Simak Laporan Terbaru dari CDC Amerika Mengenai Efek Samping Vaksin COVID-19

12 November 2021 18:30 WIB

Penulis: Justina Nur Landhiani

Editor: Rizky C. Septania

Simak Laporan Terbaru dari CDC Amerika Mengenai Efek Samping Vaksin COVID-19 (Freepik.com/Rawpixel.com)

JAKARTA - Vaksinasi COVID-19 merupakan salah satu program yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk menekan jumlah kasus positif COVID-19 di Tanah Air. Selain itu, vaksinasi COVID-19 juga bertujuan agar herd immunity atau kekebalan kelompok dapat terwujud.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menyebutkan bahwa vaksin COVID-19 tetap aman untuk diberikan. Akan tetapi, mungkin ada efek samping yang akan timbul terhadap sebagian orang.

Namun, meski bisa menimbulkan efek samping, CDC tetap merekomendasikan semua orang terutama yang sudah berusia 12 tahun ke atas untuk mendapatkan vaksinasi sesegera mungkin untuk melindungi diri dari COVID-19 dan komplikasi terkait yang dapat menjadi parah.

CDC juga merilis informasi terbaru tentang efek samping yang dapat terjadi, seperti yang dilansir dari laman resmi Covid19.go.id.

1. Anafilaksis

Anafilaksis adalah suatu reaksi alergi berat yang dapat timbul secara tiba-tiba, bahkan dapat menyebabkan kematian. Beberapa gejala yang timbul karena anafilaksis yaitu ruam gatal, pembengkakan pada tenggorokan, dispnea, muntah, kepala terasa ringan, dan tekanan darah menjadi rendah.

Namun, anafilaksis setelah pemberian vaksin COVID-19 jarang terjadi. Akan tetapi ada kasus yang terjadi di Amerika Serikat pada sekitar 2 sampai 5 orang per satu juta orang yang divaksinasi.

Selain itu, mungkin bisa timbul reaksi alergi yang parah seperti anafilaksis setelah vaksinasi. Jika hal ini terjadi, diharapkan penyedia vaksinasi dapat secara efektif mengobati reaksi tersebut.

2. Trombosis dengan Sindrom Trombositopenia

Trombosis dengan TTS usai mendapat vaksin  Johnson & Johnson Janssen (J&J/Janssen) COVID-19 jarang terjadi. Per tanggal 13 Oktober 2021, lebih dari 15,2 juta dosis Vaksin J&J/Janssen COVID-19 telah diberikan di Amerika Serikat.

CDC dan FDA juga telah mengidentifikasi 47 laporan yang dikonfirmasi tentang orang-orang yang mendapatkan Vaksin J&J/Janssen COVID-19 dan kemudian mengembangkan TTS. Wanita berusia 50 tahun ke bawah harus waspada terhadap risiko ini meski jarang ditemukan.

Hingga saat ini, dua kasus TTS yang dikonfirmasi setelah vaksinasi mRNA COVID-19 (Moderna) telah dilaporkan ke VAERS setelah lebih dari 388 juta dosis vaksin mRNA COVID-19 diberikan di Amerika Serikat. Berdasarkan data yang tersedia, tidak ada peningkatan risiko TTS setelah vaksinasi mRNA COVID-19.

3. Guillain-Barre Syndrome (GBS)

CDC dan FDA masih memantau laporan Guillain-Barre Syndrome (GBS) pada orang yang telah menerima Vaksin J&J/Janssen COVID-19. GBS sendiri merupakan kelainan langka di mana sistem kekebalan tubuh merusak sel-sel saraf, menyebabkan kelemahan otot dan terkadang kelumpuhan.

Pada umumnya, orang akan pulih sepenuhnya dari GBS, tetapi ada juga yang mengalami kerusakan saraf permanen. Setelah lebih dari 15,2 juta dosis Vaksin J&J/Janssen COVID-19 diberikan, ada sekitar 233 laporan awal GBS yang diidentifikasi di VAERS per 13 Oktober 2021.

Kasus-kasus ini sebagian besar telah dilaporkan sekitar 2 minggu setelah vaksinasi dan sebagian besar pada pria, berusia 50 tahun ke atas. CDC akan terus memantau dan mengevaluasi laporan GBS yang terjadi setelah vaksinasi COVID-19 dan akan mengupdate informasi terbaru.

4. Miokarditis dan Perikarditis

Miokarditis atau peradangan dinding otot jantung dan perikarditis atau peradangan dari perikardium setelah vaksinasi COVID-19 jarang terjadi. Hingga 13 Oktober 2021, VAERS telah menerima 1.638 laporan miokarditis dan perikarditis di antara orang berusia 30 tahun ke bawah yang menerima vaksin COVID-19.

Sebagian besar kasus telah dilaporkan setelah vaksinasi mRNA COVID-19 (Pfizer-BioNTech atau Moderna), terutama pada remaja pria dan dewasa muda. Melalui tindak lanjut, termasuk tinjauan rekam medis, CDC dan FDA telah mengkonfirmasi 945 laporan tentang miokarditis atau pericarditis dan kini sedang menyelidiki laporan ini untuk menilai apakah ada hubungan dengan vaksinasi COVID-19.

Laporan kematian setelah vaksinasi COVID-19 juga jarang terjadi. Lebih dari 408 juta dosis vaksin COVID-19 diberikan di Amerika Serikat dari 14 Desember 2020 hingga 18 Oktober 2021.

Selama waktu tersebut, VAERS menerima 8.878 laporan kematian (0,0022%) di antara orang-orang yang menerima COVID-19 vaksin. FDA mewajibkan penyedia layanan kesehatan untuk melaporkan kematian apapun setelah vaksinasi COVID-19 kepada VAERS, meskipun tidak jelas apakah vaksin itu penyebabnya. Laporan efek samping kepada VAERS setelah vaksinasi, termasuk kematian, tidak selalu berarti bahwa vaksin menyebabkan masalah kesehatan.

Seperti yang dilansir dari laman covid19.go.id, di Indonesia, hingga saat ini tidak ada kasus meninggal dunia akibat COVID-19. Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) Prof Hindra Irawan Satari menegaskan sampai saat ini tidak ada yang meninggal karena vaksinasi COVID-19.

Namun, sebelumnya sempat beredar kabar bahwa sebanyak 30 orang meninggal dunia setelah melakukan vaksin COVID-19. Akan tetapi, Prof Hindra menjelaskan ada 27 kasus kematian diduga akibat vaksinasi dengan Sinovac. Namun setelah investigasi, kematian tersebut tidak terkait dengan vaksinasi. Investigasi meliputi data pemeriksaan, perawatan, rontgen, hasil laboratorium, dan CT scan. Sementara yang meninggal diduga akibat vaksinasi AstraZeneca ada 3 kasus. Namun juga tidak diakibatkan oleh vaksinasi melainkan karena penyakit lain.

Berita Terkait