Sejarah Panjang Minyak Sawit hingga Jadi Penting dan Ada di Mana-Mana

07 November 2021 13:07 WIB

Penulis: Amirudin Zuhri

Minyak sawit (ugm.ac.id)

JAKARTA-Anda pasti tahu apa itu minyak kelapa sawit, tetapi mungkin banyak yang tidak menyadari bahan ini tersebar di mana-mana. Tidak hanya sebagai minyak goreng, bahan ini ada di lipstik,  sampo, mi instan, es krim, pizza, roti kemasan  hingga sabun diterjen.

Minyak sawit adalah bahan dalam sekitar setengah dari semua produk kemasan yang dijual di supermarket. Di sejumlah negara minyak sawit juga banyak digunakan sebagai biofuel untuk mobil dan truk.  Berdasarkan data World Wildlife Fund (WWF)  dunia pada 2017 mengkonsumsi 75,8 juta ton (68,8 juta metrik ton) minyak sawit dan ini lebih dari sepertiga dari semua minyak nabati yang digunakan di planet ini.

Kehadiran minyak sawit di mana-mana  dan konsumsi dunia terus meningkat, membuat banyak aktivis lingkungan sangat khawatir.  Banyak yang menilai penanaman pohon kelapa sawit (Elaeis guineensis) akan  mendorong penebangan dan pembakaran hutan hujan tropis di Asia Tenggara, yang meningkatkan risiko kesehatan dari polusi dan memompa karbon dioksida peringatan planet ke atmosfer. Selain itu rusaknya hutan akan mengusir hewan seperti orangutan, harimau, badak, dan gajah dari habitatnya.

Jadi apa sebenarnya minyak sawit itu? dan bagaimana minyak itu bisa ada di mana-mana dalam peradaban modern? Minyak kelapa sawit dihasilkan dari buah pohon kelapa sawit yang berasal dari Afrika barat. Selama berabad-abad, tanaman itu telah menjadi bagian dari makanan tradisional di wilayah itu sebagai sumber lemak dan nutrisi lainnya serta digunakan sebagai minyak goreng dan bahan obat-obatan tradisional. 

Jeff Conant, direktur program hutan internasional Friends of the Earth yang bekerja untuk melindungi hak-hak masyarakat yang bergantung pada hutan mengatakan petani kecil Afrika menanamnya di hutan dan sebagai bagian dari sistem agro-forestry campuran.

Keluar dari Afrika

Tapi kelapa sawit tidak selamanya tinggal di Afrika. Orang Eropa kemudian membawa kelapa sawit ke Asia Tenggara pada tahun 1800-an dan mencoba menanamnya di perkebunan. Tapi tanaman itu tidak populer sampai pertengahan 1960-an. 

Salah satu pendorong besar adalah Bank Dunia, yang menghabiskan hampir US$1 miliar untuk mendanai budidaya kelapa sawit sebagai cara untuk mempromosikan pembangunan ekonomi orang-orang di daerah pedesaan keluar dari kemiskinan

Menurut laporan Bank Dunia yang dikutip Howstuffwork.com,  sekitar setengah dari uang itu digunakan untuk mendanai serangkaian proyek di Indonesia, yang menjadi produsen terbesar dunia. Antara tahun 1960-an dan 2000-an, jumlah lahan yang dikhususkan untuk menanam budidaya kelapa sawit meningkat delapan kali lipat dan menyebar ke daerah tropis di seluruh dunia.

"Tanaman itu diperbaiki dan dihibridisasi, dan varietas dikembangkan yang tumbuh sangat baik di perkebunan monokultur besar," jelas Conant.

Kelapa sawit menjadi tanaman yang menguntungkan. "Ini sebenarnya adalah tanaman yang sangat efisien, dalam hal jumlah minyak yang dihasilkan per hektare lahan," kata Conant.

Selain itu penggunaan baru dikembangkan. "Bahan ini bagus untuk menggantikan margarin, karena memiliki titik leleh yang tinggi, dan ketika dimurnikan, tidak memiliki rasa. Itu membuatnya bagus untuk memanggang," kata Conant.

Pada pertengahan 2000-an, setelah Food and Drug Administration Amerika mulai mewajibkan pencatatan kandungan lemak pada label nutrisi karena dikaitkan dengan penyakit jantung, produsen makanan olahan mulai mencari minyak sawit sebagai alternatif bebas lemak.

Menurut proyek bersama organisasi jurnalisme ProPublica dan The New York Times Magazine,  Amerika dan negara-negara barat lainnya pada pertengahan 2000-an merancang undang-undang lingkungan yang mendorong penggunaan minyak nabati seperti minyak sawit sebagai bahan bakar. Langkah ini  sebagai cara untuk mengurangi karbon dioksida dan memperlambat pemanasan global. 

Namun menurut laporan terseut langkah niat baik itu menjadi boomerang karena disusul pembukaan dan pembakaran hutan besar-besaran untuk budidaya kelapa sawit. Yang terjadi justru pelepasan sejumlah besar karbon yang telah tersimpan di lahan gambut.

"Pohon kelapa sawit sering tumbuh paling baik di tempat di mana hutan hujan berada," kata Conant. "Ini jelas merupakan faktor deforestasi."

Budidaya kelapa sawit membawa masalah lain juga.  Menurut Conant budidaya monokultur diperlukan untuk menghasilkan keuntungan, dan itu akan merusak tanah setelah 25 atau 30 tahun, katanya. "Ini bisa sangat sulit untuk memulihkan tanah sesudahnya."

Dan meski industri kelapa sawit menyediakan lapangan kerja bagi jutaan orang, industri itu juga diganggu oleh tuduhan pelanggaran hak asasi manusia, termasuk penggunaan pekerja anak. Artikel Desember 2018 di majalah Sierra misalnya, menggambarkan penduduk asli Guatemala yang bekerja 16 jam sehari di perkebunan kelapa sawit dan memperkirakan bahwa penggunaan budidaya kelapa sawit berkontribusi pada kelangkaan pangan, karena mengambil lahan di mana petani lokal dapat menanam jagung, kacang, nasi dan tanaman subsisten lainnya.

Karena banyaknya kritik kerusakan lingkungan akibat sawit, sejumlah negara kemudian membuat pengaturan ketat. Indonesia kerap yang kena batunya karena dinilia tidak memenuhi standar mereka, terutama dalam menjaga lingkungan terkait penanaman sawit.

 

Berita Terkait