat memberikan efek kemandulan pada nyamuk DBD betina setelah melakukan perkawinan.

Dengan proses itu, diharapkan serangga merugikan ini tidak dapat berkembang biak. Selain itu, nyamuk tersebut juga tidak menggigit manusia layaknya nyamuk pada umumnya.

Namun siapa sangka jika ide tersebut ternyata bukanlah yang pertama kali. Jauh sebelum itu, para peneliti dari dalam negeri telah terlebih dahulu melakukan hal serupa.

Tangkapan layar video terkait nyamuk DBD di Singapura / Facebook @nasdaily

Tiru Ide Anak Bangsa

Ide pemberantasan nyamuk DBD diinisiasi oleh Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program Eliminate Dengue Project (EDP) Yogyakarta sejak 2011. Program tersebut ketika itu didanai oleh Yayasan Tahija (Tahija Foundation).

Program EDP tersebut, kini telah berganti nama menjadi World Mosquito Program, dengan pengembangan proyek yang mengarah ke sejumlag negara di dunia.

Dalam prosesnya, para peneliti menyuntikkan bakteri bernama wolbachia ke dalam tubuh nyamuk. Lalu menyebarkannya ke alam bebas untuk melakukan perkawinan dengan nyamuk DBD. Bakteri ini dipercaya dapat ‘menetralisir’ virus dengue dalam tubuh nyamuk aedes aegypti.

Wolbachia merupakan bakteri yang terdapat pada 60% jenis serangga seperti kupu-kupu dan lebah. Namun, bakteri ini tidak terdapat pada nyamuk aedes aegepty yang menjadi faktor penyebaran DBD.

Pada Januari 2014, EDP Yogyakarta telah melepas nyamuk ber-wolbachia di beberapa wilayah endemis demam berdarah. Pelepasan nyamuk ini dilakukan setelah dua tahun masa persiapan dan perizinan.

Yayasan Tahija lewat program Eliminate Dengue Project (EDP) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dalam penelitian pemberantasan deman berdarah dengue dengan bakteri alami Wolbachia pada 7 April 2017 / Ugm.ac.id

Bekerja Sama Dengan Organisasi Global

Bahkan baru-baru ini EDP Yogyakarta menjalin kerja sama dengan organisasi global melalui World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta. Proyek ini merupakan kolaborasi antara EDP Yogyakarta dengan Monash University, Melbourne, Australia sebagai pionir WMP.

World Mosquito Program sendiri merupakan sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada penanggulangan penyakit akibat nyamuk. Beberapa proyek serupa telah dilaksanakan di sejumlah negara, antara lain Australia, Mexico, Brazil, Kolombia, Indonesia, Vietnam, India, Sri Lanka, serta negara di Kepulauan Pasifik.

WMP Yogyakarta telah mengumumkan hasil akhir penelitiannya di Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode wolbachia efektif menurunkan 77% kejadian dengue di daerah intervensi.

Penelitian yang dimulai pada 2017 tersebut, menyasar 35 dari 45 kelurahan di Kota Yogyakarta dengan populasi 312.000 penduduk. Hasil rinci dari penelitian ini pun akan dipresentasikan pada International Scientific Congress dan dipublikasikan di beberapa jurnal ternama dunia.

Peneliti BATAN, Ali Rahayu (kanan) sedang menunjukkan sampel nyamuk yang telah dimandulkan dengan sinar radiasi gamma pada 7 September 2016 / Batan.go.id

Pemandulan Nyamuk Dengan Sinar Gamma

Selain EDP Yogyakarta, ternyata pengendalian nyamuk DBD juga telah menjadi perhatian pemerintah sejak lama. Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional (PAIR Batan) telah mengembangkan pemandulan nyamuk aedes aegypti jantan dengan memakai teknik serangga mandul (TSM).

Caranya, nyamuk dimandulkan dengan disinari sinar gama pada sebuah laboratorium. Setelah itu, nyamuk steril dilepas ke lingkungan bebas.

Dalam uji coba di sejumlah daerah pada 2011-2012 lalu, penyebaran nyamuk ‘mandul’ tersebut terbukti menurunkan tingkat rumah yang terdapat nyamuk mematikan tersebut.

Bahkan, dalam periode tujuh bulan setelah pelepasan nyamuk, tidak ditemukan lagi kasus demam berdarah di daerah tersebut.

Batan juga menyatakan, adanya pelepasan nyamuk ‘mandul’ tidak berdampak bagi lingkungan. Berkurangnya populasi nyamuk aedes aegypti juga tak akan mengganggu rantai makanan, sebab cicak dan katak bisa memakan nyamuk jenis lain.

Sedangkan, teknik pemandulan nyamuk aedes aegypti juga didukung oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Selain Indonesia, uji pemandulan nyamuk ini juga dilakukan pada sejumlah negara seperti Italia, China, dan Mauritius.

Pada 2016 lalu, Batan diketahui telah memiliki dua alat pemandul nyamuk yang beroperasi selama 24 jam. Masing-masing alat bisa memandulkan 54.000 nyamuk per jam.

Selain itu, Batan juga telah mematenkan kemasan pengiriman nyamuk. Hal ini membuat nyamuk dapat bertahan selama seminggu, sehingga memungkinkan untuk dikirim dengan moda transportasi apapun. (SKO)

Tags:
Aedes aegyptiBadan Tenaga Atom InternasionalBadan Tenaga Nuklir NasionalBakteri WolbachiaBatanDBDEDP YogyakartaEliminate Dengue ProjectIAEAInternational Scientific CongressNas DailynyamukPusat Aplikasi Isotop dan Radiasi Badan Tenaga Nuklir NasionalugmUniversitas Gadjah MadaWorld Mosquito ProgramYayasan Tahija
Drean Muhyil Ihsan

Drean Muhyil Ihsan

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: