Sepanjang Kuartal II-2021, Permintaan Properti Komersial Sedikit Terungkit

18 Agustus 2021 14:31 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Amirudin Zuhri

Suasana bangunan apartemen di kawasan Jakarta Pusat, Jum’at, 17 Juli 2020. Konsultan properti JLL memproyeksikan permintaan properti khususnya apartemen akan mulai menguat kembali pada kuartal II/2020, salah satu faktor pendorongnya adalah pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Permintaan properti secara komersial menunjukkan sedikit terungkit sepanjang kuartal II-2021. Hal ini dibuktikan oleh Indeks Permintaan Properti Komersial (IPPK) yang tumbuh 0,06% year-on-year (yoy) dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Mengutip laporan Bank Indonesia (BI), Rabu, 18 Agustus 2021, perbaikan ditopang oleh segmen hotel dan apartemen sewa. Hal ini sejalan dengan tingginya kebutuhan masyarakat untuk isolasi mandiri maupun penginapan tenaga medis.

“Selain itu, muncul kembali tren permintaan oleh segmen convention hall untuk kegiatan meeting, incentive, convention, exhibition (MICE),” tulis laporan tersebut.

Adapun perbaikan dari segmen ritel didorong oleh permintaan sewa di pusat perbelanjaan karena aktivitas sedikit diperlonggar. 

Diketahui, pemerintah juga memperpanjang insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk pembelian properti hingga akhir tahun. Kebijakan ini berlaku untuk cakupan rumah tapak, rumah susun, toko, hingga rumah kantor.

Tujuannya, insentif ini diharapkan mampu mempertahankan daya beli masyarakat di sektor industri perumahan. Pasalnya, sektor properti merupakan sektor yang strategis dan memiliki multiplier effect yang kuat.

Peluang Pasar Properti

Bagi para pengembang, kelonggaran PPN DTP dapat menjadi peluang untuk memasarkan properti. Terkait hal ini, mereka juga harus cermat menangkap pasar properti yang berpotensi tetap survive.

Menurut hasil survei dari Leads Property, lahan industri merupakan pasar yang paling banyak dicari. “Lahan industri merupakan salah satu sektor terpenting dalam menopang perekonomian negara. Dengan demikian, ia masih diincar oleh investor asing dan diandalkan oleh pemerintah,” tulis riset tersebut.

Kedua, lahan properti yang berpeluang adalah pergudangan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti tingginya volume penjualan kebutuhan sehari-hari secara online. Di samping itu, pemain pergudangan yang selalu memastikan ketersediaan stok.

Kemudian, pergudangan juga banyak digunakan untuk penyimpanan produk- produk FMCG (Fast Moving Consumer Goods), farmasi dan alat kesehatan yang saat ini banyak dibutuhkan masyarakat.

Untuk peluang selanjutnya, rumah tapak menempati urutan ketiga. Tipe yang diincar pembeli biasanya berukuran luas bangunan atau luas tanah sebesar 55-56 m2 atau 70-80 m2. Adapun patokan harga antara Rp 800 juta - 1,7 miliar, yang masih dianggap terjangkau bagi kaum milenial.

Riset mengatakan, mayoritas kalangan juga berpikir tidak perlu menyewa apartemen atau kost selama work from home (WFH). Alhasil, mereka cenderung memutuskan untuk membeli rumah sekaligus.

Terakhir, peluang pasar yang dinilai tetap survive adalah kondominium. Properti yang dijual di bawah harga Rp2 miliar ini banyak diincar dengan ukuran 22–45 m2. Selain itu, letak kondominium juga ada di pinggiran kota.

Berita Terkait