Sektor Konstruksi Mulai Pulih, Kredit Korporasi Ditaksir Tumbuh 2 Persen

12 Agustus 2021 21:03 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Laila Ramdhini

Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan Sykbrige CSW, Jakarta, Minggu 4 Juli 2021.Proyek pembangunan skybridge untuk integrasi Halte Transjakarta CSW di Stasiun MRT Asean terus dikebut setelah mengalami kemunduran dari target awal. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA – Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede memproyeksikan kredit korporasi perbankan bisa tumbuh 1%-2% pada tahun ini. 

Pemulihan ekonomi yang tengah dilakukan pemerintah melalui pembangunan infrastruktur bakal menjadi penopang pertumbuhan kredit pada tahun ini. 

Seperti diketahui, pemerintah memiliki target fantastis terhadap proyek pembangunan infrastruktur di tahun ini. Salah satunya proyek strategis nasional (PSN) dengan investasi mencapai Rp464,6 triliun.

"Proyeksi ini mempertimbangkan potensi pemulihan ekonomi yang diperkirakan akan kembali berlanjut pada kuartal IV-2021 meskipun cenderung melambat pada kuartal III-2021,” ucap Josua kepada TrenAsia.com, Kamis, 12 Agustus 2021.

Sementara, sektor manufaktur diprediksi menjadi batu sandungan kinerja kredit korporasi pada tahun ini. Hal ini tidak lepas dari merosotnya Purchase Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia ke level 40,10 pada Juli 2021.

Selain itu, sentimen lainnya yang menahan kredit korporasi berasal dari industri ritel. Sektor tersebut, kata Josua, paling babak belur karena dicegat PPKM Level 4.

Per Mei, kedua sektor tersebut masing-masing masih terkontraksi 2,0% year on year (yoy)  dan 4,5% yoy. Dengan adanya PPKM level 4 , diperkirakan kedua sektor tersebut masih akan terus terkontraksi hingga setidaknya kuartal IV-2021, seiring dengan perlambatan aktivitas perekonomian.

Dari segi industri, capital adequacy ratio (CAR) perbankan bertengger di level 24,33% per Juni 2021 atau meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 24,28%.

Lalu, Non performing loan (NPL) gross pada Juni 2021 mengalami penurunan menjadi 3,24% dari sebelumnya 3,35%. Kecukupan likuiditas industri perbankan juga memadai untuk mendukung intermediasi, tercermin dari rasio alat likuid terhadap non-core deposit dan DPK per Juni 2021 sebesar 151,20% dan 32,95%.

Josua menilai kondisi industri saat ini cukup mumpuni untuk menunjang kredit korporasi yang biasanya memiliki nilai outstanding tinggi.

“Beberapa sektor penyaluran kredit korporasi yang dapat dioptimalkan mempertimbangkan pertumbuhan kredit yang masih terbatas dan di saat bersamaan risiko kreditnya cenderung manageable antara lain sektor konstruksi dan telekomunikasi,” ujar Josua.

Berita Terkait