Selain Rugi Investasi, Pendapatan Telkom dari Pos Ini Susut Rp3,12 Triliun Lebih

10 Agustus 2020 09:33 WIB

Penulis: Amirudin Zuhri

Gedung Merah Putih milik PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. / Telkomsat.co.id

JAKARTA- Terpuruknya bisnis PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) menjadi salah satu pemicu kinerja PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) kurang moncer selama semester I 2020.

Padahal akibat pandemi COVID-19, sejumlah pos bisnis Telkom seperti dari data, internet, jasa TI serta Indihome naik tajam. Contohnya pendapatan dari Indihome saja mencapai Rp10,36 triliun, melesat dibandingkan dengan periode sama tahun lalu sebesar Rp8,70 triliun.

Laporan keuangan TLKM semester I 2020 yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia mengungkapkan, nilai wajar investasi Telkom di TELE di perusahaan itu merugi hingga Rp342 miliar. Telkom masuk TELE melalui anak usahanya yaitu PT PINS Indonesia.

Transaksi 25 persen saham TELE pada 18 September 2014 itu bernilai Rp1,39 triliun. Sementara menurut perhitungan Telkom per Juni 2020, nilai investasi di TELE hanya bernilai Rp212 miliar.

Dengan kata lain, sejak menginjeksikan modalnya di TELE, total investasi Telkom yang sudah menguap mencapai Rp1,18 triliun. Sementara dividen yang sudah dinikmati Telkom selama periode 2015-2019 hanya sekitar Rp71,47 miliar.

Secara bisnis, sejak TELE bermasalah dengan tumpukan utangnya, transaksi Telkom dengan afiliasinya itu juga meredup. Sebagai gambaran, penjualan Telkomsel, anak usaha Telkom, untuk distribusi kartu SIM dan voucer lewat TELE di semester I 2020 hanya Rp1,34 triliun, turun lebih dari separo dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp2,79 triliun.

Posisi TELE di bisnis ini sudah digeser Kisel yang mencatat penjualan hingga Rp3,06 triliun. Kisel atau Koperasi Telekomunikasi Selular merupakan koperasi milik PT Telkomsel.

Laba Turun

Selain investasi yang merugi, penyebab luruhnya laba Telkom pada paruh pertama 2020 juga disebabkan sejumlah pos pendapatan lainnya yang menyusut. Contohnya, pendapatan dari manage service dan terminal susut dari Rp1,21 triliun semester ganjil tahun lalu, menjadi hanya Rp 292 miliar.

Kemudian E-payment yang hanya berkontribusi Rp235 miliar turun daripada setahun lalu Rp291 miliar. Di tahun ini, dari pos pendapatan lain ini kontribusi dari sewa menara telekomunikasi juga nihil. Sementara setahun lalu kontribusinya mencapai Rp569 miliar.

Secara akumulatif, pendapatan lain Telkom di semester I 2020 hanya Rp2,24 triliun. Nilai itu jauh di bawah realisasi setahun lalu sebesar Rp 5,36 triliun. Inilah yang kemudian membuat pendapatan Telkom paruh pertama tahun ini lebih rendah daripada periode sama 2019.

Dari sebelumnya Rp 69,34 triliun menjadi Rp 66,85 triliun. Alhasil, laba Telkom turun menjadi Rp10,98 triliun dibandingkan Rp11,07 triliun semester satu 2019.

Fundamental Telkom yang kurang moncer ini juga tergambar dari pergerakan sahamnya di bursa. Meski menguasai bisnis telekomunikasi di Indonesia, sebulan terakhir harga saham TLKM terus melemah.

Harga saham perusahaan ini dijualbelikan di harga Rp2.900-Rp3.100 per saham (3/8). Padahal di awal tahun harga saham ini masih beredar di level Rp 4000an per saham.

Berita Terkait