Siap-Siap, Desa Wisata Bakal Dipoles Makin Cantik

30 September 2021 12:08 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Sukirno

Tempat berfoto di kawasan wisata Svargabumi. Menjadikan lingkungan di sekitar Candi Borobudur sebagai daya tarik pariwisata. / Foto: Instagram Svargabumi

JAKARTA -- Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bertujuan memperkuat dan mengakselerasi program strategis untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di masa pandemi.

Salah satu program yang didorong adalah melalui desa wisata yang dikembangkan seiring dengan upaya peningkatan kompetensi saumber daya manusia (SDM) pariwisata dan ekraf.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf Vinsensius Jemadu menjelaskan, desa wisata dapat menopang perekonomian Indonesia.

Kendati demikian, hal tersebut baru bisa dilakukan jika desa wisata menjadi destinasi wisata yang berkembang dan berkelanjutan.

"Salah satu upaya untuk mewujudkan destinasi wisata berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan. Dan mampu mendorong pembangunan daerah, kesejahteraan masyarakat, dan ajang promosi potensi desa wisata ke wisatawan baik domestik maupun mancanegara," katanya dalam Rakornas Kemenparekraf, Rabu, 29 September 2021.

Dia menyebutkan pihaknya juga berkomitmen untuk mengembangkan desa wisata melalui program sertifikasi desa wisata.

Pada 2020, pihaknya telah memberikan sertifikasi desa wisata berkelanjutan kepada 16 desa wisata. Tahun ini, jumlahnya naik menjadi empat kali lipat.

"Tahun ini ada 60 desa wisata yang akan disertifikasi oleh Kemenparekraf. Potensi desa wisata juga tercatat dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021, di mana peserta yang mendaftar mencapai 1.831 peserta dari 34 provinsi di Indonesia. Jumlah tersebut melebihi ekspektasi awal yang hanya sekitar 700 peserta," paparnya.

Vinsensius menjelaskan, produk wisata juga memiliki andil dalam membuat desa wisata semakin berkembang di masa depan.

Pengemasan produk wisata menurutnya perlu didukung oleh sejumlah fasilitas. Mulai dari tersedianya homestay, rumah makan, kafe, dan pusat informasi. Kemudian sarana komunikasi yang baik, jaringan sinyal yang stabil, serta tersedianya air bersih dan listrik.

"Pengembangan desa wisata secara fisik tentunya harus diselenggarakan dengan pengembangan produk wisata non-fisik seperti budaya dan kearifan lokal masyarakatnya," terang Vinsensius.

Pengembangan SDM Pariwisata

Desa Wisata Sungai Batang terletak di sekitar Danau Maninjau dan memiliki konsep wisata alam dan budaya. / Dok. Kemenparekraf

Deputi Bidang Sumber Daya Kelembagaan Kemenparekraf Wisnu Bawa Tarunajaya di sisi lain mengatakan, ke depan akan ada revenge tourism, lantaran masyarakat sudah satu tahun setengah lebih banyak tinggal di rumah dan ingin berwisata.

Selain destinasi, SDM pariwisata perlu dipersiapkan secara matang untuk menyambut kunjungan wisatawan kembali. Terlebih sektor pariwisata dan ekonomi kreatif diproyeksikan akan menjadi tulang punggung penghasil devisa bagi Tanah Air.

"Pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan akan menjadi tumpuan ke depan. Khususnya di era adaptasi kebiasaan baru pasca pandemi COVID-19 sehingga dibutuhkan kebijakan-kebijakan yang tepat manfaat, tepat sasaran, dan tepat waktu. Pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu faktor kunci," katanya.

Dia menyebutkan bahwa Kemenparekraf juga akan mengembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif khususnya dalam pendekatan pembangunan sumber daya manusia.  COVID-19 ini memaksa masyarakat meningkatkan keterampilan-keterampilan berkaitan dengan akselerasi digitalisasi dan juga adaptasi protokol kesehatan.

Wisnu juga menjelaskan, saat ini Kemenparekraf telah menyiapkan uji kompetensi untuk SDM pariwisata. Kegiatan ini diberikan kepada industri pariwisata yang akan menentukan mana subsektor yang nantinya didahulukan untuk disertifikasi.

Program sertifikasi SDM pariwisata akan dilakukan Kemenparekraf untuk 2.000 orang, yang dibagi untuk tiga lokasi yakni Danau Toba di Sumatera Utara; Borobudur, Prambanan di Yogyakarta; serta Lombok di Nusa Tenggara Barat.

"Kemenparekraf juga memastikan daerah penyangga lain akan mendapat program serupa. Jadi wisatawan yang datang kan bukan diam di Mandalika saja misalkan. Mereka pasti akan ke destinasi lain juga, yang saat ini paling mendesak untuk disertifikasi terkait dengan hospitality. Untuk SDM di hotel dan restoran sudah cukup siap. Yang perlu digenjot lagi adalah pemandu wisata," katanya.*

Berita Terkait