Sambut Era Kendaraan Listrik (Serial 1): Indonesia Mulai Bangun Ekosistem EV di dalam Negeri

22 September 2022 15:03 WIB

Penulis: Feby Dwi Andrian

Editor: Laila Ramdhini

Kendaraan Listrik (https://ik.imagekit.io/tk6ir0e7mng/uploads/2020/11/Hyundai.jpg?tr=w-995)

JAKARTA - Indonesia siap memasuki era kendaraan listrik. Hal ini dipertegas dengan kematangan membangun ekosistem electric vehicle (EV) di dalam negeri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan peraturan tentang kendaraan listrik ini didukung oleh Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) untuk Transportasi Jalan.

"Prioritas ini ada dalam rencana pengembangan industri nasional (RIPIN) pada periode 2020-2035," ujar Agus Gumiwang pada Kamis, 22 September 2022.

Ia menambahkan pengembangan kendaraan listrik tersebut juga meliputi seluruh komponen utamanya seperti baterai, motor listrik, dan inverter.

Kemudian, ia memaparkan, saat ini pemerintah telah menetapkan peta jalan (road map) pengembangan industri Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) lewat Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 27 Tahun 2020 tentang Spesifikasi Teknis, Roadmap EV dan Perhitungan Tingkat Kandungan Lokal Dalam Negeri (TKDN).

Regulasi tersebut berfungsi sebagai petunjuk atau penjelasan bagi stakeholders industri otomotif terkait strategi, kebijakan, dan program dalam rangka mencapai target Indonesia sebagai basis produksi dan ekspor hub kendaraan.

"Untuk menciptakan ekosistem dalam pengembangan kendaraan listrik, diperlukan keterlibatan dari para pemangku kepentingan yang meliputi industri otomotif, produsen baterai, dan konsumen," tambah Agus.

Saat ini, pemerintah mempercepat transformasi industri kendaraan bermotor menuju teknologi rendah emisi dan ramah lingkungan melalui penerbitan program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 36 Tahun 2021.

Salah satunya yakni mengatur mengenai kendaraan hybrid yang terbukti bisa menghemat konsumsi bahan bakar sebesar 49%.

Selain itu, target yang ingin dicapai dalam penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 74/2022, bahwa pemerintah ingin mengembangkan kendaraan yang ramah lingkungan yang dicapai melalui peningkatan investasi kendaraan elektrifikasi.

Kendati demikian, dalam rangka mendukung upaya tersebut, pemerintah juga akan mengembangkan ekosistem kendaraan ramah lingkungan. Dalam hal ini dilakukan dengan pengembangan ekosistem hulu ke hilir kendaraan listrik mulai dari menarik investasi bahan baku baterai, charging system, sampai pengolahan limbah baterai bekas.

Selain Kementerian Perindustrian, kementerian lain juga telah mengeluarkan regulasi untuk mempercepat hadirnya KBLBB di Indonesia sebagai tindak lanjut dari Perpres Nomor 55 Tahun 2019. Seperti regulasi insentif bagi konsumen, insentif bagi produsen, maupun insentif untuk kegiatan research, development, and design.

Insentif tersebut berupa Tax Holiday, Tax Allowance, Super Tax Deduction, atau insentif lain yang tentunya dapat mendorong pengembangan KBLBB di Indonesia.

"Pemerintah juga berupaya meningkatkan industri hilirisasi dengan cara menarik investasi industri untuk tiga komponen utama KBLBB yaitu baterai, motor listrik, dan PCU/inverter," ucap Agus.

Ia melanjutkan saat ini telah ada industri hilir yang mampu memproduksi baterai cell lithium ion dengan izin kapasitas produksi mencapai 25 juta butir cell atau setara dengan 256 MWh/tahun.

Kemudian, saat ini telah dibentuk konsorsium di Kementerian BUMN yang memiliki konsep Integrated Battery Industri di Indonesia, mulai dari tahap pertambangan hingga produksi battery cell dan battery pack di Indonesia.  

Sebagai informasi, saat ini pemerintah menargetkan produksi BEV pada tahun 2030 dapat mencapai 600 ribu unit untuk roda 4 atau lebih, serta 2,45 juta unit untuk roda 2.

Pemerintah juga mengharapkan bahwa kendaraan listrik mampu menurunkan emisi CO2 sebesar 2,7 juta ton untuk roda 4 atau lebih dan sebesar 1,1 juta ton untuk roda 2.

Guna mempercepat penggunaan kendaraan listrik di dalam negeri, pemerintah akan menetapkan peraturan tentang peta jalan pembelian kendaraan listrik di instansi pemerintahan.

