Serius Beralih ke Energi Bersih, Indika Energy Bidik Separuh Pendapatan Bukan dari Batu Bara

03 Agustus 2021 08:30 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Sukirno

Ilustrasi industri pertambangan. / Pixabay

JAKARTA – Emiten tambang batu bara milik konglomerat Sudwikatmono, PT Indika Energy Tbk (INDY) menargetkan 50% pendapatan berasal dari sektor nonbatu bara pada 2025.

Wakil Direktur Utama dan Group CEO Indika Energy Azis Armand mengungkapkan, sejak 2018 perseroan telah melakukan diversifikasi di luar sektor inti batu bara. Menurutnya, hal ini sejalan dengan tujuan mencapai energi bersih pada masa mendatang.

“Investasi diversifikasi yang dijalankan INDY, meliputi tambang emas, teknologi digital, energi baru dan terbarukan, kendaraan motor listrik, dan solusi berbasis alam atau nature-based solutions,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Senin, 2 Agustus 2021.

Cadangan batu bara yang dimiliki perseroan pun sebesar 651 juta ton, dengan total sumber daya sebesar mencapai 1,3 miliar ton. Adapun target produksi batu bara INDY tahun ini sebanyak 31,4 juta ton.

Sementara itu, sepanjang semester I-2021, INDY berhasil membukukan laba yang diatribusikan ke entitas induk sebesar US$12 juta atau setara Rp174 miliar (kurs Rp14.500 per dolar Amerika Serikat). Padahal, pada semester I tahun lalu, perseroan menelan rugi hingga US$21,9 juta.

Kemudian, pendapatan juga naik 14,1% year-on-year (yoy) dari US$1,12 miliar menjadi US$1,28 miliar.

Peningkatan pendapatan terutama berasal dari anak usaha perseroan, PT Kideco Jaya Agung (Kideco) yang mencatat kenaikan harga jual rata-rata batu bara sebesar 21,9%. Harga awal US$39,8 menjadi US$48,6 per ton pada periode ini.

Kideco juga mencatat kenaikan volume penjualan batu bara sebesar 8,5% dari 16,6 juta ton menjadi 18,1 juta ton. Dari volume tersebut, sebanyak 6,4 juta ton atau 35% di antaranya dipasarkan untuk domestik.

Sementara itu, volume penjualan batu bara untuk pasar ekspor mencapai 11,7 juta ton dengan negara tujuan China, India, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Kemudian, anak usaha yang lain, yakni PT Petrosea Tbk (PTRO) juga mencatat kenaikan 9,9% berkat meningkatnya kinerja di bidang kontrak pertambangan.

Demikian pula perusahaan tambang batu bara PT Multi Tambangjaya Utama (MUTU), kinerja meningkat 75,1% disebabkan oleh kenaikan volume penjualan batu bara dari 0,6 juta ton menjadi 0,9 juta. Adapun kenaikan harga jual rata-rata batu bara MUTU sebesar 30,4% dari US$63,1 menjadi US$82,3 per ton.

Azis menambahkan, per semester I-2021, realisasi biaya modal (capital expenditure) perseroan tercatat US$37 juta atau setara Rp536,5 miliar (kurs Rp14.500 per dolar Amerika Serikat). 

Dari jumlah tersebut, US$26,6 juta di antaranya digunakan untuk pemeliharaan dan penggantian aset anak usaha, yakni PT Petrosea Tbk (PTRO), sedangkan US$4,2 juta digunakan oleh anak usaha PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) untuk pemeliharaan kapal.

Berita Terkait