Salim Ivomas Milik Konglomerat Anthoni Salim Kini Berbalik Laba Rp219 Miliar

13 Agustus 2021 09:29 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Sukirno

Ilustrasi perkebunan kelapa sawit. / Pixabay

JAKARTA – Perusahaan sawit PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) berhasil mencatatkan kinerja positif pada semester I-2021. Pendapatan yang meningkat buat perusahaan di bawah konglomerasi Grup Salim milik Anthoni Salim ini berbalik laba dari sebelumnya rugi pada semester I-2020.

Mengutip laporan keuangan interim di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat, 13 Agustus 2021, pendapatan SIMP meningkat 30,3% menjadi Rp8,96 triliun pada semester I-2021. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, SIMP mencatat pendapatan sebesar Rp6,87 triliun.

“Pada 1H2021, Grup SIMP meraih kinerja keuangan yang positif seiring kenaikan harga jual rata-rata produk sawit dan produk minyak & lemak nabati (EOF), kenaikan volume penjualan EOF serta upaya-upaya kami dalam pengendalian biaya dan efisiensi,” ujar Direktur Utama Grup SIMP Mark Wakeford dalam siaran pers, Jumat, 13 Agustus 2021.

SIMP mencatatkan peningkatan laba kotor sebesar 109% menjadi Rp2,06 triliun pada semester I-2021 ini. Laba usaha pun tercatat meroket 500% menjadi Rp1,13 triliun dan EBITDA tercatat sebesar Rp1,83 triliun, melonjak 89% dibanding semester I-2020.

Akhirnya, SIMP pun berhasil mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp219 miliar pada enam bulan pertama 2021. Catatan ini berbanding terbalik dengan semester I-2020 ketika SIMP merugi Rp301 miliar.

Pada semester I-2021, produksi tandan buah segar (TBS) inti SIMP sebenarnya turun 3% menjadi Rp1,36 juta ton jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Total produksi CPO juga turun 1% menjadi 345.000 ton. 

Sejalan, volume penjualan CPO juga turun 1% menjadi 343.000 ton dan penjualan produk inti sawit (palm kernel/PK) turun 3% jadi 84.000 ton.

Alasan di balik meningkatnya hasil penjualan SIMP adalah naiknya harga jual rata-rata produk sawit dan produk EOF serta kenaikan volume penjualan produk EOF. Harga jual rata-rata CPO dan PK juga meningkat masing 26% dan 62%. 

Berita Terkait