Sektor Perkebunan Mulai Terpupuk, Prospek Emiten CPO Bisa Kembali Cerah

16 September 2021 11:48 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Amirudin Zuhri

Pengolahan kelapa sawit (istimewa)

JAKARTA – Sektor perkebunan di Indonesia diproyeksikan mulai menunjukkan prospek cerah. Hal ini tentu memberikan dampak positif bagi kinerja saham emiten minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO).

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Juan Harahap meyakini prospek CPO masih menjanjikan di masa depan. Ia turut menjelaskan beberapa hal yang turut mendongkrak potensi pertumbuhan emiten sawit di Tanah Air.

Meskipun ia memperkirakan produksi minyak sawit akan turun 7% year-on-year (yoy) menjadi 17,8 juta ton hingga akhir 2021, namun ia melihat melihat prospek yang baik di masa depan karena program penanaman kembali yang tampak mulai berhasil.

“Ini tercermin dari peningkatan luas tanam menghasilkan menjadi 89,2 persen dari total luas tanam dibandingkan dengan tahun 2020, sebesar 88,4 persen,” ujarnya melalui riset yang diterima TrenAsia.com, Kamis, 16 September 2021.

Selain itu, kata dia, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Indonesia memprediksikan bahwa besar kemungkinan terjadinya fenomena La Nina yang cenderung lemah pada paruh kedua tahun ini. 

“Dengan demikian, kami mengharapkan peningkatan volume produksi minyak sawit di Indonesia menjadi 44 juta ton atau naik 4,3% yoy pada 2021,” papar Juan.

Sementara, China mencatat pertumbuhan impor yang relatif sama menjadi 1,5 juta ton atau naik tipis 0,3% secara kuartalan dan 4,8% secara tahunan. Ia memproyeksikan China akan menurunkan pembelian minyak sawitnya pada 2021 – 2022 yang disebabkan rencana peningkatan produksi domestik.

Di sisi lain, India berhasil mencatat kenaikan menjadi 2,1 juta ton atau melonjak 21% secara kuartalan dan 54,2% secara tahunan. Juan memperkirakan tingkat impor yang lebih tinggi di India, karena India telah memotong bea masuk dasar CPO menjadi 10% dari 15% mulai 30 Juni untuk periode tiga bulan.

“Kami juga percaya bahwa permintaan minyak nabati akan meningkat setelah peraturan pembatasan mobilisasi dicabut,” tambahnya.

Di dalam negeri, pemerintah kembali menerapkan revisi pungutan ekspor yang efektif pada Juli 2021. Hal ini didorong untuk mendongkrak daya saing CPO ke pasar internasional. Dengan begitu, pungutan maksimum atas ekspor CPO akan menjadi US$175 per ton ketika harga referensi yang ditetapkan pemerintah di atas US$1.000 per ton.

Menurut Juan, hal Ini menyiratkan pemotongan US$80 per ton dari kurs yang telah diterapkan sebelumnya. Pungutan atas produk minyak sawit olahan juga telah dipotong sebesar US$70 per ton ketika harga referensi CPO berada di atas US$1.000 per ton. 

“Dengan demikian, kami melihat revisi tersebut dapat menguntungkan produsen sawit Indonesia dengan meningkatkan margin keuntungan bagi produsen pada semester II-2021,” imbuhnya.

Berdasarkan analisis tersebut, Mirae memulai dengan rekomendasi overweight pada sektor perkebunan Indonesia. Juan turut memilih saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) daripada PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) pada harga CPO yang tinggi saat ini.

Pasalnhya, hasil tandan buah segar (TBS) ALII lebih tinggi, yakni 8,8x dibandingkan dengan LSIP 7,2x pada semester I-2021. Di samping itu, luas lahan tertanam ALII juga lebih besar yakni 289.000 Ha berbanding LSIP dengan luas laha 96.000 Ha dengan profil usia yang lebih baik pula, 15,5 tahun vs 16,9 tahun.

Berita Terkait