Simpanan di Bank Naik Jadi Rp7.038 Triliun, Deposito Mendominasi 40,15 Persen

03 September 2021 13:05 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Laila Ramdhini

LPS memutuskan untuk mempertahankan tingkat bunga penjaminan untuk rupiah dan valas di bank umum masing-masing 5,25% dan 1,5%. Sementara itu, tingkat bunga penjaminan untuk rupiah di BPR sebesar 7,75%. / Foto: Ismail Pohan – TrenAsia

JAKARTA – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melaporkan jumlah rekening dan nominal simpanan di bank tetap tumbuh secara tahunan (yoy).

Berdasarkan jenisnya, dari total simpanan pada Juli 2021 sebesar Rp7.038 triliun, proporsi pangsa terbesar simpanan ialah produk deposito (40,15%). Diikuti oleh tabungan (32,01%), giro (26,87%), serta deposit on call dan sertifikat deposito (0,97%). 

Adapun giro mengalami pertumbuhan simpanan tertinggi yakni sebesar 17,51% (yoy). Diikuti oleh tabungan sebesar 13,66%, dan deposito sebesar 4,14%.

Cakupan penjaminan LPS kepada masyarakat telah mencapai di atas target sebagaimana target tersebut ditetapkan oleh Undang - Undang LPS yakni sebesar 90%.  Berdasarkan data Juli 2021, cakupan penjaminan LPS ialah 99,92% atau 359.644.232 rekening simpanan. 

Besaran nilai simpanan yang dijamin LPS sebesar Rp2 miliar per nasabah per bank setara dengan 35,1 kali produk domestik bruto (PDB) per kapita nasional 2020. Rasio ini jauh di atas rata-rata upper-middle income countries yang sebesar 6,3 kali PDB per kapita, dan lower-middle income countries yang sebesar 11,3 kali PDB per kapita. 

“Tingginya cakupan penjaminan simpanan ini menunjukkan tingginya komitmen LPS dalam menjaga kepercayaan nasabah perbankan nasional,” kata Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa dalam laman resmi LPS, dikutip Jumat 3 September 2021.

Purbaya pun menjelaskan merebaknya varian Delta sempat menyebabkan perlambatan aktivitas ekonomi yang terjadi karena pelaksanaan PPKM Darurat (Level 4) mulai awal Juli sampai sekitar minggu ketiga Agustus. 

Namun demikian, kebijakan PPKM ini beserta program vaksinasi masyarakat secara intensif oleh pemerintah, memberikan dampak yang baik dalam menurunkan kasus positif COVID-19 serta Bed Occupancy Rate (BOR) nasional. 

“Melihat perkembangan yang baik ini, dunia usaha kembali optimis, seperti yang tercermin pada PMI Manufaktur Indonesia yang pada Agustus meningkat menjadi 43,7 dari bulan Juli yang sempat menurun ke level 40,1,” jelasnya.

Purbaya juga menekankan, LPS terus bersinergi dengan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan sesuai dengan kewenangannya.

Berita Terkait