Simak! Profil Lengkap 7 BUMN yang Akan Dibubarkan Erick Thohir

27 September 2021 21:08 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Laila Ramdhini

Ilustrasi Menteri BUMN Erick Thohir. (TrenAsia/Deva Satria.)

JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir akan membubarkan tujuh BUMN yang sudah lama tidak beroperasi guna menciptakan efisiensi kinerja. Erick menegaskan bahwa ketujuh perusahaan tersebut dinilai tidak sehat secara keuangan bahkan telah bangkrut sejak lama.

"Kalau tidak diambil keputusan cepat, itu nanti akan membuat perusahaan tersebut makin lama makin tidak sehat," kata Erick dalam keterangan resmi, Kamis, 23 September 2021.

Erick memaparkan ketujuh BUMN yang segera dibubarkan antara lain PT Merpati Nusantara Airlines (Persero), PT Industri Gelas (Persero), PT Istaka Karya (Persero), PT Kertas Kraft Aceh (Persero), PT Industri Sandang Nusantara (Persero), PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (Persero), dan PT Kertas Leces (Persero).

Erick mengakui untuk mengetuk palu pembubaran perusahaan pelat merah tidaklah mudah. Butuh proses dan konsolidasi internal yang panjang. Termasuk misalnya meminta dukungan dari Presiden Joko Widodo dan semua menteri Kabinet Kerja, serta mendapat persetujuan Komisi VI DPR RI.

Berikut profil ketujuh BUMN yang bakal dibubarkan Erick dalam waktu dekat ini.

1. PT Merpati Nusantara Airlines

Merpati Airlines didirikan pada 1962. Sebagian besar saham perusahaan ini dimiliki oleh pemerintah.

Sebelum berhenti beroperasi pada tahun 2014, Merpati Airlines sempat memiliki 40-50 armada yang melayani penerbangan domestik. Satu-satunya rute penerbangan internasional adalah ke Timor Leste.

Merpati menangguhkan seluruh penerbangan dikarenakan masalah keuangan yang bersumber dari berbagai utang yang besar.

Merpati membutuhkan suntikan Rp7,2 triliun untuk dapat beroperasi kembali.

Pada 18 September 2014, Menteri BUMN Dahlan Iskan menyatakan pemulihan maskapai ini membutuhkan Rp15 triliun untuk menutup pembayaran gaji, berbagai kerugian yang diderita perusahaan, dan utang untuk 2.000 pihak.

Dahlan Iskan menyatakan rencana untuk menghidupkan kembali maskapai ini sudah menemui jalan buntu karena restrukturisasi aset dan rencana penjualan tidak menguntungkan lagi.

Adapun rencana penjualan fasilitas pemeliharaan Merpati dinilai berkisar pada harga Rp300 juta.

Pemerintah menugaskan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) untuk mengurus Merpati dengan memberikan pinjaman dana restrukturisasi Rp663,99 miliar.

Namun rupanya tidak tertolong karena utang Merpati ditengarai mencapai Rp10 triliun. Maskapai ini memiliki fasilitas perawtan dan perbaikan pesawat di Jawa Timur, tetapi pendapatannya setelah tahun 2017 hanya Rp16 miliar.

Setelah berhenti beroperasi, Merpati diketahui memiliki sekitar 20 armada. Namun belum diketahui apakah pesawat-pesawat itu masih berfungsi atau tidak.

2. PT Industri Gelas atau Iglas

T Iglas adalah salah satu BUMN yang dilirik Erick untuk dibubarkan. Produsen kemasan gelas, khususnya botol ini sudah dinyatakan 'mati suri' sejak 2015.

Erick bahkan pernah menyebut pemain industri manufaktur ini dengan 'hidup segan mati tak mau'.

Dikutip dari situs Kementerian BUMN, Iglas didirikan pada 29 Oktober 1956, dan baru beroperasi secara penuh pada 1959.

Perusahaan ini memproduksi berbagai jenis botol untuk memenuhi kebutuhan industri bir, minuman ringan, farmasi, makanan, dan kosmetika.

Total produksinya pernah mencapai 340 ton per hari atau 78.205 ton per tahun.

Iglas juga pernah mengalami masa kejayaan. Perusahaan ini dulunya pernah merajai pangsa pasar kemasan gelas.

Banyak perusahaan di Indonesia yang memercayakan pembuatan kemasannya dikerjakan oleh BUMN yang berkantor pusat di Segoromadu, Gresik ini.

Salah satu perusahaan yang bergantung pada PT Iglas adalah Coca-Cola. Hampir separuh pabrik PT Iglas dikerahkan untuk memproduksi botol beling Coca-Cola.

