Sektor Pariwisata Terjungkal, Pendapatan 40 Persen Pekerja Bali Ikut Menyusut

April 08, 2021, 09:15 PM UTC

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Salah satu destinasi wisata di kawasan luar Pura Uluwatu, Bali. / Dok. Kemenparekraf

JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan hampir separuh pekerja Bali mengalami penurunan pendapatan akibat pandemi COVID-19.

Tekanan pendapatan di Bali terjadi karena perekonomian provinsi ini bergantung pada sektor pariwisata.

“Masyarakat penghasilan paling rendah mengalami tekanan paling dalam. Penurunan perekonomian Bali semakin tajam,” kata Sri Mulyani dalam Bali Economic and Investment Forum 2021, Kamis 8 April 2021.

Sri Mulyani merinci, secara keseluruhan penurunan pendapatan pada pekerja di Bali mencapai 40,67%. Penurunan ini pun terjadi di semua kelompok pendapatan.

Kelompok pendapatan di bawah Rp1,8 juta mengalami penurunan 67,65%. Itu artinya, penurunan pendapatan terjadi pada 6 dari 10 masyarakat berpendapatan rendah ini.

Masyarakat berpendapatan dengan rentang Rp1,8 juta hingga Rp3 juta mengalami penurunan pendapatan sebesar 52,60%. Selanjutnya masyarakat dengan pendapatan berkisar Rp3 juta hingga Rp8 juta, 42,51% di antaranya mengalami penurunan pendapatan.

Masyarakat berpendapatan Rp5,8 juta hingga Rp7,2 juta mengalami penurunan pendapatan sebesar Rp36,83%. Sebanyak 41,28% di kelompok pendapatan lebih dari Rp7,2 juta juga tercatat mengalami penurunan pendapatan.

Lebih jauh lagi, Sri Mulyani mengungkap setidaknya 3.000 pekerja mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) hingga Februari 2021.

Kondisi ini terjadi karena Bali mengalami penurunan signifikan kedatangan wisatawan sepanjang 2020. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 1,1 juta wisatawan asing datang ke Bali pada 2020. Angka ini lebih kecil enam kali lipat dibandingkan 2019 yang sebesar 6,3 juta wisatawan asing.

Kunjungan wisatawan domestik pun terjungkal menjadi 4,6 juta pada 2020 dari sebelumnya yang sebesar 10,5 juta wisatawan.

Lengangnya aktivitas wisata Bali juga nampak dari okupansi hotel berbintang yang hanya 10% dari kapasitas aja. Padahal, sebelum pandemi, tingkat okupansi hotel berbintang di Bali bisa menyentuh angka 65%.(RCS)