Saratoga Raih Dividen Rp1,4 Triliun, NAV Tembus Rp60 Triliun pada Semester I-2022

29 Juli 2022 11:03 WIB

Penulis: Laila Ramdhini

Direktur Investasi Saratoga, Devin Wirawan (kanan) berbincang dengan Hubungan Investor Saratoga, Ryan Sual (kiri) usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tahun 2022 PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. di Jakarta, Kamis, 21 April 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA - PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) berhasil mengoptimalkan pertumbuhan investasi seiring dengan pemulihan ekonomi. Hingga semester I-2022, Saratoga telah meraih pendapatan dividen sebesar Rp1,4 triliun, naik 58% dibandingkan dengan Rp866 miliar pada semester I-2021. 

Pendapatan dividen tersebut terutama dikontribusikan oleh PT Adaro Energi Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX). Sementara, kenaikan nilai portofolio investasi mendorong Net Asset Value (NAV) Saratoga mencapai Rp60 triliun, atau tumbuh 29% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2021 senilai Rp46,5 triliun. 

Presiden Direktur Saratoga Michael William P. Soeryadjaja menjelaskan, pertumbuhan NAV yang konsisten menjadi salah satu indikasi keberhasilan perseroan dalam menjalankan strategi investasi di tengah berbagai situasi. Kinerja positif perusahaan portofolio yang sejalan dengan pemulihan ekonomi juga menunjukkan bahwa investasi Saratoga memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Kami percaya bahwa ruang pertumbuhan bisnis portofolio Saratoga masih terbuka lebar, sehingga nilai investasi perseroan akan terus meningkat. Saratoga juga akan melanjutkan investasi pada aset-aset di sektor strategis yang berdampak luas bagi kebangkitan ekonomi bangsa,” jelas Michael melalui keterangan resmi di Jakarta, Jumat, 29 Juli 2022.

Sejumlah langkah telah dilakukan Saratoga untuk mengoptimalkan peluang-peluang investasi di masa depan. Di antaranya, Saratoga melakukan divestasi 3% saham perseroan di PT Tower Bersama Infrastruktu Tbk. (TBIG) senilai Rp 2,2 triliun kepada Digital Bersama Infrastruktur Asia Pte. Ltd (BDIA). 

Divestasi saham tersebut merupakan bagian dari restrukturisasi internal yang dilakukan Saratoga bersama dengan Provident Group untuk memperkuat strategi investasi di sektor infrastruktur digital seperti menara telekomunikasi, fiber optic, dan data center. Pascadivestasi saham TBIG, Saratoga saat ini memiliki 35,2% saham BDIA dan 9,3%saham TBIG melalui anak usaha yang dimiliki penuh.

“Divestasi saham TBIG ke BDIA bertujuan memperkuat strategi dan eksekusi dari setiap rencana investasi Saratoga, termasuk bekerjasama dengan mitra-mitra baru. Sebagai bagian dari restruktruisasi, kami berhasil menandatangani kerjasama dengan Macquarie Asset Management sebagai mitra strategis di BDIA,” kata Michael.

Investasi Baru

Direktur Investasi Saratoga Devin Wirawan mengungkapkan, hingga semester I-2022 Saratoga telah melakukan beberapa investasi baru untuk memperluas portofolionya. Seperti pendanaan terhadap AtriaDC, perusahaan penyedia layanan data center ramah lingkungan yang berlokasi di dalam kota. Investasi Saratoga pada AtriaDC ini merupakan bentuk komitmen dan dukungan terhadap percepatan digitalisasi yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Saratoga juga melakukan investasi baru pada Forest Carbon, perusahaan pengembang proyek karbon premium yang berdiri pada 2012. Forest Carbon melestarikan hutan dan lahan basah, melindungi keanekaragaman hayati serta memberdayakan masyarakat setempat untuk hidup sejahtera. Aktivitas tersebut menghasilkan kredit karbon yang dapat digunakan perusahaan-perusahaan global ternama untuk turut berpartisipasi dalam mendukung usaha pencegahan perubahan iklim global.

