Sasar 60 Persen Populasi Dunia Divaksin 2022, IMF Siapkan Dana Fantastis Rp718,35 Triliun

22 Mei 2021 15:02 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Nampak sejumlah karyawan dan pemilik toko saat mengikuti vaksinasi massal tahap kedua di Mal Tangerang City, Tangerang, Banten, Senin 1/3/2021 Foto : Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA – Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) mengungkapkan pihaknya telah mengajukan proposal senilai US$50 miliar atau setara Rp718,35 triliun (dengan kurs Rp14.346 per dolar AS) demi mengakhiri pandemi COVID-19.

Dalam rencana ini, IMF dapat memvaksinasi setidaknya 40% masyarakat dunia sampai akhir 2021. Pada semester I-2022, vaksinasi diharapkan dapat mencapai 60% populasi dunia.

“Ekonomi negara maju, yang diminta berkontribusi paling banyak dalam proposal ini, dapat menerima keuntungan investasi publik terbesar sepanjang sejarah dari sini, setidaknya mendapat peningkatan PDB 40% dan sekitar US$1 triliun pendapatan pajak tambahan,” ujar Managing Director IMF Kristalina Georgieva seperti dilansir dari Reuters, Jumat, 21 Mei 2021.

Dengan begitu, Kristalina mengatakan ini langkah yang sangat masuk akal bagi negara-negara maju untuk menambah donasinya untuk mempercepat penyelesaian pandemi.

IMF mengatakan proposal ini dapat menambah sekitar US$9 miliar (Rp129,31 triliun) untuk ekonomi global pada 2025. Penambahan ini didapat dari kembalinya aktivitas ekonomi yang lebih cepat, dengan negara-negara maju yang paling untung dari sini.

Pandemi COVID-19 telah membunuh lebih dari 3,5 juta populasi dunia hingga saat ini. IMF memperkirakan kondisi ini berisiko besar bagi kedamaian dunia jika tidak ada langkah yang berarti. Risiko ini termasuk kemungkinan meningkatnya tekanan geopolitik dan kerusuhan sosial.

Di Afrika, baru 2% dari total populasi yang sudah divaksinasi. Ini angka yang sangat kecil jika dibandingkan dengan Amerika Serikat yang sudah memvaksinasi 40% populasinya dan Eropa 20%.

“Tanpa adanya aksi cepat, banyak negara-negara tertinggal yang persentase vaksinasinya tidak dapat meningkat pada 2023,” ujar pihak IMF.

Proposal dengan nilai fantastis ini disusun oleh Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath dan staf ekonom Ruchir Argawal. Proposal ini akan melengkapi usaha yang sebelumnya sudah dilakukan oleh Access to COVID-19 Tools (ACT) Accelerator, PBB, WHO, dan lain-lain.

Dari nilai US$50 miliar tersebut, US$35 miliar akan didapat dari donasi negara-negara maju serta donatur swasta dan multilateral. US$15 miliar sisanya akan didanai pemerintah negara-negara menggunakan pinjaman tanpa bunga atau rendah bunga dari bank-bank pembangunan multilateral.

Negara-negara G20 sudah mengeluarkan dana US$22 miliar untuk mengatasi krisis ini sebelumnya. Dengan begitu, masih dibutuhkan dana US$13 miliar agar proposal ini dapat berjalan.

Gopinath optimistis rencana ini dapat didukung oleh negara-negara G7 dan G20, meski masih terlalu awal untuk bisa memastikan. Sebelumnya, Kristalina juga sudah mendiskusikan proposal ini ke negara-negara tersebut.

“Angka ini sebenarnya tidak begitu besar dan alasannya juga karena sudah banyak investasi yang dilakukan,” ujar Gopinath.

Proposal ini akan meminta dana awal, donasi vaksin, dan usaha untuk jaringan antar batas negara yang gratis untuk material baku serta vaksin yang sudah jadi. Lalu juga dibutuhkan US$8 miliar untuk diversifikasi dan menambah kapasitas produksi vaksin seluruh dunia.

IMF memperkirakan sekitar 1 miliar dosis vaksin dapat didonasikan tahun ini meski negara-negara memprioritaskan masyarakatnya lebih dulu. Selain itu, 1 miliar dosis lagi dapat diproduksi pada awal 2022 untuk mengatasi risiko darurat lainnya seperti varian baru yang membutuhkan vaksinasi tambahan. (SKO)

Berita Terkait