Sinergi BUMN, Jalur Kereta Lintas Sawahlunto-Muaro Kalaba di Sumbar Hidup Kembali

24 Juni 2022 12:40 WIB

Penulis: Desi Kurnia Damayanti

Editor: Yosi Winosa

Rangkaian Kereta Api jarak jauh melintas di area Depo Cipinang, Jakarta Timur, Selasa, 22 Juni 2021. (Ismail Pohan/Trenasia)

JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) bekerja sama dengan PT Bio Farma (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) untuk menghidupkan kembali jalur kereta lintas Sawahlunto-Muaro Kalaba di Sumatera Barat. 

Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo mengatakan pengoperasian kembali jalur kereta tersebut merupakan salah satu upaya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mendukung percepatan pemulihan perekonomian Sumatera Barat di sektor pariwisata.

“Selain mendukung percepatan pemulihan ekonomi Sumatera Barat, jalur sepanjang 4 km tersebut nantinya akan melayani kereta wisata yang akan ditarik oleh Lokomotif Uap E1060 atau lebih dikenal dengan sebutan Mak Itam,” kata dia dalam laman resmi KAI dikutip Jumat, 24 Juni 2022.

Menurut Didiek, pekerjaan pengoperasian kembali jalur ini akan memakan waktu kurang lebih 6 bulan. Sehingga diharapkan akhir bulan Desember 2022, jalur tersebut selesai. Dengan begitu, Jalur Sawahlunto-Muaro Kalaban ditargetkan dapat dioperasikan kembali pada Januari 2023.

Ditambahkan Didiek, KAI akan memastikan pendanaan sponsorship yang diberikan akan dilaksanakan dengan accountable dan dengan Good Corporate Governance serta diselesaikan sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan.

Kolaborasi KAI ini mendapatkan dukungan dari Bio Farma, Pupuk Indonesia, dan SIG, untuk melakukan perbaikan prasarana berupa perbaikan rel, jembatan, terowongan, serta prasarana pendukung lainnya. 

Sebagai tambahan informasi, Jalur Sawahlunto – Muaro Kalaban pertama kali dibangun oleh Perusahaan Kereta Api Negara Sumatra Staats Spoorwegen (SSS) dan dioperasikan sejak 1894. 

Alasan utama pembangunan awal kereta api di Sumatera Barat adalah sebagai sarana pengangkutan batu bara di Ombilin, Sawahlunto. Namun, akhir tahun 2000 produksi batu bara di Sawahlunto semakin berkurang dan secara otomatis aktivitas kereta api di jalur ini pun berhenti. 

Jalur tersebut sempat digunakan untuk perjalanan KA Wisata Mak Itam pada tahun 2009 dan berhenti total pada tahun 2014. Adapun Mak Itam kemudian dipajang di Museum Kereta Api Sawahlunto. 

Berita Terkait