Bisnis kredit karbon menjadi salah satu industri baru yang potensial mengingat Indonesia memiliki cadangan karbon yang sangat besar. Termasuk di dalamnya kaya akan hutan hujan tropis (rainforest) dan lahan basah yang penting, sebab wilayah Indonesia mencakup sepertiga luasan lahan gambut dunia.

“Proyek-proyek Forest Carbon sukses merestorasi lahan gambut, melindungi spesies yang terancam punah termasuk harimau Sumatera, dan mendukung masyarakat lokal dengan kesehatan, pendidikan, dan kesempatan kerja. Melindungi dan melestarikan alam Indonesia menjadi investasi penting bagi Saratoga untuk memberikan dampak sekaligus membantu dalam memitigasi perubahan iklim,” ujar Devin.

Devin menegaskan, investasi Saratoga tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, disiplin, terukur dan efisien. Hal ini tercermin dari rasio biaya operasional tahunan terhadap NAV hanya sebesar 0,3% dan rasio pinjaman bersih terhadap NAV hanya 0,5%.

Sampai akhir semester I, posisi utang bersih Saratoga sebesar Rp296 miliar, berkurang jauh dibandingkan dengan akhir kuartal I-2022 sebesar Rp3 triliun. Berkat efisiensi perseroan dan kinerja positif portofolio investasi, Saratoga berhasil memperkuat posisi keuangan di semester I-2022.

“Efisiensi biaya operasional dan beban pinjaman ini juga menjadi bagian dari strategi investasi yang dilakukan Saratoga. Dengan posisi utang saat ini, secara fundamental Saratoga memiliki kemampuan yang semakin kuat dalam menjalankan investasi di masa yang akan datang,” tutup Devin.

Aksi Korporasi Portofolio Investasi

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)

MDKA telah meningkatkan kepemilikan tidak langsung pada dua perusahaan peleburan (smelter) Rotary Kiln Electric Furnance (RKEF) yang sudah beroperasi yaitu Cahaya Smelter Indonesia dan Bukit Smelter Indonesia. Kepemilikan saham pada dua perusahaan itu dilakukan melalui anak perusahaan MDKA yaitu PT Hamparan Logistik Nusantara (HLN) yang meningkat menjadi 50,1% dari sebelumnya masing-masing 28,4% dan 49%.

HLN juga telah mengakuisisi 50,1% saham di PT Zhao Hui Nickel, yang saat ini sedang membangun smelter RKEF empat lini yang berlokasi di Indonesia Morowali Industrial Park dengan target commissioning date pada 2023.

Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) telah menjadi mitra strategis MDKA dengan kepemilikan saham saat ini sebesar 5% di perusahaan. CATL merupakan pemimpin global dalam pengembangan dan manufaktur baterai lithium-ion dan sudah terdaftar di Bursa Efek Shenzhen. Bersama MDKA, CATL akan menjajaki investasi sumber daya mineral untuk rantai nilai logam baterai, seperti nikel, kobalt, litium, tembaga, mangan, dan aluminium.

PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX)

Untuk mengoptimalkan peluang bisnis otomotif, MPMX menjalin kemitraan strategis dengan CARRO, sebuah platform jual beli mobil bekas terbesar di Asia Tenggara. Kerja sama itu dilakukan melalui akuisisi CARRO atas 50% saham PT MPMRent senilai Rp784 miliar.

Sinergi antara MPMRent dan CARRO akan mendorong optimalisasi bisnis berbasis teknologi dan digitalisasi seperti Big Data, Artificial Intelligence, serta algoritma harga yang relevan. Sinergi ini bertujuan menciptakan ekosistem otomotif online dan offline terintegrasi dengan menawarkan produk dan layanan lengkap mulai dari marketplace, rental, pembiayaan, hingga asuransi dengan pasar B2B dan B2C.

Berita Terkait