Namun Coca-Cola perlahan mengurangi pemesanan botol pada PT Iglas karena perusahaan asal Amerika Serikat ini mulai beralih ke kemasan botol platik.

Aset Iglas saat ini berada di bawah pengelolaan PT PPA. Pada 2017, aset Iglas hanya sekitar Rp119,87 miliar dengan utang Rp1,09 triliun, ekuitas minus Rp977,46 miliar, pendapatan Rp824 juta, dan rugi bersih Rp55,45 miliar.

PPA sempat mengucurkan dana talangan sebesar Rp49,96 miliar dan pinjaman dana restrukturisasi Rp89,08 miliar untuk perusahaan ini, namun proses tersebut tidak bisa menyelamatkan 'nyawa' iglas.

Erick akhirnya resmi membubarkan iglas karena dianggap menjadi beban negara.

3. PT Istaka Karya

Istaka Karya didirikan pada 1986 dan bergerak di bidang konstruksi. Perusahaan ini sebelumnya bernama PT ICCI (Indonesian Consortium of Construction Industries) dan merupakan suatu konsorsium yang beranggotakan 18 perusahaan konstruksi Indonesia.

Sejak tahun lalu, Istaka Karya sudah tidak membayar gaji karyawannya dan mem-PHK karyawannya karena kesulitan keuangan.

Pada 2011, utang Istaka Karya memiliki utang Rp1,19 triliun kepada 290 kreditur dengan aset hanya Rp120 miliar.

Tahun ini, utang jatuh tempo Istaka Karya tercatat sebesar Rp600 miliar hingga Rp800 miliar yang saat ini tengah direstrukturisasi PT PPA.

PPA sendiri telah menerima Surat Kuasa Khusus (SKK) dari Menteri BUMN sejak 30 September 2020 untuk melakukan  restrukturisasi.

Tahun lalu, Istaka sempat mendapat dana talangan dari PPA senilai Rp62,44 miliar, namun belum jelas penggunaan dana tersebut.

Tahun ini, Istaka meraih kontrak baru dari Kementerian PUPR senilai Rp600 miliar untuk proyek pembangunan infrastruktur.

Namun dengan Erick telah mengetuk palu pembubaran, otomatis seluruh aset Istaka akan dijual melalui proses likuidasi.

4. PT Kertas Kraft Aceh

PT Kertas Kraft Aceh adalah mantan perusahaan tempat kerja Jokowi ketika pertama kali menyelesaikan pendidikan Sarjana Kehutanan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1985.

Perusahaan tersebut merupakan sebuah perusahaan pelat merah yang bergerak di bagian pulp (bubur kertas).

PT Kertas Kraft Aceh memang sudah lama sakit alias tidak sehat. Bahkan sejak 31 Desember 2007, perusahaan ini tidak beroperasi karena sudah tidak punya lagi punya bahan baku dan gas.

Menurut keterangan Kementerian BUMN, Kertas Kraft Aceh bergerak di bidang industri pulp dan kertas yang didirikan dalam rangka swasembada pengadaan kertas kantong di dalam negeri. Pabrik mulai beroperasi pada 1989, dengan produksi komersial pada 1990.

PT KKA memiliki pabrik dengan kapasitas terpasang 135.000 ton per tahun yang dibangun di kawasan industri  Lhokseumawe, sekitar 30 km dari kota Lhokseumawe, Aceh Utara.

Dalam perjalanannya, pabrik PT KKA tidak berjalan lancar. Ketiadaan pasokan bahan baku menjadi penyebab utama.

Keterangan yang dirilis Kementerian BUMN pada 2012-2015 mencatat PT KKA mengalami kerugian Rp354 miliar.

Sementara pada 2015, total aset perusahaan tersisa sebesar Rp669 miliar dengan total utang Rp1,44 triliun.

Saat ini, perusahaan masih berada dalam proses restrukturisasi atau penyehatan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) dan segera dibubarkan melalui proses likuidasi.

5. PT Industri Sandang Nusantara

PP Industri Sandang Nusantara adalah perusahaan tekstil yang berkantor pusat di Bekasi, Jawa Barat. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1999.

BUMN ini awalnya lahir dalam rangka swasembada kebutuhan pangan (1961), perusahaan ini memproduksi benang tenun, karung, dan karung plastik yang diproduksi oleh 7 baril pemintalan, 1 baril terpadu (pemintalan dan pentenunan) serta satu pabrik karung plastik.

Perusahaan BUMN ini mulai bermasalah sejak satu dekade lalu ketika mengalami kesulitan keuangan untuk membayar utang yang makin menggunung.