Dalam peta jalan yang dirancang hingga tahun 2030 itu, ada pembelian kendaraan listrik untuk roda 4 mencapai 132.983 unit, sedangkan untuk kendaraan listrik roda 2 akan mencapai 398.530 unit.

Peran BUMN

Di tengah melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) secara global, berbagai cara diambil untuk melindungi daya beli masyarakat.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir belum lama ini mengeluarkan surat berisi percepatan program kendaraan listrik di lingkungan BUMN.

"Saya mengajak kepada BUMN-BUMN untuk mengalokasikan sumber daya di lingkungan grup perusahaan, seperti penyediaan anggaran untuk mendukung percepatan pelaksanaan kendaraan listrik," kata Erick Thohir, beberapa waktu lalu.

Erick sejauh ini sudah menugaskan PT Perusahaan Listrik Negara PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero) agar bersinergi dengan BUMN lainnya untuk menyiapkan infrastruktur pendukung Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) pada sektor-sektor yang dikelola BUMN.

Kemudian, Erick juga meminta BUMN sektor perbankan memberikan dukungan kemudahan pembiayaan bagi masyarakat untuk membeli kendaraan listrik, baik roda dua maupun roda empat.

Sekadar informasi, kendaraan listrik jauh lebih hemat dibandingkan dengan kendaraan berbasis BBM. Misal motor listrik, setiap 1 kWh baterai dapat menempuh jarak sekitar 40-60 km, tergantung kondisi jalan.

Sedangkan motor BBM untuk 1 liter dengan asumsi menempuh jarak yang sama, 40-60 km. Adapun harga 1 kWh sekitar Rp1.700 s.d Rp2.000, sedangkan 1 liter pertalite terbaru harganya Rp10.000 sehingga biaya pemakaian motor listrik hanya seperlima dari motor BBM.

Peran Swasta

Selaras dengan misi pemerintah Indonesia untuk menekan pemakaian kendaraan BBM, Electrum, usaha patungan antara Gojek dan TBS Energi Utama telah menandatangani nota Kesepahaman (MoU) dengan Gogoro, perusahaan teknologi global terdepan di ekosistem baterai swap yang mendukung mobilitas perkotaan secara berkelanjutan.

Melalui MoU tersebut, Electrum dan Gogoro akan bekerja sama memperkuat pengembangan ekosistem kendaraan listrik (EV) di Indonesia khususnya pada kendaraan roda dua dan solusi baterai yang efisien.

Hingga saat ini, Gogoro telah mengalami pertumbuhan yang pesat dengan berbagai uji coba di Taiwan dan telah memiliki lebih dari 450.000 pengendara, lebih dari 10.000 stasiun pertukaran baterai di 2.300 lokasi, dan lebih dari 250 juta baterai swap.

Investasi Asing

Kendaraan listrik memang tengah menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Sejumlah nama besar di industri otomotif telah menyampaikan komitmen untuk menanamkan investasi guna menunjang rencana pengembangan kendaraan listrik di Indonesia.

Vice Chairman of the Board of Directors of Toyota Motor Corporation Shigeru Hayakawa menyampaikan  Toyota Motor Company berencana menggelontorkan invesatasi sebesar Rp27,1 triliun di Indonesia.

Menurut Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azzan, investasi itu akan diwujudkan sepanjang tahun 2022-2026 untuk sejumlah keperluan, salah satunya untuk pengembangan kendaraan listrik.

Namun, Bob tidak merinci kendaraan listrik tipe apa yang ingin Toyota kembangkan lewat investasi tersebut.

Selain Toyota, ada juga Mitsubishi Motors Corporation (MMC) yang berencana membenamkan investasi hingga Rp10 triliun di Indonesia pada 2022 hingga 2025 mendatang.

Menurut CEO Mitsubishi Motors Corporation (MMC), Takao Kato, perusahaan akan memproduksi model mobil jenis xEV yang terdiri dari model Xpander dan Pajero Sport setelah tahun 2023 nanti. Selain itu, MMC juga akan memproduksi dua model kendaraan baru electric vehicle (EV) mulai 2024.

Tak hanya mengeluarkan model baru, MMC juga akan mendiversifikasi produknya dengan mengeluarkan kendaraan dengan jenis Hybrid Electric Vehicle (HEV) atau Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), serta Battery Electric Vehicle (BEV) untuk mendukung program pemerintah Indonesia mencapai carbon neutral di 2060 mendatang.

Toyota dan Mitsubishi kian menambah ramai daftar pabrikan yang membenamkan investasinya di industri kendaraan listrik Indonesia. Setelah sebelumnya ada Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution yang telah memulai pembangunan pabrik sel baterai kendaraan listrik di Karawang New Industry Cuty pada September 2021. 

Berita Terkait