Saham DCI Indonesia Meroket 13.947 Persen Sejak IPO, DCII Lebih Ajaib Dibanding Tesla

17 Juni 2021 04:29 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Awak media beraktivitas dengan latar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, 13 April 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Harga saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) cukup mencuri perhatian pelaku pasar modal. Sebab, saham emiten data center ini telah membumbung belasan ribu persen dalam jangka waktu tak lebih dari enam bulan.

Perseroan tercatat melakukan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) pada 6 Januari 2021 di harga pelaksanaan Rp420 per lembar.

Pada penutupan perdagangan Rabu, 16 Juni 2021, harga saham DCII berada pada level Rp59.000 per lembar atau meroket hingga 13.947% dari harga IPO.

Investor ritel sekaligus Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 1991 – 1996, Hasan Zein Mahmud mengatakan bahwa fenomena tersebut lebih mengagumkan dibandingkan dengan apa yang terjadi dengan saham Tesla.

Ia menyebut, jika investor Amerika Serikat menganggap saham Tesla sebagai “keajaiban” karena harganya naik 160 kali lipat dalam kurun 10 tahun sejak IPO, maka menurutnya saham DCII adalah keajaiban di puncak keajaiban.

“[Saham DCII) naik hampir 150 kali (lipat) dalam kurun waktu enam bulan sejak IPO! Saya belum pernah membaca peristiwa seperti ini selama 45 tahun menjadi pelayan di pasar modal,” ujarnya melalui pesan singkat, Rabu, 16 Juni 2021.

Hasan memang melihat peluang besar dari transformasi ekonomi Indonesia ke arah ekonomi digital. Dalam lingkungan transformasi cepat semacam itu, maka tiap organisasi, terutama unit usaha akan menghadapi pertumbuhan terus menerus dan berkelanjutan.

Dengan begitu, lanjutnya, butuh dukungan pusat data yang mampu menyediakan fasilitas penyimpan informasi dan aplikasi bisnis yang andal, efisien, aman, dan mampu dengan cepat menyesuaikan pelayanan dengan perkembangan bisnis model mereka.

“Tapi berapa besarkah potensi bisnis pusat data beberapa tahun ke depan? Salah satu tulisan yang pernah saya baca memperkirakan nilai bisnis data center hingga 2025 masih berkisar US$4 miliar per tahun,” papar dia.

Berdasarkan catatan tersebut, Hasan menilai fenomena DCII ini merupakan bukti bahwa teknologi yang sedang berkembang akan dilirik oleh banyak pihak. Namun, kata dia, hanya sedikit perusahaan yang akan berkembang menjadi pemimpin, sedangkan sebagian besar akan pergi dari pasar.

Ia juga membandingkan Hyperscale Data Center (HDC) milik DCII dengan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang melakukan toping off pada waktu hampir bersamaan.

Keduanya memiliki sertifikasi tier 3 dan 4. Sementara itu, HDC milik DCII memiliki kapasitas 3.000 rack dan 15 MW. HDC milik TLKM memiliki kapasitas 10.000 rack dan 75 MW. (SKO)

Berita Terkait