Sampai Bentak Dirut Pertamina, Jokowi Kesal 2 Proyek Senilai Rp222,15 Triliun Berjalan Lemot

22 November 2021 22:02 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Amirudin Zuhri

Presiden Joko Widodo didampingi Komisaris Utama PT Pertamina Basuki Tjahaja Purnama saat meninjau kilang PT TPPI, di Kecamatan Jenu, Tuban, Jawa Timur pada tahun 2019. (Biro Pers Sekretariat Presiden.)

JAKARTA -- Presiden Joko Widodo mengaku kesal dengan kinerja PT Pertamina (Persero) yang lambat menggarap dua proyek strategis di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Menurut Jokowi, ruwetnya sistem kerja Pertamina membuat kedua proyek tersebut berjalan di tempat selama puluhan tahun, bahkan kini terancam 'mangkrak'.

Kedua proyek yang dimaksudkan Jokowi adalah pembangunan kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban yang dikerjakan PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (Pertamina Rosneft).

Pertamina Rosneft sendiri merupakan perusahaan patungan antara Pertamina dengan Rosneft Singapore Pte Ltd yang merupakan afiliasi dari perusahaan minyak dan gas Rosneft asal Rusia.

Proyek yang kedua adalah pabrik petrokimia yang dikerjakan PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), anak usaha Pertamina yang juga berada di Tuban.

"Sudah bertahun-tahun yang namanya Rosneft itu di Tuban ingin investasi. Sudah mulai saya ngerti tapi Rosneftnya pingin cepat tapi kitanya nggak pingin cepat," katanya di hadapan Direksi dan Komisaris PT Pertamina dan PT PLN (Persero) dikutip dari Youtube Setpres, Senin, 22 November 2021.

Jokowi menjelaskan bahwa proyek kilang GRR Tuban memiliki nilai investasi mencapai Rp168 triliun. Sayangnya, saat ini baru dibangun tidak lebih dari 5%, atau baru menghabiskan dana sebesar Rp5,8 triliun.

Sementara itu, investasi pabrik petrokimia di Tuban juga menelan investasi US$3,8 miliar setara Rp54,15 triliun (asumsi kurs Rp14.250 per dolar Amerika Serikat). Total investasi kedua proyek tersebut mencapai Rp222,15 triiliun.

Proyek petrokimia Tuban mulai dikerjakan sejak 1997 tetapi berhenti di tengah jalan. Dua tahun lalu, Jokowi menginginkan agar pabrik ini dihidupkan.

Menurut dia, Pertamina bakal memproduksi bahan bakar minyak (BBM) hingga berbagai produk dasar petrokimia dari pabrik ini.

Dengan adanya pabrik tersebut, negara bisa menghemat devisa hingga Rp56 triliun serta menekan defisit transaksi berjalan serta meningkatkan neraca perdagangan.

"Ini sudah bertahun-tahun, belum jalan-jalan juga. Sejak saya dilantik di 2014 saya langsung ke TPPI karena saya tahu barang ini kalau bisa jalan, ini bisa menyelesaikan banyak hal. Ini barang subtitusi impor ada di situ semuanya. Turunannya banyak sekali yang petrokimia ada di situ," terang Jokowi.

Karena itu, Kepala Negara menginginkan agar Pertamina bagun dari tidurnya, keluar dari zona nyaman, untuk membuat lompatan yang bisa berkontribusi terhadap negara.

"Problemnya comfort zone, zona nyaman itu yang ingin kita hilangkan, zona rutinitas itu yang ingin kita hilangkan," katanya.

Pernah Bentak Dirut Pertamina

Dia menceritakan bahwa pernah membentak Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati ketika menceritakan mengenai pembangunan pabrik petrokimia yang tidak mengalami kemajuan berarti.

"Waktu Bu Dirut saya bentak karena memang benar. Diceritakan hal yang sama gitu. Saya nggak mau lagi dengar cerita itu lagi. Saya sudah dengar dari dirut-dirut sebelumnya. Progresnya saya ikuti," tandas Jokowi.

Dia pun mendesak Pertamina segera menyelesaikan proyek tersebut sebagaimana telah dikonsepkan dalam waktu tiga tahun.

Dengan kehadiran pabrik petrokimia di Tuban, Jokowi optimistis bahwa defisit perdagangan bisa positif dan tumbuh karena impor bahan baku petrokimian, BBM dan produk lainnya tersedia di Tuban.

"Karena barang ini jadi yang hilang itu banyak banget, impor-impor bisa hilang semuanya, terutama yang berkaitan dengan petrokimia," ungkapnya.*

Berita Terkait