Tren Istilah Keuangan: Arti Rights Issue Adalah

10 Agustus 2021 14:30 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Rizky C. Septania

Ilustrasi Saham Asia hingga Inflasi. (Shutterstock)

JAKARTA - Banyak perusahaan telah menjadikan strategi rights issue atau Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) untuk menjaga kesehatan keuangan atau ekspansi bisnis korporasi yang lebih besar.

Strategi tersebut dinilai sangat positif untuk sebuah perusahaan publik atau perusahaan yang melantai di pasar bursa. Pasalnya, perusahaan terbuka bisa mendapatkan modal segar yang besar sekaligus menghindari mereka dari praktik penipuan oleh para investor eksternal atau buyer.

Mengutip Corporate Finance Institute (CFI), platform penyedia kursus pemodelan dan penilaian keuangan online global terkemuka, rights issue adalah penawaran hak kepada pemegang saham perusahaan yang ada, yang dengannya memberi mereka kesempatan untuk membeli saham tambahan langsung dari perusahaan tersebut.

Menariknya, perusahaan menawarkan harga diskon kepada pemegang saham ketimbang mereka harus membelinya di pasar sekunder atau sebelum tanggal yang ditentukan.

Biasanya harga saham baru yang dikeluarkan melalui rights issue lebih rendah dari harga pasar saham yang berlaku, yaitu saham ditawarkan dengan harga diskon.

Jumlah saham tambahan yang dapat dibeli tergantung pada kepemilikan pemilik saham. Misalnya, rights issue dengan rasio 1:4, berarti investor yang sudah ada dapat membeli satu saham tambahan untuk setiap empat saham yang sudah dipegangnya.

Contohnya, pemegang saham A memiliki 10.000 lembar saham di perusahaan B, maka dia memiliki hak membeli saham empat kali lipat menjadi 40.000 saham.

Pemegang saham yang ada juga menikmati hak untuk berdagang dengan pelaku pasar lain yang tertarik sampai tanggal di mana saham baru dapat dibeli. Hak tersebut diperdagangkan dengan cara yang sama seperti saham ekuitas biasa.

Kadang terjadi, pemegang saham yang ada juga dapat memilih untuk mengabaikan hak; namun, jika mereka tidak membeli saham tambahan, maka kepemilikan saham mereka akan terdilusi setelah penerbitan saham.

Alasan Rights Issue

Perusahaan melakukan rights issue ketika mereka membutuhkan uang tunai untuk berbagai tujuan. Proses ini memungkinkan perusahaan untuk mengumpulkan uang tanpa menimbulkan biaya penjaminan emisi.

Misalnya, ketika sebuah perusahaan merencanakan ekspansi bisnisnya, mungkin memerlukan sejumlah besar modal.

Alih-alih memilih utang, mereka mungkin ingin mencari ekuitas atau modal untuk menghindari pembayaran bunga tetap. Untuk meningkatkan modal ekuitas, rights issue mungkin merupakan cara yang lebih cepat untuk mencapai tujuan tersebut.

Hal itu karena rights issue menghasilkan basis ekuitas yang lebih tinggi bagi perusahan, hal itu juga memberikan peluang pemanfaatan yang lebih baik. Perusahaan menjadi lebih nyaman dalam hal meningkatkan utang di masa depan karena rasio utang terhadap ekuitasnya berkurang.

Dalam kasus lain, ketika sebuah proyek di mana pendanaan utang atau pinjaman mungkin tidak tersedia atau cocok atau mahal biasanya membuat perusahaan menambah modal melalui rights issue.

Selain itu, perusahaan yang ingin meningkatkan rasio utang terhadap ekuitas  atau ingin membeli perusahaan baru dapat memilih pendanaan melalui cara yang sama.

Terkadang perusahaan yang bermasalah secara finansial dapat menerbitkan saham untuk melunasi hutang guna meningkatkan kesehatan keuangan mereka.

Namun demikian, sebuah rights issue mempengaruhi dua elemen penting dari sebuah perusahaan modal ekuitas dan kapitalisasi pasar. Dalam kasus rights issue, karena ekuitas tambahan dinaikkan, basis ekuitas perusahaan penerbit naik sejauh masalah tersebut. Efek pada kapitalisasi tergantung pada persepsi pasar.

Secara teoretikal, setiap penerbitan baru memiliki semacam efek pengenceran dan karenanya sebagai akibat dari penurunan harga pasar secara proporsional dengan peningkatan jumlah saham, kapitalisasi pasar tetap tidak terpengaruh.

Namun, jika sentimen pasar percaya bahwa dana tersebut dikumpulkan untuk tujuan yang sangat positif, maka harga saham mungkin akan naik yang mengakibatkan peningkatan kapitalisasi pasar.

Contoh Rights Issue

Katakanlah seorang investor memiliki 100 saham di perusahaan ABC dan saham tersebut diperdagangkan masing-masing seharga Rp120.

Perusahaan mengumumkan rights issue dengan rasio 2:5, artinya setiap investor yang memegang 5 saham berhak membeli 2 saham baru. Perusahaan pun mengumumkan harga diskon, misalnya, Rp60 per saham.

Ini berarti bahwa untuk setiap 5 saham (masing-masing Rp120) yang dimiliki oleh pemegang saham, perusahaan akan menawarkan 2 saham dengan harga diskon Rp60. Maka perhitungannya dapat dilakukan seperti berikut:

1. Nilai portofolio investor (sebelum rights issue) = 100 saham x Rp120 = Rp12.000

2. Jumlah saham hak yang akan diterima = (100 x 2/5) = 40

3. Harga yang dibayarkan untuk membeli saham hak = 40 saham x Rp60 = Rp2.400

4. Jumlah saham setelah pelaksanaan rights issue = 100 + 40 = 140

5. Nilai revisi portofolio setelah melaksanakan rights issue =Rp12.000 + Rp2.400 = Rp14.400

6. Harga per saham pasca rights issue = Rp14.400/140 = Rp102,8

Secara teoretikal, harga saham setelah rights issue seharusnya Rp102,8, tetapi bukan begitu perilaku pasar. Sebuah uptrend harga saham akan menguntungkan investor, sedangkan jika harga turun di bawah Rp102,8, investor akan kehilangan uang. 

Penurunan harga saham bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, memberi sinyal ke pasar bahwa perusahaan mungkin sedang berjuang, yang bisa menjadi alasan perusahaan menerbitkan saham dengan harga diskon. Atau kedua, dengan menerbitkan lebih banyak saham, ada dilusi nilai saham yang tersedia.

Dilusi saham adalah kondisi penurunan persentase kepemilikan saham karena adanya penambahan modal namun pemegang saham lama tidak berpartisipasi untuk membeli saham tambahan.*

Berita Terkait