Setelah Tragedi UST dan LUNA, Apakah Stablecoin Masih Aman untuk Jadi Instrumen Investasi?

17 Mei 2022 19:00 WIB

Penulis: Idham Nur Indrajaya

Editor: Rizky C. Septania

Ilustrasi Mata Uang Kripto / Pixabay.com

(Pixabay.com)

JAKARTA - Beberapa hari terakhir, aset kripto Terra USD (UST) dan Terra (LUNA) menjadi topik yang hangat dibicarakan karena penukikan harganya yang begitu tajam. Lantas, apakah stablecoin masih aman untuk menjadi instrumen investasi?

Kegagalan UST sebagai stablecoin untuk menyamakan nilai tukarnya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi satu di antara sekian sentimen negatif yang mendorong pasar kripto untuk masuk ke tren bearish.

Bagaimana tidak? Pasalnya, stablecoin pada dasarnya dirancang untuk menjadi instrumen investasi dengan nilai yang paling stabil di antara aset-aset kripto lainnya. Akan tetapi, pada kenyataannya UST tidak berhasil menjaga nilainya untuk setara dengan dolar AS.

Berdasarkan data Coin Market Cap, Selasa, 17 Mei 2022 pukul 16.40 WIB, UST saat ini berada di level US$0,1256 atau setara dengan Rp1.840 dalam asumsi kurs Rp14.651 perdolar AS. Pergerakannya pun masih menunjukkan tren bearish dalam 24 jam terakhir, yakni menurun 7,74%.

Trader Tokocrypto Afid Sugiono mengatakan, mekanisme stablecoin algoritmik memiliki kelemahan sebagai penopang sebagian besar nilai UST sehingga menyebabkan penurunan harga yang dramatis.

LUNA memiliki hubungan mutual dengan UST. Setiap ada UST yang dibuat, maka ada persediaan LUNA yang dihanguskan, dan begitu pula sebaliknya. Menurut Afid, seharusnya secara algoritma, ketika harga UST anjlok, ada UST yang dihanguskan dan ada LUNA yang dibuat. Namun, pada kenyataannya, keduanya mengalami kejatuhan harga yang bersamaan.

"Blockchain Terra sempat berhenti untuk menghindari governance attack pada jaringannya dan untuk membentuk rencana baru. Governance attack adalah kondisi di mana token yang digunakan untuk hak suara dikendalikan sebagian besar oleh satu pihak saja sehingga bisa merusak atau mengubah jaringan," ujar Afid dikutip dari keterangan tertulis, Selasa, 17 Mei 2022.

Afid menyampaikan, apabila Terra ingin mengembalikan nilai UST setara dengan US$1, maka harus ada persediaan UST yang dihanguskan. Efeknya, persediaan LUNA akan semakin banyak dan mengalami penurunan harga sampai UST bisa stabil lagi.

Apakah stablecoin masih aman untuk dijadikan instrumen investasi?

Afid menerangkan, stablecoin UST memang memiliki kelemahan dari segi perlindungan terhadap governance attack. Tragedi UST dan LUNA pun menurut Afid disebabkan oleh adanya oknum yang melakukan governance attack sehingga terjadi kerusakan pada jaringan Terra.

Meski demikian, tidak semuat stablecoin menggunakan mekanisme seperti UST, misalnya Binance IDR (BIDR). BIDR adalah stablecoin berbasis rupiah yang dapat diperdagangkan dengan aset kripto lainnya.

BIDR menggunakan Binance Chain (BEP-2) yang dipatok ke dalam rupiah dan akan tersedia untuk pembelian langsung dengan harga 1 BIDR=Rp1. Untuk menjaga kestabilannya, BIDR didukung 1:1 oleh rupiah di rekning bank terpisah di Indonesia.

Nilai BIDR memang bisa sedikit menyimpang dari Rp1 seperti stablecoin pada umumnya yang bisa bergeser sedikit dari nilai dolar AS misalnya. Namun, penyimpangan tersebut biasanya kecil karena arbitrase pasar akan bekerja untuk membawa harga BIDR kembali ke Rp1.

Menurut Afid, kecil kemungkinannya bagi BIDR untuk mengalami kejatuhan seperti UST karena hal yang serupa. BIDR mempunya mekanisme setiap koin kripto mewakili satu rupiah yang disimpan di bank sehingga memungkinkan percetakan dan burning (penghangusan) BIDR berdasarkan jumlah rupiah yang disimpan.

Simpulannya, kejatuhan UST tidak serta-merta menyimpulkan bahwa stablecoin tidak aman lagi digunakan sebagai instrumen investasi. Pasalnya, setiap stablecoin memiliki mekanisme yang berbeda dalam menjaga nilai tukarnya. Oleh karena itu, penting bagi para investor untuk memahami mekanisme setiap aset stablecoin yang hendak dipilih sebagai instrumen investasi.

Berita Terkait