Siap IPO di AS, Bongkar Profil 4 Start Up Unicorn-Decacorn Asal Indonesia

16 Maret 2021 10:29 WIB

Penulis: Dewi Aminatuz Zuhriyah

Ilustrasi perusahaan rintisan alias stratup Indonesia yang menyandang gelar unicorn dan decacorn pada 2020. / Foto: Mime.asia

JAKARTA –  Pada tahun ini, sejumlah perusahaan rintisan atau start up asal Indonesia rupanya siap menawarkan saham perdana (initial public offering/IPO) di bursa saham alias go public di Wall Street Amerika Serikat (AS).

Start up tersebut bergerak di sejumlah bidang mulai dari ride hailing, marketplace hingga situs pemesanan tiket pesawat. Berikut ulasan tentang perusahaan rintisan asal Indonesia yang akan melantai di bursa saham.

1. Gojek
Mitra Driver Gojek menunggu customer di dekat logo Bank Jago di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa, 16 Februari 2021. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

Didirikan pada 2010 oleh oleh Nadiem Anwar Makarim beserta dua rekannya, Kevin Aluwi dan Michaelangelo Moran, PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau Gojek Indonesia berhasil mengumpulkan dana lebih dari US$1 miliar dan menjadikannya start up Indonesia pertama yang menyabet gelar unicorn pada 2017.

Pada 2019, status Gojek naik menjadi decacorn setelah meraup dana hampir US$3 miliar hanya pada pendanaan seri F. Artinya, nilai valuasi perusahaan ditaksir lebih dari US$10 miliar setara Rp147 triliun.

Sejak awal berdiri, Gojek memang tidak terbuka perihal nama-nama investor yang mendanainya. Barulah pada 2015, perusahaan ride hailing itu mengaku mendapatkan suntikan dana pertama dari beberapa venture capital company, antara lain NSI Ventures, Sequoia Capital dan DST Global.

PT Astra International Tbk (ASII) pun diketahui turut mendanai decacorn super app ini dengan nilai US$136 juta atau sekitar Rp2 triliun. Pendanaan itu adalah investasi terbesar sepanjang sejarah raksasa otomotif Grup Astra di dunia digital.

Penyedia teknologi pembayaran asal Amerika Serikat, Visa juga disebut-sebut memberikan dana segarnya kepada Gojek. Hal itu sekaligus menambah jajaran investor utama Gojek dalam pendanaan Seri F Gojek setelah Mitsubishi, Google, JD.com, dan Tencent.

Selain itu, perusahaan milik orang terkaya di dunia, Amazon diduga sempat bernegosiasi untuk terlibat dalam putaran pendanaan itu. Meski belum jelas terkonfirmasi, namun pada Juni 2020, Gojek menunjuk Severan Rault, mantan eksekutif Amazon, sebagai Chief Technology Officer (CTO).

Selain nama-nama di atas, masih ada beberapa investor yang terdaftar menjadi investor Gojek. Mereka adalah Unilever Swiss Holding, PT Pusaka Citra Djokosoetono (Group Blue Bird), SMDV II SG Pte Ltd, PT Mandiri Capital Indonesia, dan  Pegasus Tech Ventures.

2. Tokopedia
Ilustrasi Tokopedia. / Dok. Tokopedia

Berdiri pada tahun 2009, marketplace yang didirikan oleh William Tanuwijaya berhasil mendapatkan investasi pertamanya dari PT Indonusa Dwitama senilai Rp2,4 miliar.

Setelah beroperasi, e-commerce berwarna hijau itu kembali mendapatkan suntikan dana dari sebuah perusahaan modal ventura asal Singapura, East Ventures. Dana segar diberikan pada saat Tokopedia membuka putaran pendanaan seri A.

Pada pendanaan seri B, venture capital company lainnya menyusul East Ventures yang terlebih dulu mendukung Tokopedia. Nama CyberAgent Venture diketahui turut mendanai e-commerce yang identik dengan warna hijau ini dengan nilai lebih dari Rp10 miliar.

Pada 2012, melalui pendanaan seri C, Tokped berhasil mengumpulkan sejumlah modal tambahan dari perusahaan modal ventura Beenos Partner.

Di putaran pendanaan selanjutnya, perusahaan yang berbasis di Jepang yaitu Softbank Group juga ikut serta mendanai Tokopedia. Langkah Softbank kemudian disusul oleh Sequoia Capital yang berasal India untuk berinvestasi di platform itu.

