Saham Stock Split BBCA Langsung Melejit ke Rp8.250 Selembar

13 Oktober 2021 11:01 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Sukirno

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja. / Facebook @BankBCA

JAKARTA - Saham hasil stock split PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) langsung melejit pada perdagangan perdana di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu, 13 Oktober 2021.

Saham BBCA menyentuh harga tertinggi Rp8.250 per lembar. Posisi itu melejit 11,48% dari harga pembukaan saham hasil stock split Rp7.400 per lembar. Hingga pukul 10.00 WIB, saham BBCA masih menanjak 3,1% ke level Rp7.550 per lembar dengan rerata harga Rp7.658 per lembar.

Emiten perbankan swasta milik konglomerat keluarga Hartono itu memecah nilai nominal saham atau stock split mulai hari ini. Analis memprediksi aksi korporasi yang ditempuh emiten bersandi saham BBCA ini membuat harga saham BBCA menjadi lebih atraktif.

Saham BBCA dipecah dengan rasio 1:5 yang membuat nilai nominal terpangkas dari Rp62,5 menjadi Rp12,5 per lembar. Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki menyebut memprediksi awal perdagangan harga saham baru BBCA akan cenderung konsolidasi.

“Cenderung lebih sideways atau konsolidasi ketika diperdagangkan dengan harga baru nya,” ucap Yaki kepada TrenAsia.com, Rabu, 13 Oktober 2021.

Selain harga saham yang lebih terjangkau, kinerja industri perbankan yang semakin menunjukan pemulihan semakin membuat harga saham baru BBCA lebih menarik. seperti diketahui, intermediasi perbankan perlahan tapi pasti menunjukan pemulihan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merekam penyaluran kredit sudah berada di zona positif sejak  Juni 2021 sebesar 0,5% year on year (yoy). Pertumbuhan itu berlanjut di Juli sebesar 0,5% dan Agustus 1,16% yoy.

Hal ini turut ditopang oleh kinerja bisnis BCA yang stabil. Per Agustus 2021,  penyaluran kredit BCA berada di atas industri, yakni 2,95%. Emiten bersandi BBCA ini mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp587,15 triliun. 

“Saham-saham yang akan stock split kebanyakan akan lebih menarik dibandingkan setelah stock split,” ungkap Yaki.

Sementara dalam laporan keuangan semester I-2021, BCA diketahui masih memiliki likuiditas yang kokoh untuk memacu kredit. Hal ini tercermin dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy ratio/CAR) tercatat sebesar 25,3%, lebih tinggi dari ketentuan regulator. Serta kondisi likuiditas yang memadai dengan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 62,4%. 

Kualitas aset yang tampak dari Non Performing Loan (NPL) milik BCA juga terjaga di level  2,4% atau berada di bawah rata-rata industri sebesar 3,24% pada Juni 2021.

Rasio return on asset (ROA) tercatat sebesar 3,1%, dan rasio return on equity (ROE) sebesar 16,6%. Dari segi profitabilitas, laba bersih BCA pada semester I-2021 ini mengalami pertumbuhan double digit 18,%.

Laba bersih BBCA merangkak naik dari Rp12,24 triliun pada semester I-2020 menjadi Rp14,5 triliun pada semester I-2021.Pencapaian tersebut didukung oleh pemulihan nilai bisnis dan frekuensi transaksi nasabah pada enam bulan pertama tahun ini, sejalan dengan membaiknya aktivitas perekonomian.

BCA membukukan pertumbuhan positif pada pendapatan bunga bersih sebesar 3,8% yoy menjadi Rp28,3 triliun pada semester I-2021. Di sisi lain, pendapatan selain bunga menurun tipis 1,2% yoy menjadi Rp10,2 triliun. 

Pendapatan fee dan komisi naik 7,5% yoy, mencapai level yang sudah lebih tinggi dibandingkan level pra-pandemi. Secara total, pendapatan operasional tercatat sebesar Rp38,5 triliun atau naik 2,4% dari tahun lalu.

Berita Terkait