Sempat Terhenti, Integra dan Cahaya Modern Dapat Izin Ekspor Mineral

TrenAsia (TA) -tcodep style="text-align: justify;">JAKARTA– Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan bahwa PT Integra Mining Nusantara dan PT Modern Cahaya Makmur kembali mendapatkan ekspor mineral, setelah izin perusahaan tersebut sempat terhenti. 

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan dua perusahaan tambang itu telah mendapatkan izinnya kembali karena keduanya telah menyampaikan perkembangan pembangunan smelter sesuai dengan target yang ditetapkan. Kementerian ESDM sempat menghentikan sementara ekspor empat perusahaan tambang karena progres pembangunan smelter tidak sesuai yang ditargetkan.

“Yang telah memenuhi kewajiban agar dicabut penghentian ekspornya dan sudah disetujui bisa ekspor lagi. Pertama PT Integra, kedua PT Cahaya Modern,” kata Agung di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Selasa (4/12). 

Selain itu, Kementerian ESDM juga sempat menghentikan izin ekspor tambang nikel yaitu PT Surya Saga Utama di Bombana, Sulawesi Tenggara, dan perusahaan tambang bauksit 

Dua perusahaan tersebut masih bisa mengajukan perpanjangan izinnya dengan syarat menyertakan syarat yang sama, yaitu perkembangan pembangunan fisik smelternya.

“Dua yang belum aktif sudah habis masa berlakunya, tidak bisa ekspor, kalau diajuin sebagai perpanjangan dengan memenuhi target progres pembangunan smelter terpenuhi,” jelas dia.

Holding Tambang 

Sementara itu, Holding BUMN Tambang, dimana PT Inalum (Persero) menjadi induk perusahaan menargetkan penjualan ekspor mineral, batubara dan produk hilirisasinya sebesar US$ 2,51 miliar atau Rp 37,56 triliun (kurs Rp 15.000) di 2018 ini, atau meningkat sebesar 33% dibanding realisasi 2017 sebesar US$ 1,89 miliar.

Direktur Utama PT Inalum (Persero) Budi G. Sadikin mengatakan kenaikan tersebut ditopang oleh kinerja ekspor PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM). Selain itu, Inalum juga memproyeksikan bisa mengekspor 40 kilo ton ekspor aluminium ingot (batangan) dengan nilai US$ 79 juta ke berbagai negara di tahun ini. Negara yang menjadi tujuan ekspor adalah Jepang, Swiss, Singapura, Inggris, Australia, Korea Selatan, Hong Kong, Malaysia, dan Belanda. 

“Peningkatan kinerja ekspor ini sesuai dengan mandat pembentukan Holding Industri Pertambangan untuk menjadi perusahaan kelas dunia,” ungkap Budi dalam keterangan tertulis. ***(Nasser Panggabean)