Bangkitkan Sektor Pariwisata, Sandiaga Uno Bakal Tebar Duit Rp2,4 Triliun

27 Juli 2021 13:30 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Rizky C. Septania

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno saat akan mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi X DPR di komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis, 12 Januari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno tengah melakukan finalisasi bantuan dana hibah dengan pagu Rp2,4 triliun. Dana hibah tersebut bakal diubah menjadi skema Bantuan Pemerintah untuk Usaha Pariwisata (BPUP).

Sandiaga Uno menyebut dana penerima bantuan bakal mengacu pada online single submission (OSS) dari Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) serta data ketenagakerjaan Badan Pusat Statistik (BPS).

“Saat ini tengah on progress, masuk dalam tahap kurasi proposal. Semoga bisa segera kami distribusikan,” ujar Sandiaga Uno dalam keterangan tertulis, Selasa, 27 Juli 2021.

Sumber dana BPUP sendiri berasal dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021. Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini mengabarkan terus melakukan koordinasi dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk percepatan realisasi dana BPUP.

“Skemanya memang mengalami stagnansi dari hasil pembahasan antara kami dengan Kementerian Keuangan. Ini yang masih terus kami dorong,” jelas Sandiaga.

Jika sudah bisa dicairkan, dana ini terbagi dalam beberapa pos belanja, terdiri dari program Bangga Berwisata di Indonesia (BBWI), Bangga Buatan Indonesia (BBI), sertifikasi CHSE bagi usaha pariwisata, PEN film, hingga dukungan akomodasi hotel untuk tenaga kesehatan.

Sandiaga menyebut industri pariwisata mengalami kemerosotan lagi usai adanya ledakan kasus COVID-19. Misalnya saja pelaku hotel yang tingkat okupansinya susut selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4.

Sebagai gambaran, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jakarta mencatat okupansi atau tingkat hunian kamar hotel hanya 10% selama dua pekan awal penerapan PPKM Level 4.

"Penurunannya jauh dari 25-40 persen, sekarang tinggal 10 persen okupansi terutama di hotel-hotel non bintang dan hotel-hotel kecil," kata Ketua PHRI Jakarta, Sutrisno Iwantono, dikutip dari Antara, Selasa, 27 Juli 2021.

Dari sekitar 950 hotel di wilayah Jakarta, hanya ada 20 hotel saja yang terlibat dalam program hunian untuk tenaga kesehatan dan tempat isolasi mandiri (isoman) untuk orang tanpa gejala (OTG).

Hotel yang masih bertahan di angka tinggi karena karena ikut program penginapan untuk nakes dan ikut program isoman bagi OTG. "Mereka mungkin tetap mendapatkan tamu, tetapi sebagian besar hotel di Jakarta tidak ikut program itu," ujar Sutrisno.

Dia menyampaikan, sektor perhotelan diproyeksikan mengalami pemulihan pada 2023. Selama masa transisi dua tahun itu pelaku bisnis perhotelan dituntut berinovasi dengan berbagai kondisi dan teknologi.

Berita Terkait