Badai PHK Start Up (Serial 2): Ini Daftar 5 Perusahaan Teknologi Global yang Pangkas Jumlah Karyawan

20 September 2022 16:01 WIB

Penulis: Rizky C. Septania

Editor: Ananda Astri Dianka

Beberapa mantan karyawan perusahaan Tesla menuntut perusahaan itu karena dianggap menyalahi aturan PHK massal di AS. (The Verge)

JAKARTA - Startup yang melakukan layoff terhadap karyawannya atau pemutusan hubungan kerja (PHK) ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di mancanegara.

Hal tersebut disebabkan lantaran hingga saat ini operasional start up masih bergantung pada pendanaan dari investor (fundrising) dengan tujuan memperbaiki perusahaan yang rugi.

Kemudian, faktor perang Rusia-Ukraina juga merupakan pemicu start up yang layoff. Diprediksi keslitan  mendapatkan dana segar akan terjadi sampai dua tahun mendatang.

Berikut adalah sejumlah start up global yang melakukan PHK seperti dikutip TrenAsia dari berbagai sumber.

1. Paypal

Paypal melakukan layoff terhadap 83 kantornya dengan jumlah staf yang lebih dari 30 ribu pegawai.

Hal tersebut dilakukan seminggu sebelum paypal menutup kantornya di San Fransisco. Soal melakukan layoff terhadap karyawan, Paypal mengungkapkan akan terus terus melakukan perbaikan cara bekerja, guna memastikan kebutuhan pelanggan.

"Terus melakukan perbaikan cara bekerja, guna memastikan kebutuhan pelanggan kami, beroperasi dengan struktur, dan proses terbaik untuk mendukung prioritas bisnis strategis kami, saat kami terus tumbuh dan berkembang," tulis Paypal dalam sebuah pernyataan.

2. TikTok

Perusahaan video pendek asal China, TikTok dikabarkan melakukan PHK pada sejumlah karyawan mereka. Informasi ini berdasarkan pernyataan dari seorang staf TikTok yang berbasis di AS, David Ortis yang menyatakan bahwa TikTok stengah melakukan reorganisasi perusahaan dalam jumlah besar. Berdasar sumber lain, PHK akan dilakukan pada kisaran 100 orang karyawan.

3. Tesla

Perusahaan kendaraan listrik milik Elon Musk, Tesla dikabarkan telah memecat 200 karyawannya. Tak hanya itu, Tesla juga dilaporkan menutup kantornya di San Mateo, California pada saat yang bersamaan.

Berdasarkan laporan Reuters yang dikutip Rabu, 29 Juni 2022, karyawan yang dirumahkan kebanyakan merupakan pekerja yang berada dalam divisi autopilot. Selain itu, mereka merupakan pekerja yang dibayar per jam.

Sebelumnya, Bos Tesla mengatakan akan melakukan efisiensi dengan merumahkan kisaran 10% karyawan dari perusahaan yang dimilikinya. Jumlah tersebut kemudian berkurang menjadi 3,5%.

4. Netflix

Perusahaan penyedia layanan streaming berbayar, Netflix melakukan PHK pada 300 karyawan. Menurut laporan Variety, ini merupakan bagian dari aksi korporasi Netflix yang memang melakukan efisiensi pada sejumlah lini bisnis di perusahaannya.

Netflix yang diketahui memiliki 11.000 pekerja secara global sebelumnya pernah melakukan PHK besar-besarran pada Mei 2022. Kala itu, Netflix diketahui memberhentikan 150 karyawan yang terdiri dari kontraktor serta pekerja paruh waktu.

Namun jumlah PHK lebih besar terjadi pada gelombang kedua. Langkah ini tentunya mengindikasikan perusahaan tengah beradaptasi dengan kinerja sahamnya yang semakin melemah.

5. Coinbase

Bursa aset kripto Coinbase Global Inc dilaporkan akan melakukan pemangkasan karyawan sekitar 18% dari total tenaga kerja saat ini.

PHK massal itu dilakukan untuk mengendalikan biaya operasional di tengah kondisi pasar kripto yang diterpa tren bearish setelah Amerika Serikat merilis data inflasi tahunan di angka 8,6% per Mei 2022 dan menjadi level tertinggi selama 40 tahun terakhir.

Keputusan PHK itu diambil setelah Bitcoin (BTC) mengalami anjlok hingga ke level US$20.900 atau setara dengan Rp308,2 juta dalam asumsi kurs Rp14.746 per dolar Amerika Serikat (AS).

Berita Terkait