Saham Teknologi, Utang Negara Berkembang Menghasilkan Arus Masuk pada Taruhan “Stagflasi”

14 September 2021 07:00 WIB

Penulis: Fadel Surur

Editor: Rizky C. Septania

Ilustrasi perdagangan saham di bursa Wall Street Amerika Serikat / Reuters

LONDON - Investor bergegas untuk meraup utang pasar negara berkembang dan saham teknlogi dalam seminggu. Hal ini disampaikan oleh Sekuritas Bank of America (BofA) . Hal ini diprediksi bakal dilakukan hingga rabu. 

Dalam catatan mingguannya Sekutitas BofA mengatakan bahwa dengan klien swasta mereka meningkatkan alokasi ekuitas mereka ke rekor tertinggi.

Berdasarkan temuan data BofA   dari Emerging Portfolio Fund Research, Dana ekuitas menarik US$12,7 miliar, sementara dana obligasi menarik US$12,6 miliar. Uang tunai juga secara mengejutkan diminati dengan arus masuk tertinggi dalam lima minggu di US$15,2 miliar.

Pewalian investasi real estate, yang dipandang memberikan pengembalian yang tinggi namun berkelanjutan, diuntungkan dari keseluruhan gambaran ekonomi makro yang ditandai dengan pertumbuhan lambat dan inflasi yang meningkat, menikmati arus masuk terbasar dalam 2,5 tahun dengan US$1,8 miliar.

Meskipun klien swasta meningkatkan alokasi ekuitas mereka ke rekor tertinggi yaitu 65,3% dengan mengorbankan obligasi dan uang tunai, alokasi aset mereka lebih condong ke pinjaman bank, sekuritas yang dilindungi inflasi dan saham utilitas. 

Saham keuangan terpukul oleh arus keluar sekitar US$2 miliar, dan klien menarik US$200 juta dari emas.

“Latar belakang makro adalah inflasi yang lebih tinggi, bank sentral yang tidak berpihak pada pasar, pertumbuhan lemah yang berarti stagflasi,” kata analis yang dipimpin oleh Michael Hartnett di bank dalam sebuah catatan.

BofA mengatakan banjir uang bank sentral murah yang tumpah di pasar uang akan melambat. Diperkirakan pembelian obligasi oleh bank sentral global turun menjadi US$0,3 triliun pada tahun 2022, sebagian kecil dari US$2,3 triliun pada tahun ini.

Berita Terkait