Saham Emiten Tambang Emas Kompak Naik Saat IHSG Anjlok, Apa Penyebabnya?

14 Februari 2022 20:00 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Rizky C. Septania

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hingga 5% pada Senin, 30 Maret 2020 pukul 10.20 waktu JATS sehingga perdagangan saham dibekukan sementara atau trading halt. / Pixabay

JAKARTA – Sejumlah saham emiten tambang emas mengalami penguatan di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi yang cukup dalam pada sesi perdagangan Senin, 14 Februari 2021.

Hari ini, IHSG bergerak negatif sejak awal sesi pembukaan dan ditutup melemah 1,19% menuju level 6.734,49. Dibalik itu, setidaknya terdapat enam saham emiten tambang emas yang justru menguat signifikan.

Beberapa saham tersebut di antaranya PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang naik 1,39% ke level Rp3.650 per lembar, PT United Tractors Tbk (UNTR) menguat 1,74% menuju harga Rp23.450.

Kemudian, emiten tambang pelat merah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turut terapresiasi sekitar 2,44% ke kisaran Rp1.890 per saham. Lalu, terdapat perusahaan milik Grup Bakrie, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) lompat 3,47% ke harga Rp149 per lembar.

Sementara itu, dua emiten tambang emas lainnya berhasil membukukan peningkatan di atas 5% dalam satu hari ini, yakni PT Medco Energi International Tbk (MEDC) melonjak 6,14% pada harga Rp605, dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) yang naik hingga 7,09% menuju level Rp136 per saham.

Menguatnya saham-saham di atas didorong oleh kenaikan harga emas dunia akhir-akhir ini, disebabkan oleh banyaknya investor yang mencari aset safe heaven di tengah sentimen negatif yang terjadi di pasar.

Melansir Bloomberg, Senin, 14 Februari 2022, salah satu sentimen datang dari kekhawatiran bahwa bank sentral AS, Federal Reserve alias the Fed yang berencana melakukan kenaikan suku bunga sebelum pertemuan bulan Maret 2022 untuk mendiginkan laju inflasi. 

Hal ini menyusul rilis data inflasi AS yang terpantau sangat tinggi pada pekan lalu. Pemerintah Joe Biden mencatat indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) naik 7,5% pada Januari 2022, level tertinggi dalam 40 tahun terakhir.

Sentimen lainnya berasal dari isu ketegangan geopolitik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Ketegangan keduanya memuncak saat militer Rusi mulai meningkatkan aktivitasnya di wilayah perbatasan Ukraina.

Hal ini turut diperparah dengan komentar Gedung Putih yang mengatakan bahwa invasi mungkin akan segera terjadi dan Presiden Vladimir Putin menuduh AS gagal memenuhi tuntutannya. Namun, pihak Rusia telah berulang kali membantah rencananya untuk menyerang negara tetangganya itu.

Berita Terkait