Pada 2017, tepatnya 8 tahun setelah didirikan, Tokopedia mengumumkan telah menerima suntikan dana segar dari Alibaba Group senilai US$1,1 miliar atau lebih dari Rp16 triliun. Pendanaan seri F ini sekaligus membawa Tokopedia berstatus unicorn.

Pada 2020,  Tokopedia memperoleh pendanaan sekitar US$500 juta atau sekitar Rp7,1 triliun dari investor asal Singapura, Temasek. Suntikan dana itu disebut sebagai bagian dari putaran pendanaan platform e-commerce tersebut.

Adapun laporan iprice pada 2020 menyatakan Tokopedia memiliki pengunjung website bulanan sebanyak 114,65 juta orang pengunjung. Terbesar kedua setelah Shopee Indonesia.

3. Traveloka
Logo Traveloka. / Dok. Traveloka

PT Trinusa Travelindo atau dikenal dengan nama Traveloka merupakan start up penyedia layanan perjalanan berbasis online (Online Travel Agent/OTA). Perusahaan rintisan ini didirikan oleh Ferry Unardi, Derianto Kusuma, dan Albert Zhang pada tahun 2012.

Perusahaan ini disebut-sebut sebagai start up travel Asia Tenggara pertama yang mendapat predikat unicorn. Saat ini diperkirakan valuasi saham Traveloka mencapai lebih dari US$2 miliar atau setara dengan Rp28 triliun.

Butuh waktu kurang lebih lima tahun bagi OTA ini untuk memiliki saham di atas US$1 miliar atau Rp14 triliun setelah beberapa investor kelas kakap mendanai perusahaan tersebut.

East Ventures, Hillhouse Capital Group, Expedia, JD.com dan Sequoia Capital merupakan jajaran investor Traveloka.

Di tengah terpaan krisis akibat pandemi, santer kabar bahwa perusahaan sedang melakukan negosiasi lanjutan dengan sejumlah investor besar lainnya seperti Commercial Bank Pcl, FWD Group Ltd., dan GIC Pte. Dari rencana crowdfunding ini, Traveloka menargetkan dana segar sebanyak US$250 juta atau sekitar Rp3,6 triliun.

Kabar terakhir, mengutip Bloomberg, Kamis 18 Februari 2021, Chief Executive Officer Traveloka Ferry Unardi menuturkan Traveloka akan melakukan IPO melalui perusahaan akuisisi bertujuan khusus (Special Purpose Acquisition Company/SPAC). Alasannya SPAC sangat efisien.

4. Bukalapak
Situs belanja online alias e-commerce unicorn Bukalapak / Bukalapak.com

Bukalapak merupakan perusahaan rintisan unicorn di bidang e-commerce kedua setelah Tokopedia. Start up ini didirikan oleh Achmad Zaky, Nugroho Herucahyono dan Fajrin Rasyid, 10 tahun yang lalu. Saat ini tampuk kepemimpinan perusahaan dipegang oleh Rachmat Kaimuddin.

Bukalapak memiliki empat pemegang saham utama yakni, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek), Ant Financial (Alipay), GIC Singapura, dan Mirae Asset-Naver Asia Growth Fund.

Diketahui bahwa konglomerat media Emtek milik Eddy Kusnadi Sariaatmadja memiliki 49,21% saham Bukalapak melalui pendanaan seri B dengan total pendanaan senilai US$20 juta. Terdengar kabar bahwa Emtek telah mendanai start up e-commerce ini sejak setahun sebelumnya, yaitu pada tahun 2014 dengan nilai investasi US$2,2juta.

Daftar investor selanjutnya datang dari Ant Financial atau dikenal dengan Alipay. Merupakan anak usaha Alibaba Group yang bergerak di bidang teknologi finansial, Ant Financial menjadi investor utama dalam ronde pendanaan senilai US$1,1 miliar atau lebih dari Rp16 triliun pada Agustus 2017.

Pendanaan Bukalapak selanjutnya bersumber dari Mirae Asset Naver Asia Growth Fund dan GIC Singapura. Mirae Asset merupakan perusahaan yang bergerak di sektor finansial. Sementara, Naver bergerak di bisnis internet, termasuk platform chatting Line.

Tahun lalu, melalui putaran pendanaan seri F perusahaan, Shinhan GIB dari Korea Selatan turut mengambil bagian dalam mendanai e-commerce dengan warna khas ungu ini. Shinhan GIB adalah unit perbankan investasi terintegrasi dari Shinhan Financial Group (SFG) asal negeri K-Pop. (SKO)

Berita Terkait