Selama Pandemi, Bank Dunia Kucurkan Rp2.271 Triliun untuk Pemulihan Ekonomi Negara Berkembang

26 Juli 2021 20:30 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Rizky C. Septania

Presiden Bank Dunia (World Bank) Jim Yong Kim. / Reuters

JAKARTA – Bank Dunia tercatat telah memberikan total pinjaman US$157,1 miliar atau Rp2.274,71 triliun (asumsi kurs Rp14.488,60 per dolar Amerika Serikat) selama 15 bulan pandemi berlangsung. Dana tersebut dialokasikan kepada negara-negara berkembang untuk pemulihan ekonomi akibat pandemi COVID-19.

“Pinjaman ini merespon adanya pandemi untuk berbagai negara berkembang. Membuat kenaikan pinjaman mencapai 60% dibandingkan 15 bulan periode sebelumnya,” ujar Presiden Bank Dunia David Malpass dalam keterangan tertulis, Senin, 26 Juli 2021.

David menjelaskan penyaluran dilakukan melalui sejumlah institusi di bawah World Bank Group. Penyaluran tertinggi dilakukan melalui Asosiasi Pembangunan Internasional (IDA) dalam bentuk hibah tanpa bunga sebesar US$53,3 miliar kepada negara miskin.

Lalu, bantuan kredit melalui Bank Internasional untuk Restrukturisasi dan Pembangunan (IBRD) senilai US$45,6 miliar kepada negara berpendapatan menengah.

Berselisih tipis, bantuan pendanaan sektor swasta di negara berkembang dikucurkan Bank Dunia melalui Korporasi Keuangan Internasional (IFC) sebesar US$42,7 miliar.  

Badan Penjamin Investasi Multilateral (MIGA) turut berpartisipasi dalam penyaluran investasi asing agar masuk ke negara berkembang senilai SU$7,6 miliar. Sebanyak 19% pinjaman ini dialokasikan negara-negara berkembang untuk meneruskan proyek pembangunan yang sempat terhambat akibat pandemi COVID-19.

Pinjaman Luar Negeri Indonesia

Sementara itu, posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia per Mei 2021 berada di level US$5415 miliar atau setara Rp6.018 triliun. Utang luar negeri Indonesia tumbuh tipis 3,1% secara tahunan (year on year/yoy). Akan tetapi, ULN Mei 2021 melambat 0,6% month to month (mtm) dibandingkan dengan posisi ULN April 2021 sebesar US$417,6 miliar

ULN pemerintah per Mei 2021 tumbuh 5,9%% yoy, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada April 2021 sebesar 8,6% yoy. ULN pemerintah dibelanjakan salah satunya untuk penanganan COVID-19 dan program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Rinciannya, sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (17,8%), jasa kesehatan dan kegiatan sosial (17,2%). Sektor jasa pendidikan (16,3%), konstruksi (15,4%), dan jasa keuangan dan asuransi (12,6%).

Berita Terkait