Pada tahun 2013, ISN membayar sekitar Rp46,03 miliar utang kepada sejumlah kreditur. Masing-masing Bank BNI Rp20,47 miliar sejak 1999, Bank Mandiri Rp1,56 miliar sejak 1993,  pembayaran subsidiary loan agreement (SLA) Rp18,73 miliar sejak 1997 dan membayar sebagian utang RDI Rp 5,27 miliar sejak 1997.

Selain itu, ISN juga melakukan PHK terhadap 1.864 orang karyawannya.

Saat ini, ISN fokus pada pembenahan neraca keuangan. Perseroan merupakan salah satu BUMN yang dikelola oleh PT PPA akibat rugi yang menahun.

Dalam laporan keuangan tahun 2017, ISN memiliki aset Rp492 miliar, utang Rp265 miliar, dengan pendapatan Rp48 miliar pada tahun lalu.

Dengan pendapatan yang terus menurun, perusahaan hampir tidak bisa menutup kewajibannya yang makin besar. Erick menilai bahwa BUMN ini layak dilikuidasi.

6. PT PANN

PANN bergerak di pembiayaan kapal. Namun, Erick mengatakan BUMN ini memang tidak fokus menjalankan bisnisnya, di mana justru menyasar lini bisnis lain, yaitu perhotelan.

Erick juga pernah memberi fakta yang mengagetkan kepada publik lantaran dia menyebut PANN hanya memiliki tujuh pegawai, dari direksi sampai komisaris.

PT PANN didirikan 1974. BUMN ini didirikan sebagai alternatif lembaga keuangan non-bank khusus untuk membiayai pembelian kapal yang bertujuan mengembangkan pelayaran nasional.

Fokus bisnis dari perseroan ini membiayai kapal-kapal niaga nasional dengan fokus pembiayaan kepada perusahaan pelayaran kelas menengah ke bawah.

Pada periode 1991-2004 kegiatan usaha PT PANN diperluas untuk membiayai berbagai jenis barang modal. Nama perusahaan diubah menjadi PT PANN Multi Finance.

Tapi, pada 2004 perusahaan kembali fokus pada core busines yaitu pembiayaan kapal.   Pada 2013 dilakukan pemisahan bisnis (spin-off) sehingga seluruh kegiatan bisnis inti PT PANN (Persero) dalam bidang usaha pembiayaan dialihkan ke PT PANN Pembiayaan Maritim.

Tahun 2020, PT PANN mendapatkan dana penyertaan modal negara (PMN) dalam bentuk Subsidiary Loan Agreement (SLA) atau konversi utang sebesar Rp3,76 triliun.

Sejak 1994, likuiditas PANN sudah mulai tergerus dan bahkan sampai habis likuiditasnya dan mulai negatif ekuitasnya mulai 2004.

Pada 2006 PT PANN meminta Kementerian Keuangan menghentikan bunga pinjaman PT PANN terhadap dua proyek tersebut, sementara pokok utang tetap dibukukan berdasarkan kurs Rp9.020 per dolar AS.

Sejak 2006, PT PANN akhirnya meminta restrukturisasi kepada pemerintah dan baru pada 2013 disetujui tetapi konversi pinjaman SLA membengkak US$271 juta, sudah menjadi US$461 juta karena bunga dan denda bunga pinjaman.

Menurut laporan keuangan tahun 2019, aset PT PANN tercatat sebanyak Rp943,36 miliar dengan utang 380,10 miliar. Sementara itu, ekuitas perusahaan sebesar Rp673,43 miliar dan liabilitas Rp269,92 miliar.

7. PT Kertas Leces

Perusahaan ini merupakan BUMN tua didirikan pada 1939 dengan kantor pusat di Leces, Probolinggo, Jawa Timur.

PT Kertas Leces mulai berhenti beroperasi sejak 2010. Alasannya karena Perusahaan Gas Negara (PGN) menghentikan pasokan gasnya, lantaran Kertas Leces sudah menunggak utang sebesar Rp41 miliar.

Setelah cukup lama terlilit masalah keuangan, perusahaan pelat merah ini diputus pailit alias bangkrut oleh Pengadilan Niaga Surabaya pada 25 September 2018.

Usai diputus pailit, aset perusahaan harus dijual untuk menutup kewajiban yang harus dibayarkan ke 431 kreditur yang nilainya mencapai Rp2,12 triliun.

Rinciannya tagihan preferen (prioritas) senilai Rp 747,861 miliar, separatis (dengan jaminan) senilai Rp 1,154 triliun, dan konkuren (tanpa jaminan) senilai Rp 222,735 miliar.

PT PPA pernah mengucurkan dana talangan senilai Rp38,5 miliar. Tapi sampai sekarang belum ada kelanjutan dari proses penyehatan produsen kertas tersebut.*

Berita Terkait